KENANG-KENANGAN : Operation Managing Director GGF I Wayan Ardana menerima cenderamata dari Asisten II Pemprov Bali Wayan Suarjana. (I KETUT ARI TEJA FOR BALI EXPRESS)

Hampir  tak ada yang terbuang dari nanas. Paling apes bagian sampahnya menjadi pakan sapi perah. Segala macam usaha muncul dari tangan dingin kepemimpinan I Wayan Ardana, sehingga GGF (Great Giant Food) makin berjaya.

DISKUSI tak ada jenuhnya, semakin banyak yang ingin bertanya ke Operation Managing Director GGF I Wayan Ardana, pria yang mengelola 35 ribu hektar kebun dan menghidupi 34 ribu karyawan ini juga memiliki kemampuan luar biasa dalam menjawab segala pertanyaan. Tiba– tiba salah satu pegawainya membisiki. Dia diam sejenak dan kemudian bicara. “Maaf lagi 5 menit jam 12 siang ada jadwal panen. Kalau lewat, teman – teman tidak dapat gambar,” ujarnya, dan mengakhiri diskusi. “Setelah ambil gambar, lanjut lagi diskusi sambil makan siang, tidak apa – apa,” jelasnya, sembari mengajak seluruh rombongan Bali menuju bus.

Untuk mencapai kebun butuh waktu sekitar 7 menit dari kantor GGF. Kebun nanas terlihat dari pinggir jalan. “Yang dipanen agak ke dalam,” jelas salah satu orang staf  GGF Widodo. Kemudian dalam suasana berdebu, bus masuk. Memang hamparan kebun nanas sangat luas, sepanjang mata bisa memandang. Terik panas tak membuat para pekerja kehilangan semangat. Mereka panen dengan cara berbaris. Buahnya langsung masuk ke alat dan jatuh ke bak truk. Kemudian makhotanya atau jempongnya, jatuh ke areal kebun. Nantinya akan dipungut untuk jadikan bibit lagi. Pohon nanas akan diberikan dua kali berbuah, setelah itu langsung “disapu” dijadikan pakan ternak.

Dengan areal kebun yang luas, panen dilakukan setiap hari. Menanam bibit juga setiap hari. “Butuh waktu 1,5 tahun agar nanas berbuah. Waktu yang panjang, kemudian nanas juga boros air,” jelas Ardana.

Dia mengatakan, semua dari nanas berfungsi. Misalnya, buah nanas menjadi buah potong kaleng, kemudian juga ada menjadi gula nanas dan bahan lainnya. Bahan lainnya itu, hati nanas dan batang pohon nanas, diolah untuk dicari enzim brimolin. “Ini untuk obat, sepeti obat kanker, bahkan flek paru – paru. Ada pengalaman teman saya, bisa sembuh total dalam satu tahun dengan rutin makan nanas,” lanjut pria asal Bedulu, Gianyar ini.

Dia juga mengatakan, enzim ini juga bisa menjadi obat kecantikan kulit. Semua hasil ini diekspor. Bahkan nanas kalengnya juga tidak dipasarkan di Indonesia, tetapi diekspor. Saat ini, GGP (Great Giant Peneapple) menjadi penghasil nanas terbesar di dunia. “Nomor dua itu Thailand, nomor tiga di Filipina. Kami kirim nanas ke Jepang, Timur Tengah dan negara lainnya,” jelasnya. “Ada yang bilang orang hamil tidak boleh makan nanas.  Itu sebenarnya tidak ilmiah. Karena di luar negeri, bahkan Eropa, malah hamil banyak makan nenas, karena vitaminnya bagus. Asal jangan berlebihan,” sambung Ardana.

Alumnus IPB ini mengatakan, saat ini untuk di Indonesia ada 7 perusahaan pengalengan nanas yang sudah bangkrut. Sedangkan GGF masih bisa bertahan bahkan mengembangkan usaha – usaha lain. Misalnya mengolah sampah nanas menjadi pakan ternak sapi perah. Sehingga GGF juga menjadi produsen susu segar, bahkan punya produk susu yang masuk pasaran umum nasional.

Tak hanya itu, pengembangan sentra kebun pisang juga sangat luas. GGF menguasai pisang secara nasional dan masuk terbaik ke Tiongkok. Jenis pisang cavendish dengan merek Sunpride, yang banyak juga masuk Bali. “Kalau hasil pisang sudah banyak, masuk ke Tiongkok,” jelasnya.

Pengelolaan pisang juga bekerjasama dengan petani setempat, dengan membangun koperasi. Hasil pertaniannya dibeli oleh GGF. Namun cara membersihkan pisang dan memilah – memilih, semua dengan tenaga professional dan teknologi canggih. Pisang yang datang, langsung masuk air. Kemudian dipotong sesuai berat yang diinginkan. Jika pisang cacat, tidak masuk ke pasaran.

Sama halnya dengan pengalengan nenas, semua dengan teknologi canggih bahkan kalengnya langsung membuat. Dan mesti menggunakan pakaian khusus jika ingin masuk ke tempat pengolahan nanas. Mesti bebas bakteri dan steril. Ketika pengalengan nanas dan memilah pisang, tidak boleh difoto dan tidak boleh mengambil video.

Selain nenas dan pisang, GGF juga punya kebun singkong yang diolah menjadi tepung tapioca. Bahkan kulit singkong bisa diolah menjadi bahan dasar cat tembok. Tak hanya singkong, GGF juga punya kebun jampu kristal dan beberapa buah lokal lainnya.

GGF akan masuk Bali, bekerjasama dengan Perusda Bali. Lahan Perusda Bali 100 hektar lebih di Pekutatan, Jembrana akan dikelola GGF untuk ditanam pisang. “Kami akan menanam pisang di Lahan Perusda dan sudah ada kepesepakatan kerjasama,” jelas Ardana. Selain dengan Perusda, akan dibuat juga pola kerjasama dengan petani Bali. Nantinya akan digunakan pola koperasi seperti di Lampung, dengan menggandeng petani Bali. “Kami akan kembangkan pisang cavendish subpride dan pisang mas. Yang banyak dibutuhkan hotel – hotel di Bali,” urai Ardana.

Rencana ini disambut baik oleh Asisten II Pemprov Bali Wayan Suarjana. Baginya, langkah GGF membangun usaha di Bali nantinya untuk melestarikan buah – buah lokal di Bali. Misalnya Bali punya sentul, yang bisa nanti dikembangkan. Terkait dengan sentul, Ardana ada pengalaman unik. Ternyata di Thailand pengembangan sentul sangat luar biasa. “Di Thailand, namanya santol. Orang Bali menyebutnya sentul, dan orang Jawa menyebut capi. Di Bali mungkin sudah punah, di Thailand jadi buah mahal, saya saja terkejut,” pungkasnya.

(bx/art/man/JPR)

IKLAN