Bobol ATM hingga Rp 1,7 Miliar

HADIRKAN EMPAT SAKSI: Sidang kasus pembobolan ATM yang mencapai Rp 1,7 miliar digelar di PN Jember dengan agenda pemeriksaan empat saksi dari JPU Kejari Jember, kemarin (26/11).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin (26/11), Pengadilan Negeri (PN) Jember menggelar sidang kasus yang cukup menyita perhatian. Cokro Prayitno, pria asal Gianyar, Bali, didakwa membobol mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dari dua bank berbeda. Nilai kerugiannya cukup fantastis, mencapai Rp 1,7 miliar.

Sebelum ini, publik di Jember tak mengetahui jika ada kasus tersebut. Sebab, terdakwa diringkus oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri di kediaman istrinya di Majalengka, Jawa Barat, pada 25 Juli lalu. Meski domisili terdakwa di Gianyar, namun dia melancarkan aksinya di salah satu mesin ATM di Kecamatan Tanggul. Oleh karena itu, kasus limpahan dari Kejaksaan Agung tersebut disidangkan sesuai dengan lokasi kejahatan yang dilakukan, yakni di Jember.

Terdakwa membobol rekening giro salah satu bank BUMN dan salah satu bank swasta sejak Maret hingga Mei lalu. Dalam dakwaan, terdakwa melancarkan aksinya dengan melakukan peretasan mengeksplorasi mesin-mesin ATM. Selama rentang waktu tiga bulan itu, terdakwa melakukan di salah satu mesin ATM yang ada di Kecamatan Ambulu.

Modusnya, Cokro sudah menyiapkan kartu ATM yang telah dimodifikasi sehingga dapat membobol sistem perbankan. Setelah berhasil membobol sistem, dia menguras seluruh uang yang tersimpan. Terdakwa juga mencocokkan setiap mesin ATM sehingga dapat diakses secara ilegal.

Terdakwa juga pernah mencoba membobol mesin ATM di kawasan kota Jember, namun ditolak oleh sistem. Terdakwa baru berhasil membobol mesin ATM di Ambulu, dan kejahatan itu diulangi berkali-kali hingga penarikan yang dilakukan mencapai Rp 1,7 miliar.

Kejahatan akses tanpa izin yang dilakukannya ini awalnya berlatar belakang kebutuhan ekonomi. Namun, dalam perkembangannya, uang tersebut digunakan sebagai modal usaha untuk perusahaan miliknya, PT Kalimas Bintang Pratama. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat pembersih rumah tangga.

Selain itu, terdakwa juga menggunakan hasil kejahatannya untuk membeli beberapa mobil mewah hingga menyewa gudang. Di antaranya membeli produk sabun untuk perusahaannya senilai Rp 800 juta, membeli mobil Toyota Fortuner, Daihatsu Grand Max, sampai variasi mobil. Bahkan, digunakan untuk keperluan sang istri sebesar Rp 43 juta, serta kebutuhan sehari-hari sebesar Rp 236 juta.

Sidang di PN, kemarin (26/11), memasuki agenda sidang kedua pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Triyono. Dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Slamet Budiono ini, terdakwa didampingi satu pengacaranya, M. Wildan Prayoga. Empat saksi dihadirkan oleh JPU dari pihak bank. Tiga di antaranya M. Firdaus, Andrie Juniarsa, dan Yanuardi Fajri, karyawan bank kantor pusat Jakarta, sedangkan Ni Made, karyawan bank cabang Gianyar. “Memang ditemukan 200 transaksi. Yang saat itu saldonya abnormal di cabang Gianyar. Saldonya minus tapi bisa melakukan transaksi berkali-kali sampai Rp 1,7 miliar,” tutur Firdaus saat memberikan keterangan.

Selain Firdaus, Yanuardi juga mengaku pihaknya belum mengetahui sistem yang dikerjakan terdakwa, sehingga dapat membobol dana miliaran tersebut. “Dalam rekam jejak transaksi terdakwa, awalnya coba-coba transaksi sebesar Rp 300 ribu dengan saldo Rp 2 ribu saja. Lama-kelamaan sukses dan semakin besar nominalnya,” jelasnya.

Andrie juga menjelaskan, banyak pihak merasa dirugikan atas perbuatan Cokro. Sebab, dana itu memang menjadi milik pihak bank yang amblas diembat Cokro. “Sudah jelas dirugikan. Aliran dana itu dipecah-pecah oleh terdakwa ke beberapa rekening, dengan nominal berbeda-beda,” ucapnya.

Dalam fakta persidangan kemarin, juga dijelaskan bahwa terdakwa mampu membobol miliaran rupiah hanya dengan mesin ATM saja. Tanpa bantuan alat lainnya. Saat hakim ketua sedikit memberi pertanyaan kepada terdakwa, apakah ada bantuan alat lain yang dipakainya, terdakwa menjawab dengan cukup enteng. “Tidak pakai alat tambahan. Ya coba-coba saja, waktu itu memang beruntung saja,” kata Cokro.

Sementara itu, seusai persidangan, M. Wildan menerangkan, kliennya belum terbukti melakukan tindak pidana ITE. “Pada intinya terdakwa ini tidak melakukan tindak pidana ITE. Hanya kesalahan sistem internal saja. Saat saya tanya kepada saksi apakah berkesimpulan ini kejahatan ITE atau salah sistem, mereka belum bisa memastikan,” ucap Wildan.

Namun, Wildan juga mengakui bahwa kliennya dapat menarik uang dengan saldo minus. “Yang diambil oleh terdakwa ini adalah dana pihak ketiga dari bank tersebut. Tidak ada dana dari nasabah lainnya,” imbuh Wildan.

Sidang siang itu akhirnya ditunda pada Tanggal 3 Desember mendatang di PN Jember, dengan agenda pemeriksaan saksi dari JPU. Rencananya, JPU bakal mendatangkan lima orang saksi yang menerima aliran transfer dari Cokro. Atas perbuatannya, Cokro dijerat pasal berlapis. Yakni Pasal 49 junto Pasal 33 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, serta Pasal 3,4,5 dan 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang junto Pasal 64 KUHP. Ancaman hukumannya mencapai lebih dari 15 tahun penjara.

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti