Massa pengunjuk rasa membakar ban di dekat kantor konsulat Iran di Karbala (Murtaja Lateef/EPA)

JawaPos.com – Unjuk rasa di Irak makin masif dan panas. Pada Minggu (3/11) malam waktu setempat, puluhan demonstran menyerang kantor konsulat Iran di Kota Suci Syiah, Karbala. Mereka mengelilingi tembok pembatas dan ada pula yang memanjat.

Tak hanya memanjat, mereka bertindak anarkis dengan menurunkan bendera Iran dan menggantinya dengan bendera Irak. Hal itu disebutkan oleh saksi mata yang tak disebutkan namanya seperti diberitakan oleh Aljazeera.

Para demonstran juga melemparkan batu dan membakar ban di sekitar gedung. Hal itu membuat polisi yang berjaga melakukan tindakan tegas. Mereka melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan para demonstran. Hingga saat ini, tidak ada laporan detail tentang korban dalam insiden tersebut.

Unjuk rasa masif di Irak yang berakhir rusuh di Irak digelar untuk memprotes sistem politik pascaperang. Selain itu, para demonstran juga mengkritik elite politik yang diduga melakukan korupsi. Kemarahan demonstran juga ditargetkan ke Iran. Mereka menuding orang-orang kuat kelompok Syiah di Irak memiliki hubungan cukup erat dengan pihak Iran.

Demonstrasi yang sudah berlangsung sejak pertengahan bulan lalu sudah memakan banyak korban. Dilaporkan sekitar 250 pengunjuk rasa tewas.

Protes anti-pemerintah di Karbala, Baghdad, dan kota-kota di seluruh Irak selatan memang kerap berujung menjadi kekerasan. Hal tersebut memaksa pasukan keamanan melepaskan tembakan ke udara dan gas air mata.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Feisal Istrabadi, mantan duta besar Irak untuk PBB dan Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Indiana, mengatakan bahwa kekerasan di Irak akibat demonstrasi yang masif masih akan terus berlanjut.

“Saya sangat takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kkita tidak memiliki cara untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya,” beber Istrabadi yang menilai para pemimpin Irak saat ini akan sulit untuk meredakan protes yang tengah marak.

Unjuk rasa pada Minggu (3/11) terbilang ekstrem. Para demonstran juga memblokir jalan-jalan utama dengan membakar ban. Mereka membentangkan spanduk di salah satu jalan dengan tulisan “Jalan ditutup atas perintah warga”.

Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi menyebut aksi unjuk rasa telah mengubah demonstrasi menjadi “festival rakyat” yang menyatukan bangsa dan “penjahat”. Kelompok tertentu telah menggunakan para demonstran sebagai “perisai manusia” ketika menyerang pasukan keamanan.

Editor : Edy Pramana

IKLAN