PERINGATI HARI SANTRI: Beberapa pelajar naik sepeda onthel ke sekolah dengan memakai sarung. Selama dua hari, Senin-Selasa (21-22/10), pelajar dan pegawai pemkot memakai sarung. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

Berseragam busana muslim ke sekolah maupun ke kantor adalah hal yang biasa. Namun, bagaimana jika diharuskan bersarung? Inilah cerita sejumlah warga yang selama dua hari harus menggunakan sarung saat bekerja dan sekolah.

RIDHOWATI SAPUTRI, Kanigaran, Radar Bromo

Menyambut Hari Santri Nasional, sejumlah kalangan di Kota Probolinggo diinstruksikan menggunakan sarung. Mulai pegawai Pemkot Probolinggo, guru, pelajar SD dan SMP.

Mereka semua harus menggunakan busana muslim memperingati Hari Santri Nasional. Bagi laki-laki diinstruksikan untuk menggunakan baju koko, sarung, dan berkopiah. Bagi perempuan menggunakan busana muslim putih, bawahan gelap, dan berhijab. Sedangkan bagi nonmuslim menggunakan busana yang menyesuaikan.

Instruksi ini berlaku selama 2 hari yaitu Senin (21/10) dan Selasa (22/10). Beragam respons pun diberikan oleh mereka yang ‘harus’ mengikuti ketentuan ini.

Ada orang tua yang kesulitan mengajak anaknya menggunakan sarung ke sekolah karena takut sarungnya lepas. Akhirnya dipasanglah sabuk agar sarung tidak lepas.

Di jalan-jalan saat pagi hari, sejumlah pelajar terutama pelajar putra, tidak kalah repot dengan sarung yang dikenakannya. Ada yang menyincing sarung, bahkan ada yang hanya mengenakan celana olahraga. Sementara sarungnya digantung di leher saat bersepeda.

“Agak ribet bersepeda onthel pakai sarung ini. Apalagi sepeda saya ini kan Federal dengan palang tengah,” ujar Rahmad, 13, pelajar SMPN di Kelurahan Kanigaran, Senin (21/10).

Akhirnya, Rahmat ke sekolah ini memakai celana olahraga panjang. Sementara sarung digantungkan di leher. “Baru nanti dekat sekolah sarung dipasang lagi,” ujarnya sambil tertawa.

Tapi, bagi pelajar kelas 7 SMP ini, menggunakan sarung ke sekolah merupakan pengalaman yang menarik. Mengingat ini pertama kalinya dilakukan di Kota Probolinggo.

“Kalau pakai baju muslim di sekolah sudah pernah beberapa kali. Kalau ada acara hari besar Islam juga pakai baju muslim, tapi pakai celana. Lha, ini pakai sarung,” ujarnya.

Rahmat yakin di sekolah menggunakan sarung tidak masalah. Tapi membuat susah saat dalam perjalanan pulang pergi ke sekolah karena harus bersepeda.

Hal yang sama diungkapkan Faisal Nur Muhammad, 14, siswa sebuah SMP swasta. Menurutnya, bersepeda dengan menggunakan sarung memerlukan waktu lebih lama untuk ke sekolah.

“Bisa saja naik sepeda sarungan asal pakai celana. Tapi, ribet sarungnya naik turun tersingkap palang sepeda,” keluhnya.

Lantas bagaimana dengan pegawai di lingkungan Pemkot Probolinggo? Bagi sebagian pegawai Pemkot Probolinggo, rupanya tidak masalah bekerja menggunakan sarung.

Berbeda dengan pelajar yang kesulitan saat berangkat karena bersarung, karyawan yang ditemui harian ini tidak mengalami kesulitan. Sebab, mereka menggunakan sepeda motor menuju kantor.

“Tidak ada masalah sebenarnya, tadi berangkat ke kantor sarungan. Soalnya yang lain juga pakai sarung juga. Coba kalau cuma saya yang sarungan, mungkin merasa aneh ya,” ujar Rusli, 30, salah satu PTT di lingkungan Pemkot Probolinggo.

Hal yang sama diungkapkan M. Arif Billah, kepala UPT Pasar Wonoasih. Menurutnya, memakai sarung adalah hal biasa baginya. Sebab, dia dibesarkan di lingkungan pesantren.

“Kesan pertama bagi saya adalah aneh sebenarnya, tapi saya cukup bangga. Secara kebetulan dibesarkan di lingkungan pesantren,”ujarnya.

Karena itu, bersarung bukan hal yang baru baginya dan keluarga. Menurutnya, setiap sore dia bahkan selalu memakai sarung di rumah.

Di lingkungan tempat kerjanya pun tidak ada yang terkejut dengan instruksi bersarung saat bekerja. Mengingat pedagang di Pasar Wonoasih mayoritas muslim.

“Ya ada sedikit guyonan dari pedagang. Tapi, Alhamdulillah tidak ada yang kaget. Pedagang menyambut baik kebijakan Wali Kota untuk HSN tahun 2019,” ujarnya. (hn)

IKLAN