Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar

Oleh : Soni Andiwijaya, S.Pd. *)

MEMBACA bukanlah barang baru bagi seorang siswa, mulai di bangku PAUD atau TK seorang siswa sudah bersentuhan dengan buku (buku bacaan, bergambar dan buku tulis) termasuk juga alat-alat tulis artinya mereka sejak usia dini sudah dikenalkan dengan dunia menulis dan membaca. Membaca artinya melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) dan indra yang banyak digunakan untuk membaca adalah mata. Membaca dibagi menjadi dua yaitu sekadar membaca dan memahami isi bacaan, sekadar membaca artinya membaca seluruh bacaan tetapi belum paham tentang maksud dan isinya sedangkan memahami isi bacaan artinya paham dengan apa yang telah dibacanya.

Apakah bakat dan minat baca dalam diri siswa berpengaruh pada kegemaran siswa untuk membaca?
Sangat berpengaruh tetapi jika tidak diimbangi oleh dukungan dan bimbingan guru, orang tua dan lingkungan maka minat membaca anak tersebut lambat laun akan memudar dan hilang.
Sebaliknya siswa tanpa bakat dan minat membaca akan suka atau gemar membaca karena dipengaruhi oleh lingkungan, guru dan orang tua.

Awalnya siswa membaca itu hanya sekadar membaca tetapi dengan pembiasaan maka secara tidak langsung siswa telah belajar membaca pemahaman. Menumbuhkan minat baca pada siswa diperlukan sebuah terobosan atau cara-cara yang efektif, contohnya pembiasaan, tugas membaca, buku kesukaan, tempat buku (rak buku) yang menarik, perpustakaan yang aktif, hukuman membaca dan lomba membaca.

Marilah kita kupas satu per satu dari contoh di atas:

1. Pembiasaan ini maksudnya siswa dibiasakan membaca sebelum pelajaran berlangsung antara 10 sampai 15 menit, buku yang bisa digunakan adalah buku yang disediakan di pojok kelas (sudut baca).
Manfaat dari pembiasaan ini siswa akan merasa terbiasa membaca meskipun dengan sedikit pemaksaan.

2. Tugas membaca artinya siswa diberi tugas oleh guru untuk membaca acak, tugas tersebut sudah disiapkan melalui perintah dari guru, contohnya guru memberi tugas membaca buku apa pun saja (buku bebas) tetapi halaman yang dibaca sama, yaitu halaman 35 dan 36 (hanya halaman 35 dan 36 yang dibaca). Manfaat dari tugas membaca acak ini siswa dilatih berkonsentrasi dan memahami isi sebuah bacaan karena mereka hanya membaca sebagian halaman saja dari sebuah buku.

3. Buku kesukaan artinya siswa diberi pertanyaan berupa angket tentang buku kesukaan yang ingin dibaca, setelah diketahui buku apa saja yang ingin dibaca siswa maka guru harus menyediakan buku yang masuk daftar kesukaan siswa (bisa bekerja sama dengan petugas perpustakaan). Manfaat dari buku kesukaan ini adalah siswa lebih bersemangat untuk membaca karena buku yang akan dibaca merupakan buku kesukaannya.

4. Tempat buku (rak buku) yang menarik artinya tempat buku atau rak buku dibuat semenarik mungkin agar siswa tertarik untuk membaca, bisa juga dengan diberi gambar tokoh kartun nasional atau luar negeri. Manfaat dari rak buku yang menarik ini adalah membuat siswa yang tidak suka membaca akan terpancing membaca dengan melihat rak buku yang indah bergambar tokoh kartun nasional dan luar negeri.

5. Perpustakaan yang aktif artinya perpustakaan yang aktif meminjamkan buku kepada siswa. Manfaat perpustakaan aktif adalah menyalurkan minat baca para siswa yang sudah gemar membaca.

6. Hukuman membaca artinya segala bentuk pelanggaran yang dilakukan siswa baik berupa pelanggaran disiplin, tidak mengerjakan PR, mengganggu temannya, dan lain-lain maka hukumannya adalah membaca buku (bisa di pojok baca atau perpustakaan sekolah). Manfaat hukuman membaca adalah anak akan dipaksa membaca karena biasanya anak yang sering melanggar peraturan itu tidak suka membaca dan jarang yang mau belajar.

7. Lomba membaca artinya lomba membaca yang diadakan oleh sekolah dan ada hadiah bagi juaranya, contohnya lomba membaca cepat, lomba memahami isi bacaan, lomba tebak judul buku, dan lain-lain.
Manfaat lomba membaca ini adalah siswa termotivasi untuk banyak membaca agar bisa menjadi juara dan mendapatkan hadiah.

Proses di atas merupakan tahapan untuk menuju pada suatu titik yang dinamakan budaya membaca, karena Sutarno (2006:27), mengatakan bahwa budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Budaya membaca ini tidaklah mudah untuk ditanamkan kepada siswa sekolah dasar (SD) diperlukan kerja sama yang baik dan berkelanjutan antara guru dan orang tua siswa, sebagus apa pun sistem yang dibangun dan disusun di sekolah untuk membiasakan siswa membaca kalau tidak ditindaklanjuti melalui pembiasaan di rumah maka akan sulit untuk menjadi budaya membaca. Contoh dukungan orang tua terhadap anaknya agar gemar membaca bisa dengan membelikan majalah anak atau buku anak sesuai permintaan anak, bisa dengan mengajaknya ke perpustakaan umum atau toko buku untuk membaca sekilas tentang buku kesukaannya, atau bisa dengan cara yang irit tanpa biaya, menyuruh anak untuk membiasakan meminjam buku di perpustakaan sekolah.

Ada juga teori bagi orang tua yaitu teori permintaan bersyarat. Apa itu permintaan bersyarat? Setiap anak biasanya akan meminta sesuatu kepada orang tuanya, baik itu berupa mainan atau makanan, permintaan anak itu jangan langsung dituruti tetapi harus ada syaratnya yaitu membaca. Contohnya seorang anak meminta mainan, maka orang tua berkata kepada anaknya “Bapak/Ibu akan belikan mainan itu jika kamu membaca buku ini (judul dan Jenis buku ditentukan oleh ortu)”. Tanpa dukungan orang tua di rumah sangat sulit menanamkan budaya membaca di lingkungan sekolah, budaya membaca itu muncul melalui pembiasaan-pembiasaan membaca baik di sekolah maupun di rumah.

Budaya membaca diawali oleh kebiasaan membaca, kebiasaan membaca diawali lewat kegemaran membaca, kegemaran membaca diawali melalui lingkungan membaca, lingkungan membaca diawali oleh dukungan guru dan orang tua dalam proses pembiasaan membaca baik di sekolah maupun di rumah.
Artinya budaya membaca itu butuh proses dan tidak instan, bisa saja siswa yang kita ajarkan untuk gemar membaca ternyata baru lima atau enam tahun lagi bisa sampai pada titik budaya membaca, tapi proses menuju ke budaya membaca ini yang harus digalakkan agar kelak generasi muda kita adalah generasi yang suka membaca dan butuh membaca.

*) Penulis adalah praktisi pendidikan dan Sekretaris LKBH PGRI Bondowoso.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :