Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember menggelar turnamen sepak bola mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) se-Indonesia pada tanggal 21-28 November. Sebanyak 16 tim berlaga dalam turnamen bertajuk PTKN Football Championship 2019 memperebutkan piala bergilir Menteri Agama. Selain sebagai ajang pengembangan bakat dan minat serta prestasi mahasiswa PTKN, turnamen ini dimaksudkan sebagai wadah silaturrahmi yang dibalut dalam sportivitas, keakraban, keindahan persahabatan, dan kehangatan kehidupan di tengah keberagaman.

Dalam turnamen ini, ada 16 tim yang berlaga antara lain tim dari UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Walisongo Semarang dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ditambah lagi tim dari IAIN Kediri, IHDN Denpasar, IAIN Madura, IAIN Purwokerto, IAIN Ponorogo, IAIN Cirebon, IAIN Kudus, IAIN Surakarta, IAIN Pekalongan dan IAIN Jember sebagai tuan rumah.

Sejak babak penyisihan, civitas akademika IAIN Jember dan masyarakat umum menyaksikan laga yang dipertontonkan oleh masing-masing kesebelasan. Semua tim menunjukkan talenta-talenta hebat. Mereka bermain dengan taktik dan strategi masing-masing yang disiapkan oleh pelatih. Pendukung dari masing-masing kesebelasan setia memberikan yel-yel dukungan. Lapangan sepakbola Imam Nahrawi IAIN Jember selama 7 hari dipenuhi oleh para pendukung yang nampak akrab, hangat, dan penuh dengan persahabatan.

Dalam konteks ini, banyak hal yang sejatinya bisa kita lakukan dalam rangka mempererat persaudaraan, termasuk dalam penyelenggaraan turnamen sepakbola. Olahraga menjadi media bagaimana orang menggapai nilai-nilai kebersamaan, merajut tali persaudaraan, menjungjung sportivitas, dan menghargai pihak lain.

Kaitannya dengan hal ini, Perguruan Tinggi Keagamaan, termasuk didalamnya IAIN Jember, diharapkan menjadi wadah penyemai dan pemantik persaudaraan, kesatuan, nilai-nilai moderasi, penghargaan terhadap orang lain, serta kejujuran dalam setiap hal dan momen apapun. Dari event perdana ini, kita bisa memupuk tali persaudaraan dan silaturrahim untuk menjalin rasa persaudaraan, dan penghormatan terhadap liyan (others). Tidak ada kebencian dan dendam antara kawan dan lawan. Tidak pula ada keretakan yang dihadirkan ke ruang publik. Semuanya saling terbuka dan menghargai. Hal itu semua merupakan nilai-nilai pengejewatahan dari mantra Kementerian Agama untuk membumikan nilai-nilai moderasi beragama dalam setiap nafas kehidupan kita.

Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa kita suguhkan dalam penyelenggaraan turnamen sepakbola dalam konstruk pembumian nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi keagamaan, sebagaimana yang sering disampaikan oleh pihak Kementerian Agama. Pertama, sifat keterbukaan; tidak tertutup akan perbedaan. Dalam konteks ini, salah satu tim (peserta) berasal dari agama yang berbeda yaitu Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar. Namun, sporitivitas dan kehangatan bermain tetap terjaga. Tidak ada segregasi. Tidak pula ada pembedaan perlakuan. Dalam dunia olahraga, termasuk dalam sepakbola, semua agama berbaur tanpa harus menegasikan satu diantara lainnya. Semua pemain menikmati jalannya pertandingan tanpa harus melihat latar belakang agama.

Kedua, dalam PTKN Football Championship 2019, para mahasiswa menyuguhkan permainan dengan mengedepankan nalar dan strategi, bukan emosi. Strategi, aksi, dan taktik menjadi pilihan yang dimainkan oleh masing-masing tim dan berusaha untuk bermain cantik serta sportif. Setiap tim yang tampil menunjukkan sikap dan mental ksatria, jujur dan fair (dalam bermain).

Ketiga, masing-masing tim menyadari batas kemampuan alias menerima kelemahan dan kekurangan serta mengakui kemenangan pihak lawan. Para duta PTKN yang berlaga tidak merasa paling bagus dan berhak untuk menang. Mereka bermain dan bertanding secara fair mengikuti peraturan yang berlaku dan tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Mereka menyadari bahwa dalam setiap kompetisi, ada yang kalah dan ada yang menang. Jiwa ksatria telah menjadi ciri dari mahasiswa PTKN yang berada di bawah Kementerian Agama.

Sekali lagi, kita dapat menguatkan nilai-nilai persatuan dan membangun kohesivitas sosial dalam hal apapun, termasuk dalam turnamen sepakbola. Dalam hemat saya, kompetisi ini telah menyuguhkan permainan yang memanusiakan manusia, bermain penuh keakraban, kejujuran dan menjungjung nilai-nilai persahabatan. Semoga turnamen ini dapat memupuk rasa persaudaraan, menghangatkan tali persaudaraan, dan menguatkan solidaritas kehidupan antar sesama.

*) Prof. Dr. H. Babun Suharto, MM, Guru Besar dan Rektor IAIN Jember

IKLAN