Izin Operasional Bandara Mati Sejak 2018

SEKALI TERBANG: Kini hanya tinggal maskapai Wings Air saja yang melayani rute Surabaya-Jember PP, setiap harinya. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Komisi C DPRD Jember melakukan inspeksi mendadak ke Bandara Notohadinegoro, kemarin (19/11). Mereka menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Yakni izin operasional bandara yang sudah tidak berlaku sejak 7 Maret 2018 lalu.

Sidak tersebut dilakukan menindaklanjuti berhentinya penerbangan  maskapai Citilink. Sidak dipimpin langsung oleh Ketua Komisi C David Handoko Seto bersama beberapa anggota lainnya.

Mereka menggelar pertemuan di ruang Kepala UPT Bandara Notohadinegoro, bertemu  dengan Edi Purnomo, Kepala UPT Bandara dan perwakilan Citilink Jember. “Beberapa hari lalu kami mendapat informasi bahwa Citilink tidak lagi terbang ke Jember. Kami tindak lanjuti, ternyata itu benar,” ucap David.

David melihat langsung data okupansi penumpang Citilink beberapa bulan ini, ternyata sudah mulai membaik. “Tentu ini sebuah pertanyaan besar, kenapa mereka bisa menarik diri dari Jember,” tuturnya.

Bahkan, Komisi C mendapat temuan baru tentang surat izin operasional Bandara Notohadinegoro. Dalam hal ini, Pemkab Jember dinilai lalai dalam memperpanjang surat izin tersebut. “Ada prinsip yang kami temukan, ternyata izin operasional bandara sudah tidak berlaku mulai 7 Maret 2018. Ini tentu jadi tanggung jawab penuh Pemkab Jember, dengan mekanisme yang harus dilalui,” ungkapnya.

Menurut dia, mekanisme perpanjangan izin itu sudah disampaikan oleh kepala UPT. Dilanjutkan ke Kepala Dinas Perhubungan hingga ke bupati. “Ini juga menjadi pertanyaan besar kami, mengapa tidak ditindak lanjuti? Padahal, menyangkut keselamatan terhadap penerbangan itu sendiri,” terangnya.

Untuk itu, Komisi C akan segera memanggil Dinas Perhubungan Jember untuk rapat dengar pendapat. “Kami ingin tahu alasan mereka apa,” lanjutnya. Sebab, sudah setahun lebih izin operasional bandara yang terletak di Kecamatan Ajung ini mati.

Saat pihak UPT Bandara Notohadinegoro, jawabannya normatif. Ada beberapa hal yang belum memenuhi syarat diperpanjang. “Itu sebenarnya menjadi tanggung jawab pemkab, ya. Kalau menurut kami seperti itu,” kata David.

Sementara itu, Edi Purnomo sendiri tak berkomentar banyak soal hengkangnya Citilink dari Jember. Dia mengatakan, keputusan itu memang kebijakan manajemen pusat Citilink. “Yang jelas, fungsi bandara sebagai penyedia fasilitas saja. Kalau maskapai pesawat masuk atau keluar, itu keputusan manajemen masing-masing,” tambahnya pada Jawa Pos Radar Jember.

Ketika manajemen maskapai tersebut menilai salah satu rute yang kurang menjanjikan dan kurang profit, rute tersebut bisa saja dihapus atau memindahkan ke rute lainnya. Tergantung daerah masing-masing untuk menarik minat maskapai agar singgah ke daerahnya.

Awal Citilink beroperasi di Jember pada April 2019 lalu. Okupansi penumpangnya memang masih sedikit. Namun, perlahan jumlah penumpang Citilink mulai membaik. Meskipun, mereka sempat mengurangi jadwal penerbangannya.  Semula , seminggu empat kali terbang, menjadi tiga kali terbang saja di awal bulan Agustus.

“Kami sempat menyarankan kepada manajemen Citilink untuk mengubah jamnya, agar hampir sama dengan Wings Air. Bulan September mulai ada peningkatan jumlah. Karena memang kebutuhan penumpang ke Jember ini dengan jadwal pagi,” terang Edi.

Bandara Notohadinegoro sampai sekarang belum bisa disinggahi oleh pesawat jenis Boeing 737. Itu karena  landasan pacunya belum memenuhi standar. “Dilihat dari panjang lebar dan dimensi runway-nya dengan kekerasan 24 ton, maksimal pesawat yang bisa dilayani, ya ATR72 ini,” paparnya. Kalaupun ingin disinggahi pesawat jenis Boeing 737, tentu wajib memperlebar, memperpanjang, dan menambah ketebalan runway.

Sementara itu, perwakilan manajemen Citilink Jember tak berani berkomentar banyak terkait keputusan mereka meniadakan rute Surabaya-Jember ini. Menurut Yogi Ardi, Station Manager Citilink Jember, pihaknya hanya sebagai pelaksana saja. “Kalau alasan berhenti, ini semua kebijakan manajemen pusat. Kami cuma pelaksana di sini,” katanya dengan singkat.

Maskapai Citilink sendiri juga menutup rute Banyuwangi-Balikpapan. “Memang ada perubahan di beberapa rute kami. Tapi kalau kebijakan, itu kembali lagi kewenangan kantor pusat,” ucapnya.

Disinggung mengenai peluang ke depan, apakah Citilink bisa kembali ke Jember lagi, Yogi mengaku masih belum mengetahuinya secara pasti. “Bisa iya, bisa tidak. Pasti akan dikaji lagi lebih lanjut,” jawabnya.   

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Bagus Supriadi