Kelas Ibu Cerdas, Upaya Kolaboratif Melindungi Anak

EDUKASI KELUARGA: Tim kelas ibu cerdas saat memberikan pendidikan seks terhadap orang tua untuk mencegah kekerasan seksual pada anak

JEMBER, RADARJEMBER.ID  Assalamualaikum ayah-bunda, tema kali ini tentang pendampingan anak tanpa gawai untuk mencegah pelecehan seksual pada anak. Pematerinya Dwi Rokhmah, dosen FKM Universitas Jember. Pesan tersebut beredar dalam grup whatsap ibu-ibu Perumahan Taman Gading Kecamatan Kaliwates.

Mereka akan mengikuti kegiatan parenting tentang perlindungan anak.  Mulai dari edukasi tentang penggunaan gawai pada anak, kesehatan reproduksi pengasuhan anak agar terhindar dari kekerasan seksual dan lainnya. Tujuannya agar orang tua bisa mengetahui cara melindungi anak.

Para pemateri merupakan orang yang memiliki kemampuan di bidang pencegahan kekerasan seksual pada anak. Mereka tergabung dalam komunitas kelas ibu cerdas. Terdiri para dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember dan aktivis anak.

“Kami datang ke sekolah-sekolah, ke rumah warga, hingga kuliah via whatsapp,” kata Dewi Rokhmah, koordinator komunitas. Semua itu atas permintaan orang tua yang resah kelakuan anak yang dinilai sudah memprihatinkan. Sedangkan para orang tua tersebut tidak tau cara mengatasinya.

“Ada ibu yang mengeluh karena anaknya yang masih berumur tiga tahun sudah menggambar penis orang dewasa,” ungkapnya. Ternyata, gambar tak senonoh itu  diketahui dari konten gawai yang dimiliki sang ibu. Ketika mendapat aduan, Dewi Rokhmah dan timnya segera menentukan jadwal untuk memberikan materi.

Begitu juga ketika ada permintaan untuk menjadi pemateri di sekolah. Para guru menyampaikan keresahan yang terjadi pada siswanya. Misal, anak SD yang sudah berpacaran layaknya anak yang sudah dewasa.

Mendapati hal itu, Kelas Ibu cerdas tak hanya memberikan pemahaman pada sang guru. Tetapi juga mengumpulkan wali murid. Selain itu, juga memberikan edukasi khusus pada para pelajar. “Karena kalau hanya guru, tidak lengkap. Peran orang tua tak kalah penting,” tambahnya.

Ketika para guru dan orang tua dalam satu ruangan, permasahan yang dialami anak dibahas bersama. Terungkap, banyak kejanggalan yang terjadi. Misal, anak yang sudah dewasa sebelum waktunya, anak terpengaruh dengan konten negatif internet. Bila dibiarkan, hal ini akan mengancam masa depan anak-anak.

Begitu juga ketika kelas ibu cerdas membuka kelas whatsapp pukul 19.00 WIB hingga 22.00 malam. Caranya, Dewi mengirimkan materi power point ke grup tiga hari sebelumnya. Setelah itu, dibahas bersama melalui media chatting whatsapp. “Kuliah whatsapp bagi ibu-ibu sosialita, mereka yang sibuk bekerja,” tutur perempuan berkerudung ini.

Dia mencontohkan pertanyaan yang muncul dalam kuliah via whatsapp. Mulai dari pertanyaan sederhana hingga cukup sulit.  Sepeti, bagaimana cara menjaga anak yang diharuskan menggunakan gawai oleh sekolah untuk mengerjakan tugas, orang tua khawatir gawai disalahgunakan untuk mengakses konten negatif.

Kemudian, ada juga pertanyaan bagaimana tahapan memperkenalkan pendidikan seks pada anak. Kemudian berbagai pertanyaan lain tentang tantangan gawai dan ancaman kekerasan seksual pada anak.

Dewi bersama timnya, menjelaskan satu persoalan tersebut. Memperkenalkan  tentang organ tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain. Apabila mendapat perlakuan tidak senonoh, harus berlari. Selain itu, juga materi tentang memahami organ tubuh, menjaga kebersihan tubuh, antisipasi bahaya, melindungi diri saat ada orang asing yang berbuat tidak senonoh.

Dewi menilai, perlindungan terhadap anak tidak bisa dilakukan oleh satu kelompok saja. Namun, harus berkolaborasi, antara anak, guru, orang tua, lingkungan dan para aktivis perempuan dan anak. Sebab, masalah kekerasan yang terjadi pada anak sangat kompleks.

Tak hanya karena pendidikan yang rendah, namun juga karena faktor ekonomi, lingkungan, keluarga dan lainnya.  Tugas melindungi anak bukan hanya orang tua, tapi semua kalangan terlibat.

Tantangan yang kerap dialami orang tua adalah penggunaan gawai. Dewi menilai penggunaan gawai  menurukan prestasi anak di sekolah. Mereka tidak bisa belajar maksimal karena lebih menyukai gawai. Penjelasan guru tidak lebih menarik dari bermai gawai. “Di kelas tidak bisa konsetrasi, gawai sendiri sangat dinamis,” ucapnya.

Menurut dia, tak sedikit anak yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Bila itu dibiarkan, maka ada kecenderungan korban tersebut akan menjadi pelaku. “Seperti api dalam sekam, banyak yang diam,” tegasnya.

BERI PEMAHAMAN ANAK: Para pelajar saat diberi pemahaman tentang cara melindungi diri dari kekerasan seksual.

60 Kasus Kekerasan Pada Anak

Kasus kekerasan seksual pada anak sepanjang Januari hinggga 19 Oktober 2019 tercatat sebanyak 60 kasus. Jumlah itu berdasarkan catatan dari Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Kabupaten Jember. Penyebabnya beragam, mulai dari lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

Solihati, pendamping dari Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Kabupaten Jember  pemahaman orang tua tentang kekerasan seksual masih rendah.  Anak  yang menjadi korban kekerasan seksual,  orang tuanya berpendidikan rendah. Selain itu, tidak memiliki waktu untuk mendampingi anak.

Menurut dia, orang tua korban memiliki kesibukan sendiri. Mereka tak memiliki waktu untuk bersama anaknya karena harus bekerja. “Kalau dibenturkan dengan masalah keluarga, karena  faktor ekonomi. Mereka bekerja mencari nafkah,” terangnya.

Untuk itu, peran pemerintah dan NGO cukup penting untuk mencegah kasus ini. Yakni melalui edukasi orang tua tentang ancaman kekerasan seksual pada anak. Begitu memngenalkan anak tentang cara melindungi diri dari ancaman kekerasan seksual.

Banyak modus yang dilakukan oleh orang untuk mengelabui anak. Seperti mengiming-imingi untuk memberi hadiah atau uang. Saat itulah, dia mulai beraksi untuk memperdayai anak. “Ajarkan juga anak mengatakan tidak bila diajak oleh orang yang tidak dikenal,” tegasnya.

Alumnus  Pascasarjana Fakultas Hukum Unej menganjurkan agar mengajarkan anak untuk berteriak apabila dipaksa. Tak kalah penting, orang tua harus mengawasi segala kegiatan anak, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar.

Kemudian, orang tua harus menjadi sahabat bagi anak, menjalin komunikasi yang baik dengan anak, serta melakukan kontrol pada anak berteman dengan siapa saja. “Berikan ruang anak bertemu dengan temannya di rumah. Orang tua harus menjadi sahabat bagi sahabat si anak,” jelasnya.

Ketika menjadi sahabat, semua kegiatan dan keluh kesah anak diceritakan pada orang tua. Selama ini, korban kekerasan kerap menyembunyikan diri. Dia tidak berani mengatakan pada orang tua, kecuali sudah dipaksa.

Korban kekerasan tak hanya yang mengalami kekerasan seksual seperti pemerkosaan, tetapi juga anak berhadapan dengan hukum, kenakalan anak, dan lainnya.  Faktor terjadinya karena kurangnya kontrol dari orang tua, keluarga yang tidak harmonis, serta media yang tidak mendidik.

Pelecehan seksual terhadap anak, kata dia, mulai dari perlakukan yang tidak senonoh, seperti meraba-raba perempuan, melakukan tindakan asusila, bahkan mengolok-ngolok.

Bahkan, kekerasan pada anak juga dilakukan oleh perempuan. Salah satunya karena kesadaran keluarga untuk melindungi anak masih rendah. Di daerah perdesaan,  pendidikan seks masih belum menyeluruh. Salah satu indikatornya adalah rendahnya laporan terhadap penegak hukum. “Ketika ada kasus kekerasan  anak, tidak langsung melaporkan, pemerintah desa yang melaporkan,” pungkasnya. ( gus)

IKLAN

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor :