Bantu Wujudkan Cita-Cita Mahasiswa

PROGRAM BERMANFAAT: Bupati Jember dr Hj Faida MMR, bersama Kepala Dispendik Jember Edy Budi Susilo (paling kiri), dan Kepala Bank Jatim Cabang Jember Islah Noer (paling kanan), menyerahkan bantuan program beasiswa secara simbolis ke para mahasiswa di Aula PB Soedirman.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Program beasiswa yang digulirkan Pemkab Jember dinilai tak hanya meringankan, tapi juga sangat membantu mahasiwa dalam mewujudkan cita-cita. Terlebih, para penerima adalah wong cilik dan kelompok marjinal. Jawa Pos Radar Jember, mewawancarai dua dari ribuan penerima beasiswa gelombang lima tersebut. Keduanya merepresentasikan profil para penerima.

Siti Romlah, salah seorang penerima asal Institut Agama Islam (IAI) Alqodiri mengaku, sepeninggal suaminya setahun lalu, dia harus berjuang sendiri menghidupi keempat anaknya. Di tengah kondisi sulit itu, janda yang berdomisili di Desa Pringgowirawan, Kecamatan Sumberbaru ini, juga harus mencukupi biaya kuliahnya di jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Setahun kuliah, saya memakai biaya sendiri. Memang berat, tapi harus tetap dijalani, karena guru PAUD sekarang menyaratkan harus lulus D4 atau S1,” katanya.

Berbekal tekad yang kuat, mahasiswa semester tiga tersebut memantapkan hati menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Perempuan yang mengajar di RA Darussalam Pringgowirawan ini, harus bekerja ekstra keras untuk mencukupi segala kebutuhannya. Terlebih, satu dari empat anaknya juga telah menempuh pendidikan di universitas.

“Saya juga dibantu orang tua, tapi itu masih belum cukup,” ujar perempuan 42 tahun tersebut.

Keadaan mulai berubah, saat dirinya mendapat informasi soal beasiswa dari kampus. Dia lantas mencoba peruntungan dengan ikut mendaftar. Nasib baik rupanya berpihak, setelah dipanggil untuk wawancara, Romlah dinyatakan lolos dan berhak menerima beasiswa hingga lulus.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali. Apa yang dilakukan bupati dan wakil bupati ini adalah sebuah program yang sangat bermanfaat, serta investasi jangka panjang,” tuturnya.

Kini, Romlah tak perlu pusing lagi. Setidaknya untuk kebutuhan biaya pendidikannya. Karena, dirinya akan mendapat bantuan secara berkala dari pemerintah daerah melalui beasiswa itu yang jumlahnya lumayan besar. Setiap mahasiwa akan menerima bantuan biaya untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayarkan per semester, dan biaya hidup yang dianggarkan tiap bulan.

Besarannya UKT bervariasi menyesuaikan dengan pembiayaan di kampus. Sedangkan biaya hidup mencapai Rp 750 ribu per bulan. “Saya sangat merasa terbantu. Jika biasanya pakai uang sendiri, sekarang tidak usah. Jadi bisa dialihkan untuk biaya pendidikan keempat anak saya,” akunya.

Testimoni serupa juga disampaikan Muhamad Shiddiq Bahiri. Mahasiswa penyandang disabilitas daksa asal Dusun Gadungan, Desa Kasiyan, Kecamatan Puger ini mengaku lega setelah mendapat bantuan beasiswa. Apalagi, sejak dia menempuh pendidikan di IAI Al-Falah As-Sunniyah Kencong dua tahun lalu, dirinya hanya mampu membayar UKT satu semester. Sisanya, atau tiga semester berikutnya masih menunggak.

“Semua beasiswa ini akan saya gunakan melunasi UKT,” katanya.

Berbeda dengan Siti Romlah, perjalanan pendidikan Bahiri cukup berliku. Selepas tamat sekolah menengah atas, dirinya tak diizinkan kuliah. Orang tua mahasiswa semester lima tersebut melarang karena alasan biaya. Maklum, Bahiri mengungkapkan, kedua orang tuanya hanya pekerja kasar. Sang bapak, Kliwon, seorang buruh pengangkut batu di perusahan pembuatan gamping di Desa Grenden, sedangkan ibunya, Siti Hanifa, seorang buruh serabutan.

“Awalnya saya sembunyi-sembunyi. Saya tidak bilang ke orang tua kalau kuliah,” ungkapnya.

Setelah berjalan satu semester, pemuda yang mengabdi sebagai guru ngaji di Pondok Pesantren Hidayatul Mustafidzin, Desa Kasiyan ini, bercerita pada kedua orang tuanya. Mereka terkejut, meski tetap mendukung dan mencarikan biaya untuk membayar UKT di semester pertama.

“Tapi hanya sekali itu saya membayar. Setelah tidak mampu melunasi,” ucapnya.

Kendati belum lunas, anak bungsu dari enam bersaudara itu tetap tak menyerah. Empat hari di tiap pekan, dia tetap berangkat menempuh pendidikan. Hingga suatu ketika, Bupati Jember dr Hj Faida MMR datang ke sebuah acara di kampusnya. Orang pertama di Jember tersebut lantas mendatangi Bahiri dan memotivasi agar mendaftar beasiswa pemkab. Saran itu dia ikuti hingga dirinya berhasil lolos sebagai penerima beasiswa.

“Saya ingin terus mencari ilmu dan bercita-cita sebagai guru. Beasiswa ini semoga mampu mengantarkan saya menggapai cita-cita,” harapnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih