Mahasiswa Penerima Beasiswa Ikuti Field Work Training 

FIELD WORK: Mahasiswa saat praktik mengemas kopi di Desa Kemiren, Banyuwangi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mahasiwa merupakan agen of change, katalis perubahan. Ia ditempa untuk memiliki jiwa penggebrak, pengayom, serta pemecah masalah. Tidak jarang, dalam banyak kasus, andil dan peran mahasiswa telah mampu mengurai persoalan di lapangan, baik yang bersifat prinsipal maupun teknis. Senada dengan hal tersebut, Universitas Terbuka yang memiliki model perkuliahan berbasis online, tidak serta-merta meniscayakan praktik berlapangan. Secara berkala, UT Jember telah membekali para mahasiswanya dengan berbagai pelatihan field work. Pada medio pertama tahun 2019 misalnya, dilaksanakan tujuh kegiatan pelatihan bagi mahasiswa penerima beasiswa. Secara teknis, pelatihan terebut tak hanya dilaksanakan di Jember, namun juga di kelompok-kelompok belajar (pokjar) yang menjadi homebase mereka di wilayah kerja UT Jember.

Pada medio kedua 2019 ini, kembali UT Jember menggebyar 7 (tujuh) kegiatan pelatihan mahasiswa, seperti Penangkaran Penyu dan Bakti Sosial (desa Watu Panjang Krucil, Probolinggo), Pengolahan Kopi (desa Kemiren, Banyuwangi), Pembinaan Pembelajaran Bahasa Inggris (Ponpes Saqa, Probolinggo), Praktik Produksi Pertelevisian Milenial (kantor PCNU, Kraksaan), Pembuatan Ecobrick (Pantai Bentar, Probolinggo), dan Pembangunan Perpustakaan Berbasis Automasi Digital (Kampus UNUJA). Topik-topik ini sengaja dipilih karena memuat isu-isu penting, krusial, serta dapat menjadi oase pengetahuan baru bagi mereka. Topik Penangkaran Penyu dan Bakti Sosial, serta Pembuatan Ecobrick, misalnya. Dua topik yang paling beriringan dengan isu global, seperti polusi, perdagangan satwa secara ilegal, sesak sampah di ekosistem laut, jejak-jejak kerusakan alam di sejumlah populasi warga di pulau-pulau kecil terutama di Pasifik, ataupun petani dan nelayan yang merasakan imbas dari ketidakakuratan kalender iklim. Wawasan dan persepektif inilah yang penting didapat bagi para mahasiswa UT Jember, dan diharapkan dapat mereka konversikan dalam bentuk praktik solutif.

Tidak hanya terkait isu global, para mahasiswa UT-Jember juga dilatih untuk peka dalam bermasyarakat. Responsif terhadap isu-isu lokal. Misalnya, melalui topik Pengolahan Kopi Kemiren, kepekaan mahasiswa atas keberagaman rasa kopi lokal dilatih. Para mahasiswa UT-Jember juga berkesempatan mengunjungi lokasi perkampungan orang Osing. Sebuah lokasi yang menghimpun deretan rumah adat Osing. Dalam kesempatan itu, merea diajak untuk mencatat apapun yang perlu diketahui tentang orang Osing. Baik tentang konsep hidup, kultur bertani, simbol warna, keyakinan, dan habitus bertentangga. Agenda-agenda tersebut memuat tujuan penting, yakni menambah dan merangsang kemampuan akademik mereka untuk merelevansikannya dengan Program Studi yang ditempuh, dalam konteks “Pengolahan Kopi”.

Menurut Direktur UT Jember, Prof. Imam, Universitas Terbuka sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang menerapkan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, akan terus berikhtiar mengembangkan upaya-upaya peningkatan kualifikasi, kualitas, dan kompetensi para mahasiwa. Kompetensi tersebut tidak hanya pada bidang akademik, namun juga pada bidang non akademik. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang akan menunjang keilmuannya dalam berkarya di masyarakat. “Mahasiswa UT seperti halnya mahasiswa PT lain, memiliki ruang yang sama untuk bereksistensi dan mengeksplorasi diri sesuai dengan bakat dan minat mereka. Itulah tujuan utama pelatihan ini, dan untuk kali ini kita fokuskan pada pelatihan field work, tandas Imam.

IKLAN

Reporter : Lintang Anis Bena Kinanti

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti