APLIKASI KESEHATAN: Dokter Niko menunjukkan aplikasi karyanya beberapa waktu lalu. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Mendiang sang ayah menjadi inspirasi dr Niko Azhari Hidayat SPBTKV(K) VE FIHA untuk menciptakan aplikasi KakiDiabetIndonesia. Targetnya, masyarakat yang ingin mengetahui penanganan penyakit gula tersebut.

C. DENNY MAHARDIKA, Jawa Pos

DOKTER Niko, panggilan akrabnya, terkesan menggebu-gebu, penuh semangat, dan terus menyebar senyuman saat menjelaskan aplikasi KakiDiabetIndonesia pada seminar Sabtu siang (16/11). Di hadapan 40 pengidap penyakit tersebut, Niko mengenalkan satu per satu fungsi aplikasi itu. Dalam diskusi tersebut, Niko berkomunikasi aktif dengan audiensnya.

Niko menjelaskan, penyakit itu rata-rata dialami orang yang telah berusia lanjut. Namun, sekarang pola tersebut berubah. Banyak juga anak-anak muda yang mengidap penyakit diabetes melitus. ”Jumlah pengidap penyakit ini terus meningkat sampai 20 persen,” imbuhnya. Dari penyakit itu, menurut data WHO, lanjut Niko, setiap tujuh detik satu orang meninggal dunia. ”Ada 50 persen pasien yang didiagnosis telah menyandang satu penyakit kronis,” katanya.

Karena itulah, Niko menggagas aplikasi tersebut. Tetapi, lanjut dia, aplikasi yang tersedia di Play Store tersebut bukan alat pendeteksi penyakit Melainkan sarana edukatif serta pencegahan. ”Agar orang tahu bahaya kaki diabet. Ini adalah aplikasi social impact,” ucapnya.

Penyakit diabetes sangat berbahaya jika tidak dikontrol. Apalagi bila mengenai organ kaki. Meski, persebaran penyakit tersebut tidak ke kaki.

Dosen kedokteran Universitas Airlangga itu pun menciptakan aplikasi tersebut. Dia menceritakan, ide aplikasi itu berawal dari kisahnya. Saat dia masih berusia belasan tahun, sang ayah yang sekarang sudah berpulang menderita diabetes. Penyakit tersebut memicu komplikasi penyakit lain. ”Awalnya hanya diabetes. Tapi, kemudian meningkat ke area lain. Ginjal ayahnya juga kena. Cuci darah setiap hari,” kenangnya. Kondisi tersebut dijalani sang ayah sampai Niko selesai menempuh pendidikan sekolah menengah atas.

Sekitar enam bulan lalu, riset dilakukan untuk menyusun aplikasi tersebut. Dari penelitian itu, Niko menemukan masih banyak penderita yang meremehkan penyakit kronis tersebut. Padahal, penyakit itu bisa mengakibatkan banyak kerugian. Misalnya, amputasi, pengobatan yang lama, hingga berujung kematian bila pengidap tak pernah mengontrol atau minimal mengetahui penanganan penyakit tersebut.

Karena itulah, dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskuler tersebut ingin membagikan informasi seluas-luasnya tentang diabetes lewat aplikasi itu. ”Masyarakat juga bisa melakukan konsultasi gratis lewat aplikasi tersebut,” ujarnya. Agar lebih afdal, pasien yang berkonsultasi bisa mengirimkan gambar kaki yang terkena diabetes. ”Masyarakat Indonesia harus mendapatkan pengetahuan,” jelasnya mengenai aplikasi yang di-launching bertepatan dengan Hari Diabetes Sedunia pada 14 November itu.

”Saya merawat pasien seperti orang tua saya sendiri. Karena saya sadar, berbicara dengan pasien mengingatkan saya pada mereka,” ucapnya

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia

IKLAN