AKHIR-akhir ini, jagat dunia maya kita “diguncangkan” dengan kabar dari putri pertama Ir. Soekarno yaitu Ibu Sukmawati terkait pembandingan jasa antara mendiang ayahnya dan Nabi Muhammad, dan ucapannya yang mempertanyakan lebih bagus mana antara Alquran dan Pancasila.

Polisi menerima dua laporan berbeda akan hal ini. Pertama, laporan di Polda Metro Jaya. Yang kedua, adalah laporan di Bareskrim Polri di Jakarta Selatan. Ibu Sukmawati dianggap membandingkan Alquran dengan Pancasila dan ia juga dianggap membandingkan Nabi Muhammad dan Ir Soekarno. Bagaimana polemiknya ?

Pada tanggal 10 November 1945, peperangan sekutu yang dikepalai jenderal AS Mallaby terhadap bangsa kita menemui puncaknya. Indonesia berhasil memenangkan peperangan melawan tentara Inggris, di mana saat akhir perang dunia kedua, Inggris merupakan negara yang ditakuti kekuatan militernya. Tapi, sejak saat itu, negara yang pernah dijajah oleh Belanda sekita 350 tahun dan 3,5 tahun oleh Jepang dapat mengalahkan kekuatan pasukan militer Inggris. Kenapa begitu?

Dalam sejarahnya, Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Terlepas dari lika-liku perjalanannya, melalui berbagai penyiaran dan berita mulut ke mulut, Indonesia telah sah menjadi negara berdaulat. Beberapa bulan kemudian, terdengar kabar, akan muncul serangan lagi oleh tantara sekutu dan NICA yang memboncengi tentara Inggris. Sebelum peperangan meletus, beberapa tokoh nasional sowan atau konsultasi kepada KH. Hasyim Asy’ari. Seorang kiai dan pendiri ormas terbesar saat ini yakni Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat disegani saat itu.

Lalu, beliaupun mengundang sejumlah kyai di Jawa-Madura untuk berunding memecahkan masalah ini. Sehingga, diambillah keputusan bahwa dari jarak radius 100 km dari Surabaya, semua orang Indonesia wajib berperang melawan penjajah. Barangsiapa mati dalam membela tanah airnya, maka ia mati dalam keadaan syahid. Keputusan KH. Hasyim Asy’ari ini disebut dengan resolusi jihad yang dinyatakan pada tanggal 28 Oktober. Di kemudian hari, untuk mengenang peristiwa resolusi jihad ini, pemerintah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Santri Nasional karena disinilah peran santri sangat tampak dan krusial sekali dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pertanyaanya, mengapa para tokoh agama islam berani mengeluarkan fatwa seperti itu? Karena Indonesia telah menjadi negara yang sah sejak tanggal 17 Agustus 1945. Tidak mungkin para ulama mengeluarkan fatwa sedemikian bila keadaan bangsa masih belum bersatu, masih belum ada pemimpin yang ditaati dan dibela. Karena sudah menjadi kewajiban rakyatnya untuk membela tanah air dengan segenap kemampuan yang ada, bahkan dengan nyawa sekalipun. Banyak sekali tetes darah dan air mata para pejuang untuk menegakkan Bendera Merah Putih, menjadikan Indonesia sebagai negara yang sah dan bebas dari belenggu penjajahan. Lalu dipilihlah Ir Soekarno sebagai presiden pertama sekaligus bapak proklamator karena beliau dinilai sebagai bapak bangsa yang perannya cukup urgen dalam kemerdekaan bangsa.

Dan ini jelas sekali antara Hari Pahalwan, Hari Santri Nasional dan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia sangat berkaitan dalam sejarahnya.

Klimaksnya, bagaimana kita menanggapi pernyataan Ibu Sukmawati yang notabene putri pertama Ir Soekarno yang membandingkan peran mendiang ayahhandanya dengan Nabi Muhammad SAW?

Ucapan Ibu Sukmawati pada acara yang diadakan Humas Polri dengan tema Bangkitkan Nasionalisme, Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme pada 11 November 2019 lalu banyak menuai kontroversi. Sebenarnya, kontroversi ibu Sukmawati bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ibu Sukmawati pernah membacakan puisi Kidung Indonesia Raya. Ia juga dilaporkan telah melakukan penistaan agama pada polisi. Tapi untung kasus ini diserahkan pada MUI dan KH Ma’ruf Amin berhasil menengahi kasus ini.

Untuk kedua kalinya, ibu Sukmawati juga melontarkan ucapan yang memicu kontroversi di jagat dunia maya. Dalam video yang diunggah Sapa Indonesia Malam tentang klarifikasi ucapannya, ibu Sukmawati beranggapan bahwa maksud pertanyaannya lebih baik mana Nabi Muhammad SAW dan Ir Soekarno di abad 20-an adalah agar ia dapat mengetahui para pemuda yang ada di hadapannya mengetahui sejarah Indonesia, bukan hanya sejarah Nabi Muhammad saja.

Menanggapi hal ini, saya setuju dengan tanggapan MUI bahwasanya pernyataan ibu Sukmawati ini telah menyinggung hati dan umat islam, karena telah mengusik keyakinan umat bahwa nabi dan rasul tidak bisa dibandingkan dengan tokoh lain, dalam hal ini dibandingkan dengan Ir Soekarno. Dampak dari pernyataan tersebut telah membuat elemen umat mengungkapkan kekecewaannya dan kemarahannya. Bahkan ada pihak-pihak tertentu yang telah mengadukan masalah ini pada pihak kepolisian untuk diproses dan diselesaikan secara hukum.

Sebagai umat islam, tidak ada panutan yang lebih baik selain Nabi Muhammad SAW. Tapi sebagai umat yang tertinggal jauh dari masa beliau masih hidup di Mekkah, sangat tidak mungkin sekali untuk mencontoh perilaku nabi dalam kesehariannya secara utuh. Kita baru saja lahir sedang Nabi Muhammad SAW telah wafat berabad-abad yang lalu. Salah satu cara meniru akhlak Nabi (karena memang beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak) selain dengan meniru para ulama dan kyai, kita juga dapat meneliti sendiri pada kitab-kitab hadis yang menerangkan akhlak beliau.

Dalam kasus kekecewaan dan menyinggung hati elemen umat, saya yakin ini adalah salah satu bukti kecintaan dan keimanan pada agama Islam dan Nabi Muhammad yang tidak ingin ternodai sedikitpun. Dan hal ini juga berdasarkan hadits nabi yang isinya bahwa nabi tidak marah bila ia dihina, sedang ia akan marah bila agama Allah dihina.

Nadirsyah Hosen selaku Rois Syuriah PCI NU Australia dan New Zealand pengajar Monash Law School di Monash University, Australia mengomentari terkait isi hadis tersebut. Menurutnya, terjemahan teks diatas cukup tendensius. Kalimat yang tepat adalah “Namun, jika ajaran-Nya dilanggar, tidak ada sesuatu apa pun yang bisa tegak di hadapan kemarahan beliau.”

Teks senada juga tercantum dalam kitab Shahih Al-Bukhari (hadis nomor 6288), Shahih Muslim (hadis nomor 4292), dan Sunan Abi Dawud (hadis nomor 4153) yaitu “Nabi Saw. memilih perkara yang rinagn jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, beliau akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah melanggar karena urusan pribadi, tetapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah.”

Dan masih banyak hadits lainnya yang diterangkan Nadirsyah Hosen dalam bukunya Saring Sebelum Sharing, yang menunjukkan Nabi marah kalau ajaran-Nya atau kebenaran dinodai dengan cara melanggar atau mendustai bukan karena agama Allah dihina. Dan yang saya tekankan, janganlah kita marah-marah atas nama agama, lebih-lebih mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya dengan kutip sana pelintir sini, biar disangka Allah ikut marah juga. Kok teganya Nabi yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang itu dianggap sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit terhina.

*) Penulis adalah mahasantri Ma’had Aly Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

IKLAN