Sugianto menyelsaikan pembuatan tahu di desa tropodo, Krian Sidoarjo, Kemarin (17/11). (Dimas Maulana/Jawa Pos

JawaPos.com – Masuknya sampah plastik yang sebagian besar berasal dari negara-negara Barat melahirkan masalah. Sebuah penelitian mengungkap temuan telur ayam yang terkontaminasi racun sampah plastik di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, dan Desa Bangun, Mojokerto.

Penelitian tersebut dilakukan aliansi organisasi lingkungan hidup. Yakni, International Pollutants Elimination Network (IPEN), Arnika Association, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), dan Nexus3 Foundation.

Dilansir dari berbagai sumber, berdasar penelitian tersebut, kandungan dioksin itu berasal dari pembakaran sampah plastik. Kandungan dioksin yang ditemukan pada sampel telur ayam kampung di Desa Bangun dan Tropodo tersebut 70 kali lebih tinggi daripada standar keselamatan yang ditetapkan badan keselamatan pangan Eropa, European Food Safety Authority (EFSA).

Penelitian mengungkap, kandungan bahan kimia terparah tercatat di dekat pabrik-pabrik tahu yang membakar plastik untuk bahan bakar di Desa Tropodo. Ironisnya, aktivitas dengan menggunakan sampah plastik tersebut masih tetap berlangsung.

Pengusaha sentra tahu di desa tersebut masih menggunakan sampah plastik impor untuk bahan bakar produksi. Dinas lingkungan hidup dan kebersihan menegaskan, tindakan itu dilarang undang-undang.

Dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo, ada sekitar 50 pengusaha tahu di Desa Tropodo. Ketika produksi dimulai, asap hitam keluar dari cerobong. Bahan bakar untuk memproduksi tahu masih memicu polemik. Sebab, warga tetap menggunakan sampah plastik impor yang didapat dari Mojokerto.

Camat Krian Agus Maulidi mengatakan, sampai hari ini warga memang masih menggunakan sampah plastik untuk pembakaran. Sebab, bahan bakar tersebut memang lebih efisien. Harganya jauh lebih murah daripada menggunakan kayu bakar.

Harga satu truk sampah plastik Rp 700 ribu. Bandingkan dengan harga satu truk kayu. Bisa Rp 3 juta. ’’Lebih murah,’’ ujarnya.

Selain itu, kata dia, tidak ada efek negatif pemakaian sampah plastik terhadap produk tahu. Hingga kini, dia mengatakan belum mendengar keluhan mengenai tahu yang diproduksi Desa Tropodo. ’’Jadi ya masih pakai sampah plastik,’’ paparnya.

Kepala DLHK Sigit Setyawan mengingatkan bahwa pemakaian sampah plastik memang tidak berdampak pada produksi tahu. Tahu Tropodo tetap layak dikonsumsi. Namun, ada persoalan lain yang lebih serius.

Menurut Sigit, pemakaian sampah plastik untuk produksi tahu dilarang. Bahan bakar tersebut merupakan sampah. Sampah mungkin mengandung bahan-bahan berbahaya. ’’Bisa jadi sampah B3. Itu sangat berbahaya,’’ jelasnya.

Kesalahan lain, pemanfaatan sampah plastik impor menyalahi aturan. Pemerintah melarang tegas mengimpor sampah. Selain itu, pembakaran sampah plastik tidak dibenarkan secara aturan. Regulasi tersebut tertuang dalam UU 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. ’’Dilarang membakar sampah plastik,’’ paparnya.

Mengapa pembakaran sampah plastik dilarang? Sigit menjelaskan, pembakaran plastik menimbulkan pencemaran lingkungan. Ketika plastik dibakar, timbul zat dioksit. Nah, zat tersebut bisa menimbulkan kematian.

Sigit juga menegaskan, hasil survei dinas kesehatan (dinkes) membuktikan adanya temuan baru. Asap hasil produksi tahu sangat berbahaya. Warga yang terpapar bisa menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Jumlah penderitanya meningkat di wilayah Desa Tropodo.

Apa solusinya? DLHK sudah merancang sejumlah solusi. Pertama, mengganti bahan bakar sampah plastik dengan gas. DLHK mengadakan pertemuan dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) serta Pertagas. Tujuannya, pengusaha tahu diberi akses untuk bisa mendapatkan saluran gas. ’’Sayangnya, dua perusahaan itu hanya mengalirkan gas ke perusahaan besar,’’ paparnya.

CEK KANDANG: Tanpa segan, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melihat proses pemberian makan ayam, memeriksa kondisi ayam petelur, juga memastika kebersihan kandang ayam di Kelompok Telur Intan di Desa Kambingan, Kabupaten Malang. (Pemprov Jatim for Jawa Pos)

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau salah satu peternakan besar di Desa Kambingan, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, kemarin. Itu dilakukan untuk merespons hasil penelitian yang menyebutkan bahwa racun plastik ditemukan pada telur ayam.

Gubernur menyaksikan langsung pengelolaan telur ayam ras di peternakan tersebut. Ada 300 ayam yang diternakkan. Produksinya mencapai 14 ton telur. Telur-telur itu didistribusikan ke wilayah Jawa Timur dan luar Jawa Timur.

Kholiq, pemilik peternakan tersebut, menyatakan bahwa sistem pengelolaan selalu dikontrol. Hal itu juga dia tunjukkan saat Khofifah bersama rombongan mengunjungi peternakan. Rombongan diminta untuk menggunakan sarung tangan dan masker. Selain itu, tubuh mereka disiram cairan antibakteri. ”Semua terkontrol. Tidak ada sampah di sini, juga tidak ada pembakaran,” jelasnya.

Kabar yang beredar di masyarakat membuat dia resah. Dia berharap masyarakat tidak terpengaruh hasil penelitian tersebut. Sebab, ayam yang menjadi objek penelitian itu berbeda dengan ayam ras yang ditangani peternak.

Senada, Khofifah menghormati hasil penelitian tersebut. Dia menjelaskan, objek yang diteliti merupakan ayam kampung. Bukan ayam ras yang menghasilkan telur komersial. Artinya, telur ayam yang diproduksi peternak dari Jawa Timur aman. ”Masyarakat tak perlu khawatir. Proses pengelolaannya higienis,” terang dia.

Penelitian tersebut dilaksanakan di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo. Jenis yang diteliti adalah ayam kampung. Ayam tersebut liar. Tidak dikandangkan. Berbeda jauh dengan ayam peternak.

Pada penelitian itu dijelaskan, ayam diduga memakan sampah plastik yang digunakan oleh beberapa orang untuk bahan bakar pembuatan tahu. ”Kami sudah berkoordinasi dengan Universitas Airlangga untuk menguji di laboratorium lagi,” katanya.

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Prof Suyadi menuturkan, ayam petelur diproduksi dengan sistem industri. Kualitas produksi sangat diperhatikan. Kasus di Desa Tropodo merupakan ayam kampung yang jumlahnya sangat sedikit.

Ayam tersebut mengandung dioksin. Zat tersebut merupakan dampak dari pembakaran limbah plastik yang dihirup. Itu berbeda dengan yang ada di peternakan. Lingkungan dan pakan ayam dikontrol. ”Saya yakin, produk telur ayam peternak aman,” jelasnya.

Di sisi lain, hasil penelitian tersebut menjadi bukti bahwa penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar sangat berbahaya. Permasalahan sampah plastik muncul beberapa bulan lalu. Yakni saat sampah plastik diimpor ke Indonesia.

Khofifah mengaku telah melakukan rapat dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sudah ada tim yang turun ke lapangan. ”Hasilnya, ada pembatasan impor campuran plastik yang masuk ke dalam kontainer,” papar dia.

Kemarin sejumlah pejabat berkunjung ke Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo. Antara lain Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar serta Wakil Ketua DPRD Jatim Anik Maslachah. Juga Bupati Sidoarjo Saiful Ilah serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tjarda.

Rombongan melihat penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar industri tahu. Mereka ingin memastikan apakah penggunaan plastik berbahaya bagi hasil produksi tahu.

Uji lab, tambah Anik, harus dijalankan. Hasilnya menjadi rujukan pemkab untuk mengambil keputusan. ”Harus ada solusi. Tidak sekadar menutup usaha,” paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : aph/riq/c15/c11/roz/fal

 

IKLAN