Pernyataan Kapolri Komjen Idham Azis bahwa radikalisme tidak bisa diidentikkan dengan Islam menarik untuk disikapi secara kritis. Pertama, wacana radikalisme telah menyasar dan mendeskreditkan posisi ajaran Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.  Akibatnya, terjadi kecurigaan massif diantara umat Islam terhadap makna ajarannya sendiri dan membuat suasana komunikasi menjadi kurang harmoni (noise communication).

Kedua, globalisasi wacana  radikalisme yang dikonstruksikan oleh media massa dan media sosial dengan beragam framingnya ikut menggeser persepsi masyarakat terhadap identitas agama.  Sebagian diantaranya menilai agama sebagai “dogma berbahaya”  karena dapat membangkitkan semangat radikalisme dalam beragama.

Ketiga,  radikalisme telah berkembang “liar” menjadi wacana elitis dan dimuati kepentingan kelompok  tertentu untuk memarginalisasi kekuatan yang seafilisasi politik. Akibatnya, isu radikal dan radikalisme dipilih sebagai alat penyingkiran lawan politik, sedangkan subtansi definisi dan makna radikalisme berkembang dan berubah-ubah sesuai dengan tafsirannya sendiri.

Pernyataan Kapolri Idham Azis untuk mengampanyekan kepada masyarakat bahwa soal radikalisme yang harus ditindak adalah oknum dan bukan menyasar kepada simbol agama menemukan relevansinya dalam menyemaikan harmoni di antara umat beragama di  nusantara. Oknum atau kelompok tertentu yang menodai ajaran agama itulah yang harus ditindak secara hukum ketika terbukti melakukan pelanggaran/ bertindak kriminal (kekerasan). Pernyataan Kapolri yang baru dilantik Presiden Jokowi ini merupakan komunikasi antiradikalisme dengan menempatkan makna radikal pada posisi sejatinya yang berbeda diametral dengan radikalisme.

Makna Komunikasi Radikal dan Radikalisme

Sebagai wacana, radikal dan radikalisme berada pada posisi yang berbeda meski memiliki akar yang sama. Secara bahasa, radikal yang berasal dari kata asing atau latin “radic” atau “radix” yang berarti akar (mengakar), mendasar atau menyeluruh. Dari sisi terminologis, makna radikal adalah netral, bisa dimakna negatif maupun positif tergantung yang menfasirkannya. Ketika membicarakan suatu ilmu, sudah semestinya dipelajari secara radikal agar  memahami sampai ke akar-akarnya, tidak hanya permukaan saja. Dalam filsafat komunikasi, salah satu ciri berfikir filsafat adalah radikal yang berarti mendasar, komprehensif. Menggunakan makna ini, mempelajari Islam pun semestinya dengan “radikal”, yakni harus secara mendasar agar mengetahui lebih mendalam apa sesungguhnya ajaran Islam.

Ketika wacana radikal itu dikonstruksi menjadi radikalisme, maknanya  berkembang menjadi; (1) Paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; dan (3) sikap ekstrem dalam aliran politik (KBBI, 2019), maka konteksnya menjadi berbeda. Makna komunikasinya menjadi tidak sama dengan radikal, karena Islam tidak mengajarkan tindakan kekerasan dalam melakukan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat. Islam tidak mengajarkan radikalisme dalam penyampaikan ajaran Islam, seperti merusak fasilitas umum, mengebom, membunuh tanpa haq, dan merusak simbol-simbol agama.

Dalam konteks inilah, pernyataan Kapolri Idham Azis “menyejukkan” karena hakikatnya  kekerasan itu tidak diajarkan dalam dakwah Islam. Berhati-hati dalam menempatkan istilah begitu sangat penting agar maknanya tidak salah kaprah. Kalau dinyatakan berfikir radikal itu adalah suatu keharusan  dalam Islam karena ingin memahami ajaran sampai ke akar-akarnya itu adalah benar, tidak bermakna negatif.

Demikian juga, dengan berfikir radikal pula, kita tidak menemukan radikalisme dalam ajaran Islam karena komunikasi dakwah Nabi Muhammad SAW itu ternyata damai, sejuk, dan komunikatif. Selama 13 tahun dakwah di Makkah, Rasulullah SAW tidak mengajarkan kekerasan (radikalisme), tetapi beliau berfikir dan bertindak radikal dengan meyakini ajaran Islam secara menyeluruh, mengakar, dan holistik untuk disampaikan secara makruf (baik) kepada masyarakat jahiliyah Makkah.

Dengan berfikir radikal, kita bisa menemukan harmoni masyarakat Islam di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW selama 10 tahun yang jauh dari radikalisme. Sebab, negara Madinah  dihuni oleh masyarakat yang majemuk, pluralistik, dan mengajarkan toleransi tingkat tinggi. Didalam negara Islam Madinah, terdapat warga Yahudi, Nasrani, dan pemeluk ajaran lain yang hidup damai berdampingan. Disitu tidak ada radikalisme. Bahkan, dibuktikan sepanjang sejarah peradaban Islam, ajaran Islam mampu mengayomi umat lain yang berbeda agama dengan  pelayanan prima, seperti dikenal istilah ahlu dzimmah (orang non muslim yang hidup dalam masyarakat Islam).

Dalam sepanjang sejarah peradaban Islam selama kurang lebih 13 abad, karena dakwah Islam menuntut sikap radikal, maka sejumlah peperangan pada zaman Nabi SAW pun tidak seperti model perang “Bar-Bar”.  Sebab, meski perang yang mungkin sering dikontekskan dengan makna “radikalisme”, Islam melarang merusak tanaman, menghancurkan rumah ibadah, membunuh orang tua renta, anak-anak dan perempuan. Sebuah etika yang tidak pernah kita temukan dalam perang-perang di dunia yang jauh dari etika kemanusiaan.

Membangun Komunikasi Antiradikalisme

Tanpa ada wacana radikalisme yang multiperspektif dan tidak bermakna tunggal, ajaran Islam sejak kelahirannya melawan radikalisme. Seorang muslim yang secara mendasar menjalankan Islam secara menyeluruh bukanlah berpaham radikal (radikalisme) karena meyakini perintah Allah SWT sebagai suatu jalan yang benar. Hal ini juga diyakini oleh ajaran di luar agama Islam. Maka, ketika berbicara pilihan agama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW—yang setiap  bulan Maulid diperingati kelahirannya—maka Rasulullah SAW mengajarkan, “lakum dinukum waliyadin” sebagai bentuk komunikasi seseorang yang saling menghargai dalam konteks keyakinan yang berbeda. 

Seorang muslim yang berfikir dan bertindak radikal yang ditampilkan dari simbol jenggot tidak serta merta dituduh radikalisme. Kita tidak boleh terjebak dengan  framing media massa tentang “oknum” berjenggot yang mengebom atau merusak fasilitas atas nama “takbir” yang dikonstruksikan identik dengan Islam. Buktinya, para ulama-ulama terdahulu tidak pernah mempersoalkan identitas private sebagai ekspresi keyakinan agamanya dan tetap menjadi penggerak perubahan masyarakat yang damai. Simbol komunikasi religi para kyai di nusantara yang berjenggot tidak pernah kita permasalahkan  karena itu bukan ekspresi radikalisme.  Cinta tanah air mereka juga sudah dibuktikan dengan resolusi jihad melawan penjajah kafir yang mengeksploitasi dan menghegemoni wilayah bumi pertiwi.

Untuk itu, komunikasi antiradikalisme ini menjadi penting untuk menegaskan bahwa radikalisme tidak bisa diidentikkan dengan Islam sebagaimana dinyatakan Kapolri Idham Azis. Tentunya, dengan mengkomunikasikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dalam berbagai tindakan komunikasi yang berkaitan dengan bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum,  pendidikan, dan aspek kehidupan komunikasi lainnya. Logika komunikasinya sederhana, dengan berfikir dan bertindak radikal (mengakar, mendasar), ajaran Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, bukan malah menyuburkan radikalisme (menyebarkan paham dan tindakan kekerasan). Berbahaya jika mensimetriskan ajaran Islam dengan radikalisme karena tidak ada relevansinya sama sekali!

*) Dr. Kun Wazis, M.I.Kom, Dosen  KPI Pascasarjana IAIN Jember, Anggota Ombudsman Jawa Pos Radar Jember.

IKLAN