TANGGAL 22 Oktober menjadi tanggal ‘keramat’ bagi para santri. Bukan semata karena Hari Santri Nasional (HSN) jatuh pada hari itu. Walakin, tepat pada tanggal tersebut 74 tahun silam, nasionalisme santri mendapatkan ujian.

Belanda melalui Netherlands-Indies Civiele Administration (NICA) yang membonceng Inggris, pasca kemenangan sekutu dalam perang dunia kedua, secara terang terangan ingin kembali menguasai Indonesia. Padahal 17 Agustus pada tahun yang sama, bangsa Indonesia telah resmi meneguhkan status hak milik atas negeri kaya ini melalui proklamasi kemerdekaan.

Mbah Hasyim Asy’ari, mengetahui ‘tanahnya’ berusaha dirampok oleh imperialis Belanda, mengumandangkan seruan suci. Seruan yang kemudian populer sebagai Resolusi Jihad ini, menegaskan bahwa mempertahankan tanah air dari gangguan penjajah bernilai suci. Mati di jalan perjuangan suci membela negeri adalah investasi meraih kebahagiaan hakiki.

Inilah jihad santri yang diajarkan Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Jihad dalam bentuk perjuangan suci yang lahir dari kejernihan sanubari bahwa membela tanah air adalah manifestasi iman di hati. Jihad ini tidak akan lahir kecuali dari orang yang dalam dirinya bersemayam jiwa nasionalisme tinggi (ruhu al-wathaniyah al-aliyah).

Hubbul wathan minal iman, cinta negeri sebagian dari iman, adalah kredo asasi kaum santri. Kredo tersebut merepresentasikan teologi kebangsaan kaum santri; satu kredo yang menyemburat dalam keberanian untuk mati demi NKRI.

Teologi kebangsaan tidak hendak menyerukan formalisasi, apalagi kampanye NKRI berlabel syar’i. Perdebatan seputar Islam sebagai dasar ideologi telah usai sejak bangsa ini belum lama berdiri. Pancasila adalah konsensus (ijma’) seluruh anak negeri yang dengan demikian telah menyudahi polemik hubungan Islam-Indonesia.

Teologi kebangsaan juga bukan seruan untuk kembali kepada konsepsi politik 14 abad silam, karena faktanya tidak ada konsepsi spesifik mengenai prototipe ketatanegaraan yang diajarkan Nabi. Buktinya, para sahabat yang derajat kedekatannya kepada nabi paling tinggi, mempraktikkan inovasi praktik politik yang nabi sendiri tidak pernah teladani.

Maka mereka yang keranjingan teriak khilafah di bumi pertiwi, sejatinya benar-benar sedang hidup dalam imajinasi. Mereka adalah para penganut, meyitat Gus Dur, Islam utopis. Tidak salah juga jika kita sematkan kepada mereka sebutan kaum hatiin; orang-orang yang keliru menerjemahkan idealitas politik Islam, bahkan mereduksinya menjadi sekadar simbol-simbol pseudo religi.

Teologi kebangsaan kaum santri adalah antitesa dari semua itu. Alih-alih mempertentangkan, teologi kebangsaan kaum santri lahir dari keinsafan bahwa Islam-Indonesia saling melengkapi. Mencintai Indonesia adalah wujud sejati dari cinta Islam. Kesalihan dalam Islam, menuntut manifestasinya dalam perjuangan membela negeri.

Teologi kebangsaan kaum santri menolak segala bentuk ideologi yang berusaha merobohkan bangunan negeri. NKRI dengan Pancasila sebagai common denominator-nya (Latif, 2011) telah final. Bagi kalangan santri NU, Pancasila selaras dengan nilai-nilai Islam, dan karena itu ber-Pancasila adalah membumikan ajaran Islam dalam konteks Indonesia itu sendiri.

Pancasila adalah akad agung (mitsaqan ghalidah) yang lahir dari historisitas bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Historisitas demikian lahir dari pergumulan panjang bangsa mewujudkan cita-cita bersama. Karena itu, Pancasila adalah jati diri dan produk indigenous anak negeri, bukan barang impor yang dipaksakan menjadi falsafah dasar (philosofische grondslag) bangsa ini.

Teologi kebangsaan kaum santri memandu para santri untuk memastikan falsafat ini lestari. Salah satunya dengan berlomba-lomba mengaktulisasikan nilai-nilainya untuk memajukan negeri. Bukan malah mundur (setback) mempersoalkan syar’i tidaknya Pancasila sebagai ideologi.

Pendirian ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Misalnya menjadi sasaran segala macam tuduhan keji. Karena pendirian ini, tidak kurang dari tokoh sebesar Mbah Wahab Hasbullah tidak luput dari tuduhan sebagai Kiai diktator, pemecah umat, Nasakom, dan segala bentuk insinuasi (Fealy, 1997).

Kendati demikian, tidak sedikit pun ghirah para kiai dan santri surut untuk menjaga NKRI, karena teologi kebangsaan ini telah menyatu dengan setiap helaan napas santri. Toh sejarah telah membuktikan kebenaran pendirian ini, dan l’ histoire se repet (sejarah akan berulang).

Ada dua dasar justifikasi teologi kebangsaan kaum santri. Secara teologis, Indonesia adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada bangsa ini. Menjaga anugerah ini adalah kewajiban sebagai manifestasi penghambaan kepada Allah Yang Mahakasih.

Secara historis, bangsa ini terdiri dari ragam suku bangsa dan agama. Mustahil bangsa yang beraneka ragam ini tetap lestari hingga kini, tanpa kearifan dari seluruh anak bangsa untuk saling hormat dan menghargai. Kearifan inilah yang diteladani para pendiri bangsa dengan menghindari sikap etnosentrisme berbasis suku agama.

Kenyataan ini mendasari teologi kebanggaan kaum santri. Teologi kebangsaan yang mengembalikan hakikat keselarasan Islam dan NKRI. Bukan menarik garis pertentangan kedua sisi.

Dalam konteks kekinian, teologi kebangsaan kaum santri mesti diwujudkan dalam kerangka tantangan kebangsaan masa kini. Dalam kehidupan beragama, populisme dan terorisme berkedok agama menjadi tantangan bayan.

Populisme tampak dari menguatnya politik identitas (identity politic) berasas agama dengan memainkan emosi sekterian guna menarik simpati politik massa. Terorisme terlihat dari semakin seringnya Islam diperalat untuk melegitimasi teror dan ketakutan atas nama jihad suci. Populisme dan terorisme bersemuka dalam satu visi tumbangnya bangunan NKRI.

Di bidang politik, teologi kebangsaan kaum santri menentang pragmatisme sesaat. Karena itu bagi warga NU dan santri, jalan politik yang dipilih adalah politik tingkat tinggi (al-siyasah al-aliyah) bertumpu di atas nilai-nilai kerakyatan, kebangsaan, dan etika sani. Berpolitik, baik secara praktis maupun tidak, wajib menjunjung tinggi politik tingkat tinggi ini.

Di bidang ekonomi, sosial, budaya (ekosob), teologi kebangsaan santri mendorong penguatan kapasitas diri agar bisa survive di tengah era perekonomian yang semakin kompetitif. Demikian juga menjaga harmoni, mengeliminasi konflik destruktif, serta menjaga kekayaan budaya adiluhung, adalah manifestasi teologi kebangsaan santri di tengah masifnya tantangan sosial budaya kini.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia sebagai nation-state, akan ditentukan oleh seberapa kokoh syahadat teologi kebangsaan santri menancap dalam hati. Majulah santri, jayalah NKRI.

*) Penulis adalah dosen Universitas Nurul Jadid Probolinggo, berdomisili di Kabupaten Bondowoso.

IKLAN