PayLater adalah fasilitas keuangan yang memungkinkan pengguna melakukan pembayaran secara cicilan tanpa kartu kredit. Produk PayLater yang paling sering digunakan bagi anak muda Indonesia saat ini adalah PayLater dari Traveloka. Metode pembayaran ini berlaku untuk hampir seluruh produk yang tersedia di Traveloka.

Metode yang kerap disebut dengan istilah kredit online ini dapat membantu siapa saja yang membutuhkan dana dengan cepat. Setiap pengguna dapat membeli tiket dan produk-produk lainnya tanpa membayar terlebih dulu. Kamu bisa daftar PayLater di sini.

Kemudahan akses dan cakupan penggunaan yang cukup luas untuk mendukung gaya hidup adalah beberapa hal yang menjadikan PayLater begitu digemari saat ini. Pertanyaannya, apakah PayLater benar-benar bisa dijadikan solusi bagi anak muda dalam mengelola keuangan? Ataukah sebaliknya, jebakan baru yang akan membawa pada keterpurukan finansial?

Sebelum memutuskan apakah kamu akan menggunakan PayLater sebagai langkah finansial dalam kehidupanmu, simak dulu penjabaran di bawah ini.

Seberapa Mudah Menggunakan PayLater?

Cara kerja PayLater sebenarnya mirip dengan kartu kredit. Hanya saja, menggunakan PayLater tidak ada keterikatan dengan pihak bank meski tetap saja ada kesepakatan dengan pihak penyedia PayLater, seperti Traveloka. Ada beberapa syarat untuk mendaftar PayLater, yaitu kamu harus masuk dalam kisaran usia antara 21 hingga 70 tahun, merupakan warga Indonesia, dan memiliki KTP yang valid.

Setelah melakukan registrasi melalui aplikasi Traveloka, kamu perlu melalui verifikasi dalam waktu maksimal satu jam kemudian. Jika sudah disetujui, akun kamu bisa langsung digunakan untuk melakukan pembelian dengan nominal transaksi minimal Rp50.000. Waktu pembayaran cicilan pun bisa kamu pilih sesuai dengan opsi yang ada.

Nantinya, kamu harus melakukan pembayaran dari transaksi yang sudah kamu lakukan ini sebelum batas waktu. Metode pembayarannya pun beragam. Misalnya, kami bisa menggunakan transfer bank dan ATM atau virtual account.

Mulai dari pendaftaran yang cepat hingga pembayaran yang mudah adalah kelebihan yang membuat PayLater digemari oleh anak muda. Menariknya lagi, tidak ada biaya tambahan seperti biaya tahunan dan uang muka. Melalui aplikasi Traveloka yang tersedia untuk platform Android dan iOS, kamu bisa membeli produk dan jasa dengan pembayaran yang dilakukan belakangan.

 

PayLater Vs. Kartu Kredit, Apa Bedanya?

Jika dibandingkan, sebenarnya PayLater dan kartu kredit punya keunggulan dan kelemahan masing-masing. Untuk memiliki PayLater, proses pengajuannya cukup mudah dan persyaratannya tidak merepotkan. Penjabaran pada poin sebelum ini sudah menunjukkan betapa mudahnya pendaftaran untuk menggunakan PayLater.

Sementara itu, proses pengajuan kartu kredit tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang dan persyaratan yang banyak sehingga tidak sedikit orang yang ragu-ragu untuk mengajukan kartu kredit. Apalagi, ada berbagai persyaratan, seperti besarnya minimum penghasilan, lama masa kerja, NPWP, dan proses seleksi dari pihak bank. Prosedur-prosedur ini harus dilalui oleh nasabah yang ingin mengajukan kartu kredit.

Perbandingan antara PayLater dan kartu kredit bisa kamu lihat pada tabel di bawah ini.

PayLater Traveloka Kartu Kredit
Limit Pinjaman: Maksimal Rp50 juta Limit Pinjaman: mulai dari Rp3 juta hingga ratusan juta rupiah
Bunga: 2,14—4,78% per bulan Bunga: 2,25%—2,95%.
Tenor: 1—12 bulan Biaya Tahunan: Rp0—jutaan rupiah
Biaya Administrasi: – Biaya Administrasi: –
Denda Keterlambatan: 5% dari sisa utang Denda Keterlambatan: 3% dari jumlah tagihan dibebankan ke bulan berikutnya

 

Sebagaimana layanan pinjaman pada umumnya, tentu ada bunga yang menyertai penggunaan PayLater. Misalnya saja, PayLater yang dihadirkan Traveloka memiliki kisaran nilai bunga yang termasuk ringan, yaitu 2,14 persen hingga 4,78 persen setiap bulannya. Bunga ini berlaku rata selama masa cicilan dan masih bisa diakali dengan beragam promo yang ditawarkan oleh Traveloka.

Minimum total bunga yang menyertai PayLater, apa pun produknya, terbilang cukup tinggi. Selain itu, beberapa pihak penyedia PayLater menawarkan limit yang kecil, hanya Rp1 juta. Meskipun ada penyedia yang menawarkan limit hingga puluhan juta rupiah, suku bunga yang diterapkan akan mengikuti total pinjaman yang diajukan. Dengan kata lain, semakin besar utang, semakin tinggi besaran bunga yang dibebankan.

Dalam hal ini, kartu kredit lebih unggul. Berapa pun pengajuan pinjaman yang diajukan oleh nasabah, asal tidak melebihi limit kartu kredit yang ditetapkan, suku bunga yang ditetapkan tidak akan berubah. Selain itu, keuntungan dari memiliki kartu kredit adalah pengguna akan mendapatkan berbagai promo menarik, point reward, cashback, dan diskon spesial di lebih banyak tempat.

Jika kartu kredit unggul di lebih banyak aspek, lantas apa yang membuat PayLater semakin digemari? Pertanyaan ini sebenarnya sudah terjawab di poin pertama, yaitu kemudahan akses yang dirasakan pengguna, mulai dari pengajuan hingga pembayaran.

Ya, tidak semua orang memiliki kartu kredit, mengingat proses pengajuannya yang membutuhkan prosedural panjang. Kehadiran PayLater pun menjadi sangat membantu orang-orang yang tidak memiliki kartu kredit untuk bertransaksi secara cashless. PayLater juga bisa diandalkan untuk membantu pengguna mengatasi pengeluaran berkat limit kredit yang rata-rata lebih kecil dibandingkan rata-rata limit kartu kredit.

Pahami Risiko Sebelum Menggunakan PayLater

PayLater saat ini tengah menjadi tren baru di kalangan anak muda. Sejumlah perusahaan penyedia PayLater pun berlomba-lomba mempromosikan gaya “beli sekarang, bayar belakangan” untuk segala kebutuhan gaya hidup, mulai dari travel, kuliner, hiburan, dan lain-lain.

Berbagai penawaran menarik dan penggunaan PayLater yang memudahkan konsumen bukan berarti menjadi solusi murni untuk finansial. Meski PayLater bertujuan membantu mereka yang butuh dana cepat, tetap saja ada berbagai risiko yang akan membebani apabila penggunaan PayLater ini diterapkan tanpa perencanaan matang.

Salah satu organisasi global terkemuka yang menyediakan layanan asuransi dan pajak, Grant Thornton, mengungkapkan risiko penggunaan PayLater yang perlu kamu ketahui. Risiko pertama adalah segala kemudahan PayLater akan memberikan dorongan impulsif untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

Kamu bisa terjebak dalam perilaku konsumtif berlebihan sehingga tanpa kamu sadari tagihan membengkak. Apalagi ada biaya-biaya lain yang menyertai penggunaan PayLater. Misalnya saja biaya subscription, biaya cicilan, dan biaya lainnya yang dapat berbeda dari setiap aplikasi.

Dengan banyaknya cicilan yang datang, tentu pengaturan keuangan pribadi yang telah kamu siapkan jadi terganggu. Akibatnya, dana yang disisihkan untuk keperluan tak terduga terpaksa kamu alokasikan untuk membayar tagihan PayLater.

Jika kamu mengalami penunggakan pembayaran, tentu reputasi kreditmu akan menorehkan catatan buruk dalam BI checking. Dampaknya, pengajuanmu di masa mendatang untuk keperluan lain yang sifatnya lebih penting, seperti properti dan kendaraan, memiliki risiko tinggi ditolak.

Satu hal lagi yang menjadi risiko besar dalam penggunaan PayLater adalah potensi adanya peretasan identitas. Ya, bertransaksi via digital tak luput dari bahayanya peretasan yang mengintai. Memang, setiap aplikasi sudah menyiapkan keamanan tingkat tinggi. Namun, tetap saja ada risiko database akun dijebol oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Kemudahan yang Harus Dikelola Secara Bijak

Mengenai PayLater, Alexander Adrianto Tjahyadi, Audit and Assurance Partner Grant Thornton Indonesia, berpendapat bahwa segala hal yang terlihat “mudah” di permukaan belum tentu “mudah” selamanya. Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya bagi pengguna untuk memahami, menelaah, dan menentukan cara bertransaksi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Pada dasarnya, PayLater adalah instrument kredit yang memiliki konsekuensi finansial yang dapat merugikan jika tidak dipergunakan secara bijaksana dan saksama. Pemahaman yang baik mengenai fitur PayLater sangat dibutuhkan agar pengguna terhindar dari jeratan utang atau pun cicilan yang melilit. Jika digunakan dengan hati-hati, fitur pembayaran ini akan mendorong peningkatan inklusi keuangan Indonesia.

Selain memahami PayLater lebih mendalam, akan lebih baik kalau kamu bisa mengelola keuangan yang baik. Jangan mudah diiming-imingi segala kemudahan yang akan menjebakmu dalam lingkaran utang. Untuk mencegahnya, kamu bisa memprioritaskan penggunaan uang tunai untuk membeli sesuatu.

Gunakan PayLater di saat kamu benar-benar terdesak. Atau, pastikan kamu sudah bisa membayar tagihan setiap bulannya saat bertransaksi dengan PayLater. Ingatlah, kalau memang uangmu tidak cukup untuk membeli sesuatu, menabung adalah jalan terbaik.

Dengan kebiasaan menabung, kamu akan terlatih untuk mengelola finansial yang lebih baik ke depannya. Kamu akan memiliki persiapan untuk tahapan kehidupan selanjutnya, seperti berkeluarga atau menikmati masa pensiun. Ya, tidak ada salahnya, kok, kamu menyiapkan dana pensiun selagi muda.

Menggunakan PayLater memang bisa jadi solusi bagi anak muda untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup yang semakin deras. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan yang tidak diiringi dengan sikap bijaksana akan membawa seseorang pada lingkaran utang yang membebani. Nah, apakah kamu termasuk pengguna PayLater? Jangan lupa menabung, ya!

IKLAN