Jadikan  Wisata Edukasi, Pasarkan Produk di Media Sosial

BELAJAR TERNAK SAPI: Pelajar yang datang ke wisata edukasi, foto dengan menunggangi sapi perah

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tantangan koperasi sapi perah tak hanya menghasilkan produk sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar. Namun, harus terus berinovasi di era digital agar bertahan dengan perkembangan zaman.  Selain memanfaatkan media sosial, Koperasi Galur Murni berkreasi dengan membuka  wisata edukasi.

Bagus Supriadi, Ajung, Radar Jember

Ratusan pelajar dari TK Darussholah memenuhi peternakan sapi perah di Jalan Raung, Dusun Klanceng Desa/Kecamtan Ajung Sabtu (19/10). Mereka belajar tentang cara berternak sapi perah. Mulai dari proses awal  hingga menciptakan produk minuman.

Lokasi peternakan yang didirikan oleh Nyoman Ariwibowo itupun didesain dengan hiasan yang menarik. Ada patung sapi dengan ukuran besar di depan pintu masuk. Biasanya, patung ini sering dijadikan tempat foto bersama.

Tiba di lokasi perternakan, anak-anak ini dikumpulkan di sebelah kantor peternakan. Disana, pemandu wisata sapi perah, Habib Zidan sudah menunggu.  Dia yang akan memandu seluruh kegiatan  wisata edukasi tersebut.

Saat berkumpul, anak-anak tersebut diberikan pemahaman tentang peternakan sapi perah. Mulai dari cara beternak hingga mengolah produk susu. Setelah selesai, para pelajar TK itu menuju meja yang sudah tersedia segelas susu. “Sebelum keliling, mereka minum susu dulu,” kata Nyoman Ariwobowo, Manager Koperasi Galur Murni.

Seratus pelajar itupun berangkat ke lokasi pakan ternak. Disana, mereka berjalan menuju  lahan tanaman rumput  pakan ternak. Lalu, membawa setangkai rumput  untuk diberikan pada sapi perah di kandang. “Satu persatu anak-anak memberi makan sapi,” ujarnya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan memeras susu yang sudah disediakan di luar kandang. Mereka begitu antusias memeras sapi susu secara bergantian. “Mereka juga diajak melihat pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas,” tambahnya.

Koperasi Galur Murni ini mulai membuka kawasan peternakan sebagai  wisata edukasi tahun 2016 lalu. Hal itu merupakan pengembangan koperasi di era digital. Memperkenalkan koperasi ternak sapi perah pada generasi milenial.

Tak hanya anak-anak, namun juga mahasiswa berkunjung untuk melakukan penelitian. Ketika dibuka menjadi destinasi wisata, jumlah pengunjung pun tak disangka, setiap bulan bisa ada 600 orang yang berkunjung. “Mulai dari anak TK,PAUD, SD hingga mahasiswa,” ujarnya.

Inovasi ini dilakukan seiring dengan kemajuan zaman yang terus berkembang. Koperasi perlu dikenalkan pada khalayak ramai, terutama generasi muda. “Kami juga membuat produk yoghurt yang promosikan secara daring di media sosial,” aku Nyoman.

Berdiri Karena Banyak Potensi

TERUS BERKEMBANG: Salah satu anggota peternak saat usai memberikan makanan pada sapi perah di kandang.

Koperasi Galur Murni berdiri atas impian Nyoman Ari Wibowo melihat potensi Jember. Sebagai kabupaten pertanian dan perkebunan. Banyak pakan yang bisa dimanfaatkan untuk sapi perah.

“Peternakan sapi perah biasanya berbasis koperasi atau kelompok masyarakat,” tuturnya. Saat itu, Nyoman berkunjung ke berbagai kabupaten yang mengembangkan ternak sapi perah. Mulai dari Malang, Pasuruan Probolinggo hingga Lumajang.

“Di Pujon, Malang, sehari bisa  menghasilkan 100 ribu liter. 5000 ribu liter untuk suplai pembeli lokal,” ungkapnya. Di kota apel tersebut, hampir setiap kecamatan ada koperasi sapi perah.

Begitu juga dengan Kabupaten Pasuruan, koperasi sapi perah ada di Kecamatan  Purwodadi, Grati dan Prigen. Kemudian ada di  Kecamatan Krucil, Probolinggo, Kecamatan Sendoro Kabupaten Lumajang.  “Kenapa Jember dan Banyuwangi tidak ada,” ucapnya.

Saat itulah, tahun 2007 lalu, Nyoman  memiliki mimpi untuk mewujudkan koperasi ternak. Apalagi, dia merupakan lulusan jurusan peternakan Universitas Brawijaya 1999 lalu. Pekerjaannya juga berkaitan dengan peternakan di perusahaan swasta.

“Saya memimpikan sapi perah bisa menjadi usaha petani, karena akan melengkapi penghasilan petani,” terangnya. Nyoman melihat, setiap daerah yang ada koperasi sapi perah, warga sekitar makmur.

Saat itulah, anggota DPRD Jember itu mulai bergerak mengkampanyekan sapi perah. Dia mendidik petani  di Jember hingga Banyuwangi untuk beternak sapi perah. Pelan tapi pasti, petani mulai beternak dan bermitra dengan dirinya.

Puncaknya tahun 2010, koperasi Galur Murni  berkembang cukup cepat. Namun, hambatan datang dari dalam. Dari 50 peternak yang bermitra, separuhnya berhenti. Dalam sehari, susu yang dihasilkan sekitar 1.200 liter. “Problem utama koperasi adalah perilaku anggota itu sendiri,” ujarnya.

Dia mencontohkan,  koperasi hidup menampung susu dari hasil petani. Sementara, ada petani ada yang menjual susu kepada pembeli langsung karena harga yang lebih mahal. Mereka hanya menjual sisa susu pada koperasi.  “Ada juga pedagang nakal yang mengambil langsung pada petani, tidak pada koperasi,” tuturnya.

Kendati sempat mengalami pasang surut, Nyoman tak kehabisan akal. Dia terus bergerak mengembangkan koperasi yang didirikannya. Yakni berinovasi agar koperasi terus hidup dan berkembang. Seperti mendirikan wisata edukasi untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ketika pengunjung datang, mereka membeli susu.  Produk olahan susu bisa terpromosikan dengan sendirinya melalui kunjungan tersebut.

“Intinya harus kreatif, dulu beli rumput, sekarang sewa lahan dan tanam sendiri,” imbuhnya. Kemudian, juga peningkatan kualitas SDM anggota peternak sendiri. Tanpa kebersamaan, koperasi akan mati.  Dia mewanti-wanti agar peternak tidak hanya memperhatikan kepentingan jangka pendek, namun kepentingan bersama. Sebab banyak anggota koperasi yang hidup dari ternak sapi perah tersebut.

Proses pencatatan sapi perah juga dilakukan menggunakan teknologi. Sebab harus detail, mulai dari kapan sapi harus beranak, kapan dikawinkan hingga waktu produksi susu. “Otomatis butuh managejen menggunakan teknologi,” pungkasnya.

Sutrisno, ketua bidang kelembagaan dan pengembangan SDM, Dewan Koperasi Indonesia Daerah Kabupaten Jember menilai era revolusi Industri 4.0 ini membuat pesaing usaha koperasi sudah melangkah lebih cepat. Sementara, banyak koperasi yang masih dikelola secara konvensional. “ Jaringan usaha Koperasi juga belum dibangun secara baik, sehingga distribusi dan pemasaran menjadi kendala yang harus dibedah,” tuturnya.

Menurut dia, jika insan gerakan Koperasi tidak berani berubah mengikuti sistem digital, maka akan tergilas oleh sektor usaha non koperasi.

Diakuinya,  pemerintah sudah memberikan peluang besar melalui  undang undang koperasi dan keputusan menteri Koperasi. Yakni membuka banyak peluang usaha, mulai dari  sektor keuangan, konsumsi, produksi, dan distribusi. “Itu semua  dijamin  Undang-undang dan Kepmen Koperasi. Tinggal  keberanian pengurus dan pengelola koperasi menangkap peluang usaha itu,” jelasnya.

Untuk itu, kata dia, yang perlu dilakukan koperasi di era serba canggih ini adalah  mempersiapkan SDM yang kompeten. Misal melalui  berbagai diklat  berbasis kompetensi,  bersertifikasi BNSP. Mulai dari pengurus, pengawas, manager hingga seluruh Karyawan Koperasi.

Selain itu, menyiapkan perangkat lunak yang memadai, melengkapi Persus, SOP serta Pakta Integritas seluruh Pengelola Koperasi. “Menjalin mitra kerja, membuat jaringan dan kerjasama antar koperasi,” pungkasnya.

 

IKLAN

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor :