MIKUL SELANG AIR: Anggota TNI, polisi, Satpol PP, Basarnas, BPBD, dan relawan bahu-membahu memadamkan api di dekat Paltuding, kemarin. (Ramada Kusuma/RaBa)

JawaPos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Ranti maupun Ijen belum padam. Api justru merembet ke sisi utara Gunung Ijen. Area lahan yang terbakar pun makin meluas.

Upaya tim gabungan melokalisasi titik api belum membuahkan hasil. Meski mobil damkar sudah didatangkan, kobaran api masih tak bisa dipadamkan. Kondisi itu diperburuk angin kencang yang terus melanda kawasan Ijen dan sekitarnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi tadi malam, kobaran api terus merembet ke sisi utara Ijen, yakni kawasan Merapi Ungup-Ungup yang berjarak kurang lebih 3 km dari Kawah Ijen. Bara api terlihat jelas dipandang dari Kota Banyuwangi. ”Lihat itu, kobaran apinya terlihat memerah. Itu yang terbakar Gunung Ungup-Ungup (bagian dari Gunung Ijen),” ujar Sodikin, warga Kelir, Kalipuro.

Kebakaran di Ijen dan Ranti benar-benar merepotkan petugas gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Tim SAR, Satpol PP, dan relawan. Pagi sampai sore, mereka terus berjuang memadamkan api dengan alat seadanya dibantu pasokan air dari mobil damkar.

Pascakebakaran dua hari lalu, area Paltuding dan Pos Ranti mirip kota mati. Kondisi di dua kawasan itu mirip puing-puing sisa peperangan. Di sana tidak ditemui lagi lalu-lalang wisatawan maupun penjual makanan di sejumlah warung. Yang terlihat hanya hamparan abu dari sisa semak-semak dan ranting yang terbakar.

Pohon tumbang di mana-mana. Bahkan, tumpukan troli untuk mengangkut wisatawan maupun belerang tinggal rangkanya saja. Peralatan tersebut hangus dilalap si jago merah.

Yang terlihat justru petugas gabungan. Mereka  siaga di rest area Paltuding dan warung-warung di dekat rest area Gunung Ranti. Mereka bergantian bergerak menangani api yang sesekali masih tampak muncul di sekitar Paltuding.

Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Inf) Yuli Eko Purwanto terlihat memimpin satu kompi anggotanya untuk memadamkan api di kawasan Ijen. Melihat parahnya kebakaran, Dandim mengusulkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar mendatangkan water boom. Teknisnya, helikopter mengangkut air lalu dijatuhkan di titik kebakaran.

Eko menilai, saat ini posisi api yang membakar lahan sulit dijangkau kendaraan dan alat pemadam. ”Kita sudah sampaikan ke bupati, tinggal menunggu responsnya,” tegasnya.

Kepala Resort Tempat Wisata Alam (TWA) Ijen Sigit Hari Bowo mengatakan, api masih terus menjalar di sekitar Ijen. Saat ini hampir semua puncak, mulai Gunung Widodoren, Ijen, dan Merapi Ungup-Ungup sudah terbakar. ”Jalur pendakian sudah tinggal separo. Yang separonya lagi tidak bisa dilalui. Ini sangat  bahaya. Asapnya sudah terlalu tebal,” kata Sigit.

Karena itu, pihaknya sejak dua hari lalu sudah menghentikan seluruh aktivitas wisatawan di Ijen dan sekitarnya. Larangan itu mengacu surat edaran dari BBKSDA Jawa Timur untuk menutup TWA Ijen sejak tanggal 20 Oktober hingga waktu yang tidak ditentukan.

Kendati begitu, masih ada enam orang petugas vulkanologi yang bertugas menjaga sulfur di dekat kawah Ijen. Mereka menjaga aset milik PPGA Ijen yang berada di sekitar kawah. ”Kalau wisatawan sama pendaki sudah tidak ada. Penambang juga sudah kita minta berhenti. Kalau penjaga sulfur, mereka sudah menggunakan pelindung khusus,” terangnya.

Untuk aset milik TWA Ijen, sebagian besar masih utuh. Hanya beberapa warung dan toilet yang rusak karena tertimpa pohon saat angin kencang berembus. Sedangkan untuk kondisi di pendakian belum terpantau utuh. Asap masih mengepung sebagian besar jalur pendakian. ”Kantin di Pos Bunder masih utuh. Petugas BKSDA dibantu relawan berusaha semampunya untuk mematikan setiap titik api,” ujar Sigit.

Dia memprediksi api masih bisa terus menjalar jika belum ada langkah tepat. Apalagi banyak pohon-pohon kering yang sudah 3,5 tahun tidak pernah terbakar. ”Penutupan belum bisa diprediksi sampai kapan. Api masih bisa terus menjalar,” katanya.

Sigit sependapat dengan Dandim bahwa perlu didatangkan water boom untuk menghentikan api. Listrik sementara terputus, hanya sinyal seluler yang masih bertahan. ”Energinya kita dapat dari genset,” jelasnya.

Koordinator Basarnas Banyuwangi Risky Putra Buana mengatakan, untuk memadamkan api butuh hujan buatan. Jika hanya mengandalkan pemadam kebakaran, sudah terlambat. Apalagi melihat api yang didorong angin kencang sehingga terus meluas. ”Anggota sampai tidak bisa memprediksi luasan karena hampir 50 persen kawasan hutan lindung terbakar. Harus ada hujan buatan atau kita berharap cepat turun hujan,” harapnya.

Kabid Kedaruratan dan Penanggulangan Bencana BPBD Banyuwangi Eka Muharam mengatakan, luasan kebakaran di wilayah Gunung Ranti mencapai 10 persen dari total luasannya. Angka itu jika dikonversikan bisa menjadi ratusan hektare. Begitu juga di kawasan Ijen. Api sudah sampai ke wilayah konservasi hutan di sekitar Merapi Ungup Ungup. Cakupannya mencapai jarak 2 kilometer dengan lebar 500 meter.

”Luasannya sudah sampai 500 hektare. Ini masih bisa bertambah. Penanganan kita sudah maksimal. Kita keterbatasan alat-alat untuk memadamkan api,” kata Eka.

Pengerahan personel tambahan sudah cukup maksimal. Namun, jika kebakaran masih meluas, Eka berharap bupati bisa menetapkan status tanggap darurat untuk kawasan Ijen. Dengan harapan, nantinya operasi bisa lebih serius dan terkomando.Termasuk pelibatan BNPB untuk mengerahkan helikopter. ”Kalau status sudah tanggap darurat kita harap nanti ada bantuan air dari atas dengan water boom,” pungkasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

IKLAN