SALAH satu keinginan Pemkab Jember sekarang ini adalah menarik sebanyak-banyaknya wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Dengan cara apa? Salah satunya event pariwisata dan tradisi budaya yang ada.

Ya, Jember sudah punya Jember Fashion Carnaval (JFC) yang menjadi kebanggaan tersendiri. Parade karnaval kelas internasional ini pun sudah tak diragukan lagi. Meski telah ditinggal founder-nya, Dynand Fariz, mereka membuktikan diri untuk konsisten terus mengembangkan JFC.

Selain JFC, tahun ini saja ada beberapa event lainnya yang sudah digelar. Sebut saja Waton Pegon, Karnaval Pendalungan, dan Festival Egrang Tanoker. Hanya saja, untuk menarik ribuan wisdom datang ke sana pun cukup susah. Jangankan ribuan, ratusan saja masih susah. Lantas, harus dengan cara apa lagi?

Pengembangan pariwisata dan kebudayaan di suatu daerah dapat dilakukan melalui berbagai cara. Potensi wisata alam yang dimiliki, tradisi seni budaya yang mempunyai nilai sejarah cukup panjang, maupun event buatan. Mulai dari karnaval ataupun event nasional, bahkan internasional.

Lantas, selain karnaval, event, dan budaya, cara apa lagi yang dapat menarik wisdom atau wisman? Salah satu opsinya sports tourism. Wisata olahraga. Opsi itu tentu sudah banyak diadakan di berbagai daerah Nusantara. Tak perlu jauh-jauh, coba tengok Banyuwangi yang sudah rutin menggelar Tour de Banyuwangi Ijen (TdBi) ataupun Tour de Singkarak yang berada di Sumatera Barat.

Sports tourism ini tak melulu soal pertandingan dan mendapatkan sebuah medali. Melainkan juga sebagai ajang wisata peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Sports tourism punya sensasi berbeda saat kita melihat sebuah euforia pertandingan olahraga yang nantinya menggabungkan wisata dan sports.

Pada dasarnya, sports tourism adalah kegiatan olahraga bertujuan mempromosikan pariwisata suatu daerah dengan cara menggelar acara olahraga besar di daerah itu agar daerah itu semakin terkenal. Secara garis besar, kategori sports tourism ada tiga macam. Mulai hard sports tourism, soft sports tourism, sampai bahari sports tourism.

Hard sports adalah gelaran olahraga yang bersifat besar. Sebut saja macam gelaran turnamen tingkat nasional hingga internasional. Mulai dari Porprov, PON, Sea Games, atau Asian Games. Sedangkan soft sports, olahraga sehari-hari yang sering kita jumpai. Macam berlari atau sepeda.

Soft sports ini bisa diikuti seluruh masyarakat. Peserta tak hanya dari kalangan atlet saja. Untuk bahari sports tourism, kegiatan olahraga ini lebih mendekatkan diri ke alam. Sebut saja macam hiking, diving, off road, dan surfing.

Tiga kategori itu masih bisa direalisasikan di Jember. Tapi itu semua tergantung ke pemkab lagi. Hard sports, Jember punya JSG yang bisa menjadi tuan rumah laga kelas nasional untuk turnamen nasional dulu. Untuk soft sports, Jember bisa menerapkan macam tour-tour bersepeda atau running. Atau bahari sports, Jember didukung dengan keindahan alam perkebunan yang dapat dimanfaatkan untuk off road.

Manfaat sports tourism tentu sangat banyak. Peningkatan sektor nonjasa dan jasa berpengaruh kepada tingkat sosial ekonomi masyarakat. Event olahraga lokal, nasional, maupun internasional yang sering dilaksanakan tentu akan merangsang perkembangan geliat ekonomi.

Selain itu, wisdom juga dapat menilai ekspektasi terhadap kualitas pelayanan yang ada di Jember. Dengan begitu, sebagai tuan rumah, dapat mengukur kualitasnya sendiri. Dampak positif lainnya, sports tourism sebagai promosi gratis di sosial media yang sudah menjadi alat pemasaran efektif di dunia maya.

Sports tourism ini juga harus digabungkan dengan tren pengembangan promosi melalui teknologi. Terutama sosial media. Apalagi, Menteri Pariwisata Arief Yahya sudah mengatakan, Tourism 4.0 menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata Nusantara. Kini, program seperti Go Digital mulai jadi program strategis Kemenpar untuk memenangkan pasar di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Perubahan pasar yang lebih menonjolkan ke arah digital membuat kita mau tidak mau harus mengikutinya. Dengan perkembangan konsumen yang semakin interaktif dan mobile di era perkembangan teknologi sekarang ini, menurut Arief Yahya, penerapan digitalisasi itu di destinasi wisata untuk membangun ekosistem digital. Di antaranya arrival, inspiration, destination, hingga post-trip. Mencerminkan serba digital mencerminkan era Tourism 4.0.

Lantas, apa Jember juga sudah melangkah ke digitalisasi itu? Jawabannya sudah, tetapi tak ada perkembangan yang signifikan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember pun masih jalan di tempat untuk penerapan pengembangan digital itu. Sudah punya website Jember Tourism tapi vakum, sosmed Instagram atau Facebook juga mandek. Lantas, apa yang mau dikembangkan di sektor digitalisasi itu kalau tak ada perkembangan di sektor dunia maya?

Padahal, penerapan teknologi 4.0 berpengaruh besar terhadap wajah industri pariwisata. Konsumen yang kini didominasi millennial travelers sangat perlu digitalisasi untuk menarik mereka. Sebab, nantinya digitalisasi itu dikombinasikan dengan sports tourism, melalui informasi, pendaftaran secara daring, sampai disambungkan dengan fitur lainnya.

Gelaran sports tourism tentu bakal melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Konsistensi menjadi kunci utama juga. Keberlangsungan event olahraga yang konsisten di suatu daerah menjadikan jadwal tetap tersendiri bagi wisatawan untuk datang. Tak hanya masyarakat, penyelenggara sports tourism juga dapat melibatkan peran mahasiswa. Sebagai kegiatan bahan pembelajaran dan meningkatkan kapasitas SDM pariwisata berstandar global. Jadi, sports tourism dapat menjadi opsi bagi Jember untuk menarik wisatawan datang ke Jember, dalam sebuah even olahraga dan wisata. Didorong dengan program Kemenpar era digitalisasi sebagai elemen pendukung sports tourism itu sendiri.

*) Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Jember.

IKLAN