Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat mengunjungi Papua. Jokowi meminta perbankan menurunkan suku bunga kredit. OJK diminta mendukung perbankan, seperti memberi insentif kepada bank yang membuka cabang di daerah pelosok, seperti Wamena. (Cendrawasih Pos/Jawa Pos Group)

JawaPos.com – Situasi ekonomi global yang tidak pasti menjadi tantangan bagi Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mendorong perbankan lebih berperan aktif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Salah satu caranya, menurunkan suku bunga kredit.

“Saya mengajak (perbankan) untuk serius memikirkan cara menurunkan suku bunga kredit,” kata Jokowi saat membuka Indonesia Banking Expo di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (6/10). Pemimpin 58 tahun itu lantas menyatakan bahwa sejumlah negara sudah mulai menurunkan suku bunga kreditnya untuk menjaga iklim usaha.

Di Indonesia, kata Jokowi, BI rate sudah menurunkan suku bunga acuan. “(Tapi) banknya belum. Ini saya tunggu,” ujar dia, lantas disambut tepuk tangan para bankir. “Tepuk tangan berarti setuju,” selorohnya.

Selain menurunkan suku bunga kredit, Jokowi meminta perbankan mempermudah akses pinjaman ke pelaku usaha mikro. Menurut dia, selama ini perbankan cenderung hanya merangkul pengusaha besar.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi meminta Otoritas Jasa Keuangan selaku regulator dan pengawas perbankan aktif mendukung. Yakni, menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif. “Kalau mau buka cabang di Wamena, berikan insentif. Apa, misalnya,” katanya.

Terkait instruksi Jokowi tersebut, beberapa bank menyatakan kesanggupan mereka. ”Suku bunga (bank) pasti memang harus mengikuti pasar, jadi bank follow the trade. Kalau pasar turun, tidak ada alasan kita tidak menurunkan. Tapi, ada mekanisme mengatur pricing di luar market,” papar Dirut BRI Sunarso.

Direktur Keuangan BTN Ario Bimo juga menyatakan akan melakukan evaluasi penyesuaian suku bunga kredit. Sebab, saat ini kondisi likuiditas perbankan masih cenderung ketat. Selain berebut dana publik dengan fintech alias pinjaman online, bank bersaing dengan pemerintah lewat penerbitan surat berharga negara (SBN).

Sementara itu, Dirut BCA Jahja Setiaatmadja mengakui bahwa suku bunga kredit di Indonesia terlalu tinggi. Namun, dia menekankan bahwa pertumbuhan kredit tidak selalu berkaitan dengan penurunan suku bunga.

“Saya setuju sekali bahwa perlahan pinjaman harus diturunkan, tapi jangan ada argumentasi bahwa kalau interest rate turun kredit pasti naik. Belum tentu,” tegas Jahja.

Sementara itu, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menuturkan bahwa perbankan punya banyak pertimbangan untuk menurunkan suku bunganya. Menurut dia, pemerintah lebih dulu harus mempertimbangkan penurunan instrumen surat berharga negara (SBN).

“Kenapa? Karena ternyata persaingan suku bunga dana dan SBN cukup besar,” ujar dia saat ditemui di IBEX kemarin.

Menurut Aviliani, seluruh otoritas sebaiknya mendiskusikan bersama persoalan tingkat bunga yang berbeda antara SBN dan simpanan berjangka. Selama perbedaan suku bunga masih ada, Perbanas memprediksi persoalan likuiditas akan tetap dialami perbankan.

Ketatnya likuiditas itu membuat bank tak leluasa menyalurkan kredit. “Makanya, di sini OJK perlu turun tangan. Harus lebih melihat apa masalahnya. Kalau perusahaan bagus sebenarnya hanya masalah cash flow jadi bisa restrukturisasi, jadi harus fleksibel,” ujarnya.

SUKU BUNGA DASAR KREDIT (SBDK)

BCA | (dalam persen)

Kredit Korporasi | 9,75

Kredit Ritel | 9,90

Kredit Mikro | n/a

Kredit Konsumsi KPR | 9,90

Kredit Konsumsi Non-KPR | 8,61

BRI | (dalam persen)

Kredit Korporasi | 9,95

Kredit Ritel | 9,90

Kredit Mikro | 17,25

Kredit Konsumsi KPR | 9,90

Kredit Konsumsi Non-KPR | 12,00

BNI | (dalam persen)

Kredit Korporasi | 9,95

Kredit Ritel | 9,95

Kredit Mikro | n/a

Kredit Konsumsi KPR | 10,50

Kredit Konsumsi Non-KPR | 12,50

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (far/ken/dee/c10/hep)

IKLAN