Bertahan Tiga Tahun Belajar, Kelas SDN Jamintoro 03 Sumberbaru Rusak

Eternit Pernah Ambrol, Dinding Mulai Retak

AMBROL: Sejumlah siswa melintas di teras depan ruang kelas 4 dan kelas 3 SDN Jamintoro 03. Bagian eternitnya terlihat ambrol karena kayunya sudah keropos.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dunia pendidikan selalu memunculkan ironi. Besarnya anggaran yang digelontorkan tak selalu berbanding lurus dengan kondisi di lapangan. Masih banyak ditemui sejumlah sekolah yang kondisinya terlihat memprihatinkan. Seperti gedung yang mulai rusak, serta tak tersedianya sarana belajar yang memadai.

Kondisi seperti itu juga terjadi di kawasan perbatasan Jember-Lumajang. Tiga ruang kelas SDN Jamintoro 03, Kecamatan Sumberbaru, tampak memprihatinkan. Selain tiga ruangan itu disekat menjadi lima bagian untuk ditempati belajar siswa, bangunannya juga mengalami kerusakan. Beberapa bangunannya terlihat mulai lapuk.

Letak SDN Jamintoro 03 memang cukup jauh. Jaraknya dari pusat Kota Jember sekitar 55 km. Bahkan, untuk sampai ke sekolah tersebut, wartawan Jawa Pos Radar Jember harus melewati Kecamatan Jatiroto, Lumajang, karena lebih dekat dibanding melalui jalur desa yang berada di wilayah Jember.

Terlebih, kondisi jalan ke lokasi sekolah juga rusak, naik turun, dan cukup terjal, sehingga harus ekstra hati-hati. Apalagi, jalan itu hanya bisa dilewati motor. Jika melalui jalur lain, yakni lewat jalan desa, jaraknya lebih jauh. Jembatan yang melintasi sungai di desa setempat juga rusak, sehingga harus menyeberangi sungai.

Lokasi sekolah yang terpencil dan berada di perbatasan Jember-Lumajang, disebut menjadi faktor yang membuat tempat pendidikan tersebut kurang mendapat perhatian. Informasi yang diperoleh, sejak dibangun beberapa tahun lalu, bangunan SDN Jamintoro 03 ini hanya ada tiga ruang kelas plus satu ruang guru. Bangunan itu temboknya terlihat sudah retak-retak. Sementara itu, di bagian teras depan ruang kelas 4 dan kelas 3, eternitnya ambrol karena faktor usia.

Jumlah siswanya cukup sedikit dibading sekolah-sekolah lain. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, hanya berjumlah 47 siswa. Paling memprihatinkan adalah kelas 1 dan kelas 2 yang siswanya digabung menjadi satu kelas. Sebab, jumlah siswa kelas 2 hanya satu anak. Sedangkan siswa kelas 1 ada tujuh anak.

Sementara itu, kelas 3 dan kelas 4, yang ruang kelasnya hanya disekat menggunakan tripleks, kondisinya terlihat rapuh. Di beberapa sudut ruangan sudah dipasangi tiang penyangga. Sebab, bagian kuda-kuda terlepas dari tembok. Jika tak segera diperbaiki, sewaktu-waktu bangunan itu dikhawatirkan ambruk. “Sehingga untuk mencegah agar tidak ambruk, akhirnya dipasang dua penyangga dari kayu jati,” ujar Murtiningsih, salah seorang guru di sekolah setempat.

Guru kelas 3 ini mengaku cemas setiap mengajar di kelas. Atap kelas yang ambrol dan dinding retak membuat guru honorer ini khawatir dengan keselamatan anak didiknya. Sebab, beberapa kali, saat proses belajar mengajar berlangsung, eternit atap kelasnya ambrol.

“Beruntung reruntuhan eternit itu tidak sampai melukai siswa,” katanya.
Saat turun hujan, Murtiningsih dan beberapa guru lain membawa anak didiknya keluar kelas dan menempati teras sekolah. Meski saat hujan tidak bocor, namun lapuknya kondisi bangunan membuat mereka takut jika saat kegiatan belajar mengajar berlangsung atapnya runtuh hingga melukai siswa.

“Kalau hujan, kami khawatir ruang kelas tiba-tiba ambrol,” ujarnya.

Diah Dwi Ratih Anggraeni, guru kelas V yang juga mengajar di kelas 1 dan 2, menyatakan hal serupa. Dirinya merasa khawatir dengan kondisi ruang kelas 1 yang sekaligus ditempati kelas 2 itu. “Karena plafonnya sudah ambrol dan hanya beberapa eternit saja yang masih menempel,” tuturnya.
Meski sebenarnya tiga ruang kelas itu tak layak ditempati, namun para guru mengaku terpaksa masih menempati bangunan itu karena tidak ada ruang kelas lain. Bahkan, di belakang bangku yang diduduki siswa, terlihat banyak tumpukan kursi dan bangku yang rusak.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Kepala Sekolah SDN Jamintoro 03 Dimyati juga mengaku khawatir dengan keselamatan siswanya. Menurutnya, dari tiga ruang kelas yang ditempati, hanya bangunan kelas 6 yang masih layak. Sedangkan sisanya, diakui Dimyati, sudah tidak layak digunakan kegiatan belajar mengajar.

Dimyati mendaku tak bisa berbuat banyak. Walau sebenarnya pihak sekolah sudah mengajukan proposal beberapa kali ke dinas pendidikan. Menurut dia, pengajuan itu pernah direspons ketika beberapa utusan dinas pendidikan datang ke sekolah. Mereka menginformasikan bahwa tak lama lagi, sekolah itu akan dibangun. Namun hingga sekarang, rencana rehab tersebut belum juga terealisasi. “Sejak saya masuk menjadi kepala sekolah tiga tahun lalu, kondisi tiga ruang kelas memang sudah rusak parah,” ujarnya.

Dia pun berharap tak terjadi petaka hingga bangunan itu selesai direhab. Tapi seandainya sekolah itu ambruk, dirinya berdoa semoga peristiwanya terjadi malam hari atau ketika ruang kelas dalam keadaan kosong. Agar tak sampai memakan korban siswa atau guru di sekolah tersebut.

“Semoga dinas pendidikan bisa memprioritaskan sekolah yang ada di pinggiran,” pungkas Dimyati.

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih