Radikalisme Masuk Lewat Kajian Ormawa

PAPARKAN STATEGI: Dari kiri, Zulfikar PhD, Dr Iwan Taruna, dan Prof Dafik. Tiga Carek Unej itu memaparkan tentang konsep deradikalisasi dan kebijakan kampus dalam dialog publik di Gedung Soetardjo, kemarin (28/11).

JEMBER, RADARJEMBER.ID– Isu radikalisme di Universitas Jember (Unej) terus menghangat. Bahkan secara khusus, tiga Calon Rektor (Carek) Unej, Zulfikar PhD, Dr Iwan Taruna, dan Prof Dafik, memaparkan pandangannya terkait paham radikal itu. Mereka menyampaikannya dalam dialog publik yang memperbincangkan tentang konsep deradikalisasi dan kebijakan kampus.

Sebenarnya, jika menoleh ke belakang, radikalisme di lingkungan Unej bukanlah barang baru. Alumni dan bekas mahasiswa Unej tercatat pernah ada yang ditangkap terkait dugaan terorisme. Misalnya, pada 2012 lalu, alumnus Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) Unej yang juga warga Jember menjadi terduga teroris. Dia ditangkap Densus 88 di Madiun.

Tak hanya itu, bekas mahasiswa drop out (DO) Unej juga ditangkap Densus 88 di Bogor pada tahun yang sama. Sementara baru-baru ini, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Keguruan (FKIP) Unej membuat heboh lantaran asal mencomot gambar kartun yang berkaitan dengan organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Gambar itu dipasang pada poster untuk kepentingan Ormawa HMPSP Biologi Lumba-Lumba.

Isu radikalisme itu kian santer saat mantan Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unej Akhmad Taufiq memaparkan hasil pemetaan radikalisme di Kampus Tegalboto pada Festival HAM 2019 di Jember, baru-baru ini. Dia menyebut, 22% dari 15 ribu mahasiswa Unej terpapar radikalisme. Akibat pernyataan ini, Taufiq dicopot dari jabatannya.

Teriakan keyakinan paham radikal telah masuk ke Unej juga diyakini peserta Dialog Publik Carek Unej yang berlangsung di Gedung Soetardjo, kemarin (28/11). “Yakin apa tidak paham radikal ini sudah masuk kampus?” ucap Iwan Taruna, salah seorang calon rektor, ke seluruh peserta dialog yang sebagian besar adalah mahasiswa tersebut.

Iwan Taruna mengakui, radikalisme sudah dirasakan mahasiswa meski sulit dibuktikan. Dia mengutip hasil riset dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebutkan perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa dan Sulawesi telah terpapar radikalisme.

Kendati demikian, Iwan Taruna menyatakan, radikalisme itu tak selalu berkaitan dengan paham keagaamaan semata. Pada isu lain, radikalisme juga bisa terjadi. Sebab, pada intinya, kata dia, radikalisme adalah melakukan tindakan dengan tanda-tanda kekerasan. “Maaf, seharusnya LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender, Red), narkoba dan liberalisme berlebihan juga harus dibasmi. Jadi, radikalisme jangan hanya berpatokan pada agama,” tuturnya.

Menurut Iwan, radikalisme itu memiliki kecenderungan eksklusif. Sepengetahuannya, pernah ada mahasiswa diajak dosennya mengikuti kajian yang isinya menggerogoti empat pilar kebangsaan. Namun, mahasiswa ini bingung hendak lapor ke mana. Karena itu, Iwan memaparkan, salah satu cara deradikalisasi yang dilakukan adalah membuat posko pengaduan mahasiswa terhadap radikalisme.

“Ciri lain tanda-tanda ada radikalisme adalah kajian yang di luar konteks organisasi. Semisal HMJ, tapi kajiannya di luar keprofesian atau jurusan. Ini berarti ada tanda-tandanya,” paparnya.

Zulfikar PhD, calon rektor yang lain, menyadari kampus adalah tempat empuk untuk menyebarkan paham radikal. Dia menyebut, radikalisme yang masuk ke kampus berjalan perlahan, tapi pasti. Biasanya melalui jalur kajian-kajian di organisasi mahasiswa (ormawa). “Bisa dari kajian atau pengajian. Pematerinya bisa karena diundang atau memang ormawa tersebut berafiliasi dengan paham radikal,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kata dia, ormawa itu harus dibentengi. Lewat ormawa juga, kampus bisa menangkal dan meminimalisasi paham-paham radikal. Lebih lanjut Zulfikar menyatakan, paham radikal itu juga bisa masuk dari rumah susun mahasiswa (rusunawa) yang rata-rata adalah mahasiswa baru.

Rusunawa tersebut, kata dia, jadi sasaran empuk membuat kajian-kajian. Karena itu, menurut Zulfikar, sebelum paham radikal itu masuk, ormawa yang mengedepankan keutuhan NKRI harus masuk terlebih dahulu.

Calon rektor berikutnya, Prof Dafik mengatakan, pada 2017 lalu paham radikal begitu di-blow up. Seolah-olah ada kelompok yang menyebar. Kata dia, salah satu ciri orang yang sudah terpapar radikalisme adalah mudah berburuk sangka, mengafirkan orang lain, merasa organisasi dan pikirannya paling benar, serta mengutamakan performance saat beribadah.

Tak hanya itu, Dafik menambahkan, ciri lainnya, mereka cenderung tertutup dengan masyarakat atau eksklusif dan tidak mau mengikuti agenda pemerintahan. Oleh karenanya, menurut dia, integrasi pendidikan karakter menjadi salah satu cara menangkis radikalisme di kampus. “Upaya menangkal radikalisme juga dapat dilakukan secara preventif dan kuratif,” tambahnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih