Tujuh puluh empat tahun silam, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945,  PBNU menyerukan Resolusi Jihad di Surabaya untuk menyikapi perkembangan situasi yang menunjukkan gelagat berkuasanya kembali penjajah Belanda di Bumi Indonesia melalui pemerintahan sipil yang disebut NICA (Nederlandsch Indie Civiele Administratie  atau Netherlands Indie Civiele Administration). Mealui Resolusi Jihad, para Ulama yang dipimpin Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari merespon pertanyaan Presiden Sukarno tentang apa hukumnya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia melawan penjajah?, para Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad untuk membakar semangat perjuangan seluruh lapisan masyarakat.

Pada tanggal 22 Oktober 2015 barulah momentum gelora perjuangan rakyat, khususnya para santri yang dikomando para kyai tersebut ditetapkan oleh Presiden RI sebagai Hari Santri Nasional (HSN), dan dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut sudah barang tentu melalui proses kajian komprehensif dan memerlukan panjang. Karena, semua yang telah diputuskan akan berdampak strategis bagi perjalanan bangsa dan berjangka waktu sangat panjang

Hari ini, HSN telah memasuki tahun kelima (2015-2019), dan semangat Resolusi Jihad terus bergema selama 74 tahun. Sudah waktunya jika kita melakukan refleksi, menyamakan persepsi, agar apa yang hendak kita lakukan lebih terarah.

Refleksi pertama, kita perlu menyamakan persepsi untuk memperjelas jatidiri siapa yang disebut santri. Hasil kajian para ahli tentang pesantren, seperti Zamaksyari Dhofier, Karel A Steenbrink, Manfred Ziemek, Hiroko Horikoshi, dan dalam Undag-Udang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren selalu menegaskan bahwa santri adalah peserta didik di pesantren di bawah bimbingan kyai. Peserta didik di pesantren bisa dipahami sebagai santri mukim dan santri non-mukim atau santri kalong. Santri mukim adalah santri yang memang bermukim di asrama pesantren, baik dia belajar di lembaga pendidikan yang ada di kompleks pesantren atau di luar kompleks pesantren. Sedang santri non mukim adalah santri yang tidak mukim di asrama pesantren, meskipun dia belajar di lembaga pendidikan yang ada di kompleks pesantren, apalagi di luar kompleks pesantren. Tidak salah jika santri mukim memiliki keterikatan secara psikologis dan ta’lim kepada kyai, sedang santri kriteria non-mukim, keterikatan tersebut relatif lemah. Dan, karena itu, keberadaan hari santri dan pengakuan pemerintah tentang hari santri sangat dirasakan pengaruhnya oleh santri mukim, karena santri inilah yang sering bersama kyai dalam suka dan duka, termasuk dalam sejarah Resolusi Jihad dan beragam perjuangan lainnya.

Refleksi kedua, bisa kita renungkan ulang tema-tema hari santri dari tahun ke tahun. Dalam tiga tahun terakhir, HSN mengambil tema menarik yang merefleksikan peran santri sekarang dan ke depan. Tahun 2017, HSN mengambil tema: “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Santri adalah kelompok peserta didik yang belajar dengan  mandiri sejak menempuh pendidikan di pesantren, hingga ketika terjun di masyarakat. Santri selalu hidup mandiri tampa banyak mengeluh ataupun menuntut. Dengan tema Santri Mandiri, NKRI hebat menegaskan kembali kebulatan tekad akan NKRI yang oleh PBNU dinyatakan sebagai bentuk final negara Indnesia, demikian halnya dengan Pancasila. Santri mendukung penuh Pancasila, nasionalisme serta menolak  berbagai bentuk radikalisme atas nama agama maupun ideologi khilafah anti Pancasia. Tahun 2018 HSN mengambil tema: “Bersama Santri Damailah Negeri”. Pesantren adalah citra kehidupan yang damai, pesantren adalah potret mini kehidupan masyarakat plural. Di Pesantren, santri diasah dan diasuh oleh kyai untuk berpikir, bersikap dan berprilaku sesuai dengan akhlaq al-karimah. Oleh karena itu, tepat sekali jika tahun 2019 HSN mengambil tema: “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”, karena nilai-nilai kesantrian, jika dibarengi dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa diimlementasikan dalam lingkup global. Santri bisa menjadi duta umat yang harus berpikir, bersikap dan bertindak moderat. Santri pada umumnya tetap konsisten diatas jalan tengah, jalan yang tidak terseret ke ekstrim kiri seperti komunisme, liberalisme, maupun ekstrim kanan seperti radkalisme dan terorisme. Santri harus menjadi contoh dan referensi masyarakat luas tentang pemikiran, sikap dan perilaku moderat yang menyejukkan dan mendamaikan yang diajarkan Islam. Karena ke depan, nilai-nilai yang patut diperjuangkan kaum santri dalam era digital adalah nilai-nilai ketegasan sekaligus nilai tasamuh dan tawazun, yakni berjiwa terbuka (open mind) dan berlapang dada dengan beragam perbedaan. Santri harus tegas ketika menyikapi perbedaan yang menyangkut aqidah, tapi santripun dituntut fleksibel, tasamuh ketika menyikapi perbedaan yang menyangkut furu’iyah dan mu’amalah.

Refleksi ketiga, HSN sungguh telah membuat komunitas santri bangga, di setiap pesantren menggelar doa, upacaya, dan perayaan HSN, di setiap kampus yang banyak di akses kaum ssantri menggelar doa bersama, upacara, dan beragam aktivitas HSN, di ormas keagamaan khususnya NU, kegiatan HSN diadakan secara semarak, sakig semangatnya tercipta iklim berkompetisi dengan kegiatan pemerintah di baik di daerah kabupaten/kota, di tingkat propinsi maupun di nasional. Walhasil, HSN bukan hanya milik NU, tapi menjadi milik semua. HSN bukan sekedar mejadi monopoli daerah, tapi sudah menjadi hari nasional, Hari Santri Nasional.

Ke depan, yang lebih penting khususnya bagi santri, bahwa HSN jangan dianggap cukup hanya dengan maraknya kegiatan dan aktivitas seremonial dimana-mana, di level terendah sampai level tertinggi. Bagi santri, HSN harus bisa menginspirasi peluang dan kreasi. Bagi santri, HSN harus bisa menghadirkan akses baru dibidang ilmu, ketrampilan dan peluang-peluang strategis bagi santri. Karena, diakui maupun tidak, ilmu yang diakses kaum santri mayoritas masih memonopoli ilmu-ilmu agama dan sosial, masih sangat terbatas kaum santri yang menekuni ilmu-ilmu eksak dan kedokteran. Pilihan akses ilmu ini tentunya akan berdampak terhadap ketrampilan dan peluang yang bisa diakses serta pendekatan dakwah kaum santri, termasuk untuk kaangan milenial. Ini pula diantara faktor signifikan, kenapa referensi keislaman kaum muda milenial banyak diwarnai oleh referensi yang tidak sesuai dengan paham ahlus sunnahh wal jamaah, karena kita kaum santri menjaga jarak dengan mereka, atau karena mereka memang tidak pernah membuka ruang diskusi dengan kaum santri. Wallahu a’lam.

Kalau Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dengan kekuatan ikhtiar, doa dan perjuangannga berhasil menyemangati generasi bangsa dengan Resolusi Jihad 22 Oktober, sehingga kita bisa menikmati kedamaian berteduh di Bumi Indenesia. Nach, mari kita syukuri dengan selalu meningkatkan kualitas ikhtiar dan doa, bahkan kita renungkan dalam-dalam, kita jadikan HSN tahun ini lebih bermakna bagi masa depan kita, lebih menginspirasi untuk membuka akses ilmu, ketrampilan dan peluangg-peluang baru bagi kaum santri. Karena, hanya dengan cara ini kaum santri akan tetap berperan di masa depan. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Pengasuh PP Shofa Marwa, Ketua Umum MUI dan Guru Besar/Direktur Pascasarjana IAIN Jember.

IKLAN