MASIH ingat benar ketika saya mendatangi coach Fakhri Husaini di bench pemain dalam latihan pagi perdana Timnas U-16 di Stadion Jenggolo tahun lalu. Waktu itu mereka sedang menggelar pemusatan latihan (TC) sebelum Piala AFF U-16 di Sidoarjo. Kala itu, hanya saya seorang wartawan yang wawancara coach Fakhri seusai training pagi.

Berbagai pertanyaan saya lontarkan, termasuk apakah dengan bermain di Sidoarjo jadi beban tersendiri bagi anak asuhnya, agar dituntut juara di hadapan publik Sidoarjo. Mengingat, Timnas Junior U-19 besutan Indra Sjafri pernah mengukir tinta emas menjadi juara Piala AFF U-19 tahun 2013 silam. Fakhri pun menjawab dengan tegas. Bahwa timnya bukan disiapkan untuk juara Piala AFF U-16 itu saja, tetapi penggawa timnas junior dipersiapkan untuk menjadi pemain senior masa mendatang.

“Saya tekankan kepada pemain, kalian belum menjadi bintang. Tetapi mereka-mereka ini adalah calon bintang timnas Indonesia masa depan,” ucap pelatih asal Lhokseumawe, Aceh ini.

Tapi, akhirnya, anak asuh Fakhri Husaini lah yang keluar sebagai juara Piala AFF U-16 2018 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo (GDS). Sementara Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri yang kala itu juga bermain di GDS dalam Piala AFF U-19 2018, mendapat titel juara tiga.

Seiring berjalannya waktu, si kembar Bagus dan Bagas Kahfi, Brylian Aldama, Sutan Zico, Rendy Juliansyah, David Maulana, Supriyadi, maupun Ernando Ari dan rekan-rekannya lain menjadi bintang kecil. Nama-nama mereka dieluh-eluhkan fans Garuda. Sejak mereka berhasil menorehkan prestasi prestisius di GDS malam itu (11/8/2018). Skuad Garuda muda mulai banyak penggemarnya. Tidak ada yang salah, itu semua memang bentuk kecil apresiasi fans Indonesia.

Tetapi yang patut diperhatikan, mereka masih menjadi pemain junior kita. Pemain junior masa depan untuk skuad Garuda Senior. Pemain junior yang belum pantas menjadi superstar. Pemain junior yang belum pantas dieluh-eluhkan nama besarnya. Pemain junior yang masih belum pantas menyandang beban berat untuk juara di level junior. Ya, mereka masih potensial mengukir prestasi lebih tinggi daripada sekedar juara Piala AFF U-16. Karena jenjang karirnya untuk timnas senior. Itu tujuan utamanya. Menyalurkan pemain junior untuk skuad senior.

Apalagi kini even bergengsi Piala Dunia U-20 tahun 2021 sudah di depan mata. Indonesia patut berbangga diri, karena kita resmi menjadi tuan rumah. Sebab, sebagai tuan rumah, Indonesia langsung otomatis lolos. Ini menjadi keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia setelah tahun 1979 silam. Dan mereka, Bagas-Bagus cs punya peluang besar, dua tahun mendatang main di Piala Dunia pertamanya.

Tentu banyak pekerjaan rumah apabila mereka memang disiapkan untuk ajang sekelas World Cup U-20 2021. Mulai dari pembentukan tim sampai hal-hal non teknis lainnya. Harus digaris bawahi statement coach Fakhri tadi, “Mereka belum bintang, tetapi calon bintang”.

Pemain junior Indonesia kini harus benar-benar di kontrol dari dunia kepopularitasan layaknya pemain profesional lainnya. Terkadang popularitas pemain dapat membuat mereka lupa diri. Tentu itu menjadi boomerang buat pemain kita. Dampak star syndrome sangatlah berpengaruh.

Pengaruh negatif star syndrome merasa lebih cepat puas diri. Apalagi dia sudah mulai terpandang menjadi publik figur dari kepopuleran yang dia dapat. Selain itu dampak merasa tidak ada saingan juga bisa menjadi bumerang. Seakan semua bergantung pada dirinya. Merasa jemawa, merasa punya skill di atas rata-rata. Padahal 11 pemain diatas lapangan punya peran yang sama.

Selain star syndrome, pemain junior kita harus dibimbing benar soal mentalitas. Psikologis mereka harus benar-benar diperhatikan. Sebelum dan sesudah bertanding, mental mereka harus tetap terjaga. Bagaimana mengendalikan emosional, mood, sampai ketenangan. Peran psikolog tim sangatlah besar. Terus memotivasi mereka, menjaga semangatnya, menjaga suasana jiwa dan pikirannya. Sebab, mereka bakal menghadapi tekanan yang luar biasa nantinya.

Star syndrome, mentalitas, sampai pengaruh match fixing. Betapa pengaruhnya kalau mereka sudah dihadapkan dengan match fixing. Semoga saja mereka belum bertemu pada kejahatan sepakbola itu. Positive thinking saja. Sebab, match fixing dapat mempengaruhi pada mentalitas pertandingan. Sudah jauh dari nilai sportivitas dan fair play. Dosa besar mafia yang berdampak besar pada bakat-bakat pemain junior kita. Yang seharusnya pemain junior kita juara di Liga A semisal, harus tertunda karena ulah kotor mafia. Dampaknya pada pemain junior kita yang tak percaya diri sampai tahu kezaliman ulah mafia tengik itu.

Pengaturan skor, pencurian umur, sampai ketidakadilan wasit jangan sampai diperlihatkan kepada adik-adik kita. Budaya kotor yang sudah lama ada di Liga Indonesia, jangan sampai diternak lagi apalagi sampai ada di dalam persiapan pemain junior kita. Persiapan lainnya ada di PSSI. Persiapan tim menuju Pildun ada di tangan PSSI. Bagaimana kini mereka menyiapkan tim untuk minimal tampil maksimal saja. Mulai dari pembentukan tim sampai menggelar kompetisi yang tak lagi amburadul. Apalagi beberapa eks pemain Timnas U-16 tahun lalu, kini juga ikut di tim Garuda Select Jilid 2 ke Inggris. Persiapan dari kompetisi dengan jadwal yang ditata rapi itu lah, salah satu faktor persiapan pemain junior kita.

Sebenarnya sudah banyak catatan apik dari tim junior kita. Berlaga di turnamen Kelompok Umur (KU) Garuda Muda seakan digdaya menghadapi lawan-lawannya. Jangankan ASEAN, tim Asia maupun Eropa kita bisa mengimbangi. Selain juara Piala AFF U-16 2018, Fakhri Husaini juga hampir saja melenggang ke Piala Dunia U-17 Peru. Ada juga Timnas U-22 asuhan Indra Sjafri berhasil menjadi kampiun Piala AFF Cup di Kamboja beberapa bulan lalu.

Tapi, lagi-lagi persoalan klasik, ketika mereka melewati fase junior ke senior. Fase pra profesional itulah yang sangat riskan. Berbagai problem diatas tadi, menjadi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mereka.

Mindset belum menjadi bintang harus ditekankan kepada pemain junior kita. Mereka belum menjadi superstar. Mereka belum menjadi yang terbaik. Sebab, mereka kelak bisa menjadi terbaik dari yang terbaik. Bisa dibayangkan perjuangan yang tak sia-sia dari latihan keras, akan terbayar lunas. Ketika satu stadion bergemuruh merayakan gol penting. Jadi, persiapan sebelum Pildun, pemain junior kita memang belum bintang, yang tak sepatutnya dielu-elukan layaknya bintang. Perjalanan mereka masih panjang. Benar kata coach Fakhri, “Mereka belum bintang, tetapi calon bintang”.

*) Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Jember.

IKLAN