AIR: Jro Mangku I Wayan Sumanten, 65, menunjukkan tempat air yang dipakai tamba dan malukat. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

ENGWI, BALI EXPRESS – Memulai pekerjaan selalu diawali sembahyang agar dilancarkan. Jika tidak, bisa timbul hal tidak diinginkan. Situasi dibikin panik, seperti mobil tiba tiba tidak bisa jalan, meski mesinnya hidup.  Begitulah yang dialami sejumlah pedagang yang berjualan di area Pura Pesimpangan Agung di Jalan Prabu Rai, Banjar Sangiang, Desa Kekeran, Mengwi, Badung.

Pengendara sepeda motor maupun mobil kerap membunyikan klaksonnya ketika melintasi Pura Pesimpangan Agung. Tidak hanya membunyikan klakson, ada beberapa orang yang juga mempersembahkan canang di palinggih depan pura yang cukup luas itu.

“ Pemandangan biasa itu, bagi yang hendak pergi kerja saat melewati pura pasti sembahyang. Membawa tiga buah canang, ditaruh di dua palinggih dan tangga pintu masuk pura,” ujar pemangku Pura Pesimpangan Agung, Jro Mangku I Wayan Sumanten, 65, saat diemui Bali Express (Jawa Pos Group) di kawasan pura,pekan kemarin.

Keangkeran pura yang diempon 140 Kepala Keluarga (KK) ini, lanjut  Jro Mangku I Wayan Sumanten, sudah diketahui warga. Bahkan, warga pun melihat, saat seorang pedagang yang berjualan menggunakan mobil pick up tidak bisa pulang. Selama berjam-jam mobilnya menyala, namun tidak bisa berjalan  meninggalkan area jaba Pura Pesimpangan Agung.

“Seingat saya, pedagang itu dari jam 11 malam sampai jam 3 pagi diam di sana, dan berusaha mencoba pergi, namun mobilnya tidak bisa bergerak ,” ungkap Jro Mangku I Wayan Sumanten.
I Nyoman Kelig, 70, selaku wakil kelihan pura juga mengakui warga banyak heran akan kejadian tersebut. Akibat kejadian tersebut, si pedagang meminta bantuan pada Jro Mangku I Wayan Sumanten.

Setelah ditanyakan, ternyata pedagang tersebut  belum mapikeling (sembahyang mohon izin) sebelum berdagang. Akhirnya, Jro Mangku I Wayan Sumanten  membantu pedagang untuk sembahyang.

“Usai sembahyang, mobilnya baru bisa jalan. Aneh kan, masa mobil mesinnya hidup, tapi   tidak bisa jalan, dan tidak ada masalah sebelumnya,” terang I Nyoman Kelig.
Selain itu, ada juga kejadian lainnya.  Mobil salah seorang warga yang menyenggol  tedung (payung) di depan pura, juga tidak bisa jalan meninggalkan pura. Jro Mangku I Wayan Sumanten yang  melihat kejadian ini, mengaku bingung karena tidak masuk akal. “Cuma kena tedung, masa mobil tidak bisa jalan? Akhirnya mapikeling lagi kepada yang berstana di pura. Setelah itu,  mobilnya baru bisa  beranjak pergi meninggalkan lokasi jaba pura,” ucapnya.

Atas kejadian aneh seperti itu, warga meyakini kesakralan Pura Pesimpangan Agung. Akhirnya setiap lewat berkendara, terutama saat berangkat kerja, warga selalu menyempatkan untuk sembahyang, meminta keselamatan. Bahkan, saat mengajak anak main, warga selalu ingat bersembahyang sebelum pergi meninggalkan jaba Pura Pesimpangan Agung. Kalau tidak sembahyang,  sesampai di rumah si anak bisa menangis tidak jelas sebabnya.

Pura yang piodalannya jatuh  pada Buda Kliwon Matal ini, konon berdiri setelah seseorang kehilangan emas. Menurut cerita tetua, orang yang kehilangan gelang emas  itu, berjanji akan membuat palinggih jika barang berharganya ketemu. Baru selesai mengucap janji itu, gelang emas itu langsung diketemukan di kawasan pura. “Sebagai bayar kaul (janji), maka berdiri sebuah palinggih dari turus lumbung,” ujar Jro Mangku I Wayan Sumanten.
Selanjutnya berkembang, dan dibangun palinggih lainnya.

Area utamaning mandala pura kini dibagi dua. Sebelah utara terdapat area Pura Taman untuk pasucian, ada Palinggih Dalem Lepitan sebagai stana Dewi Durga, Pelik Sari, dan Padmasana. Kawasan Pura Taman ini sebelumnya terdapat sebuah pohon bunut besar. Jro Mangku I Wayan Sumanten dan Nyoman Kelig menceritakan bahwa daun pohon bunut menghasilkan air yang bisa menjadi obat. “Sekitar 50 tahun lalu, pohonnya ditunas (ditebang), lalu palinggih didirikan sebagai pengganti. Palinggih tersebut adalah Dalem Lepitan. Kami pun kurang tahu asal muasal penamaan palinggih tersebut,” papar Nyoman Kelig.

Walau pohon bunut sudah tidak ada, namun masih banyak warga yang nunas tamba (memohon obat) dan malukat ke Pura Pesimpangan Agung. Kebanyakan yang datang berdasar hasil nunas baos (meminta petunjuk) yang meminta  agar sembahyang ke pura di dekat persawahan ini. “Biasanya pamedek datang membawa pajati, bungkak nyuh (kelapa muda) gading dan bawang sebanyak tiga biji. Bawang ini biasanya dioleskan ke area yang sakit,” terang Jro Mangku I Wayan Sumanten, sambil menyontohkan dengan menggosokkan tangan ke dahinya.
Area sebelah selatan terdapat palinggih utama di Pura Pesimpangan Agung. Ada Padma Luhur Agung sebagai stana Sang Hyang Ratu Gede Putus, Palinggih Pesimpangan Rambut Siwi sebagai Batara Rambut Siwi, Sambyangan Ida Gede Undakan, Gedong Ratu Mas Ayu, Pesimpangan Dalem Nusa dan Taksu Pura.

“Di pura ini punya rencang ( penjaga gaib) berupa jaran (kuda) putih menarik kereta berwarna hijau. Selain itu, ada juga ular poleng (belang) yang kulitnya mengkilat, dipercaya merupakan sebuah sabuk kesaktian (ikat pinggang sakti). Ular itu biasanya muncul, melilit di pintu masuk pura, namun tidak ada yang berani mendekatinya,” beber Jro Mangku I Wayan Sumanten.

(bx/sue/yes/JPR)

IKLAN