CIUM ULAR: Moh. Ja'far Shodik saat melakukan atraksi mencium kepala king krobra di Alun-alun Bangil, Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Selain seorang pendidik, Moh. Ja’far Shodik, 35, memiliki hobi yang unik. Yakni, memelihara ular berbisa seperti king kobra. Guru olahraga di MI dan MTs Al-Islakh Sidowayah, Kecamatan Beji, tersebut cinta dengan ular sejak masih kecil. Saking cintanya, ia tak kapok meski pernah nyaris mati digigit king kobra.

—————

Dua bola mata Moh. Ja’far Shodik fokus menatap king kobra. Tubuhnya di lantai dengan sikap ‘merayap-rayap”. Sembari berusaha mengalihkan perhatian reptil penuh bisa itu.

Butuh beberapa menit lamanya hingga ia mampu mengendalikan perhatian si ular. Begitu “terhipnotis,” ia pun melayangkan ciumannya ke kepala ular pelan-pelan.

Sorak sorai penonton pun bergemuruh, begitu lelaki tersebut menyelesaikan misinya. Misi itu tak lain, atraksi mencium kepala ular. Misi tersebut hampir sering dipertontonkan olehnya ketika tampil.

Seperti di Alun-alun Bangil, beberapa waktu lalu. Atraksi berbahaya itu merupakan keahlian Ja’far –panggilannya- yang sudah bertahun-tahun dimiliknya. Bila dianggap menakutkan bagi kebanyakan orang, tidak demikian bagi Ja’far alias Jagad Muda. Karena keterampilan tersebut, sudah menjadi hal yang biasa dilakoninya.

“Saya menyukai ular sejak kecil,” kata Ja’far mengawali perbincangan.

Namun, sebelumnya, siapa sangka Ja’far adalah anak yang sangat takut pada ular. Ketakutannya akan binatang tak berkaki itu muncul karena sering ditakut-takuti oleh orang tuanya.

Hingga suatu hari, muncul rasa penasaran dalam benaknya. Rasa penasaran itu pun terobati ketika ia tak sengaja mencari belut. Bukannya belut yang didapat, ia malah menangkap seekor ular Weling.

“Waktu itu saya masih sekitar usia tujuh tahun. Saat ikut mencari belut, saya menangkap ular Weling. Ternyata saya tidak digigit,” kenangnya.

BERANI: Moh Ja’far Shodik bersama koleksi ular kobranya. (Dok. Pribadi)

Sejak itulah, pola pikirnya terhadap ular berubah. Kalau semula stigma ular yang ditanamkan orang tuanya adalah binatang yang berbahaya, baginya hal itu tidak lagi. Sejak saat itu, ia pun gemar berburu ular.

Ia berburu di area persawahan, sekitar rumahnya di Sidowayah, Kecamatan Beji. Mulai ular Weling hingga kobra pernah ditangkapnya.

Tak sekadar dibawa pulang untuk dipelihara. Bahkan, ia pernah membawa ular tersebut ke sekolah. “Saya masukkan tas, biar tidak ketahuan guru,” ceritanya.

Semula, keluarganya melarang keras ia memelihara ular. Bahkan, kakak perempuannya memilih tinggal di tempat lain karena takut pada ular peliharaan Ja’far. Namun, lambat laun keluarga menerima.

Sejak sekolah itulah, ia mulai memelihara ular. Tak hanya ketika SD, saat SMP hingga nyantri di Jombang, ia juga memelihara ular. Pernah, kata Ja’far, ia ketahuan gurunya saat masih duduk di SMP.

Ia pun dipanggil kepala sekolah. Ia diminta untuk tidak lagi membawa ular. Namun, karena kecintaannya, ia bersikukuh. Ia tetap saja membawa ular. Padahal, dia sempat diwanti-wanti akan dikeluarkan dari sekolah jika tidak mau nurut.

“Tapi, saya tidak pernah mengeluarkan ular itu dari tas saya. Sehingga, saya merasa tidak ada yang membahayakan. Akhirnya, pihak sekolah tidak mempersoalkannya,” ungkap lelaki kelahiran 28 Februari 1984 tersebut.

Begitupun ketika nyantri di Jombang seusai lulus SMP. Ia sempat diwanti-wanti agar tidak membawa ular oleh pengasuh pondok pesantren. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Tetap memelihara ular di pesantren.

“Setelah berkomunikasi, pihak pesantren mengizinkan saya membawa ular. Tapi, sebatas di kamar. Tidak boleh dikeluarkan di area pesantren,” sampainya.

Lulus dari pondok pesantren, ia mulai menekuni ternak ular. Banyak ular yang diternaknya. Tidak hanya kobra biasa, tetapi juga king kobra, ular hijau ekor merah, hingga piton.

Meski tak semuanya berhasil. Dari yang semula hanya belasan ekor, berkembang menjadi lebih dari seratus ekor. Bahkan, ia juga memiliki biawak dan reptil lain.

“Dulu pernah punya sekitar 140 ekor ular. Macam-macam jenisnya. Ada piton, king kobra, dan reptil lainnya,” tandasnya.

Ketika lulus dari pondok pesantren, Ja’far bekerja sebagai guru olahraga di madrasah yang ada di kampungnya. Ia juga melanjutkan studinya ke jenjang kuliah. Namun, kecintaan terhadap reptil, khususnya ular, tidak pernah pudar.

Karena dari situlah, ia bisa membiayai kuliahnya. “Saya juga mendapatkan uang untuk pakan reptil saya dari jual reptil dan pertunjukan ular,” kisahnya.

Ia mengaku, sering show ke sejumlah tempat. Seperti ke mal dan tempat-tempat lain untuk atraksi ular. Dari situlah, ia bisa membiayai hobinya beternak reptil dan memberi pakan reptil.

Sebulan, biaya pakan reptil tidak murah. Bisa menelan dana hingga lebih dari Rp 1 juta. Saat ini ia mengakui kalau jumlah peliharaannya berkurang.

Hanya ada 22 ekor reptil yang dimilikinya. Ia mengaku, tak punya banyak waktu lagi untuk melihara ular terlalu banyak.

Baginya, memelihara ular dan reptil lain, ada suka-dukanya. Ia merasa senang, ketika peliharaannya itu beranak pinak. Namun yang membuat sedih, ketika ada peliharaannya mati.

Apalagi, hewan tersebut berharga mahal. “Pernah ada yang menawar Rp 70 juta untuk ular albino hijau ekor merah. Tapi tidak saya kasih karena sayang. Eh, tidak tahunya mati. Di situ saya sedih,” tuturnya.

Belum lagi, ketika ia digigit ular. Baginya, gigitan ular hampir tak bisa dihindari. Beberapa kali ia digigit ular.

Bahkan, pernah ia nyaris mati. Gara-garanya, ular king kobra peliharaannya, menggigitnya.

“Kata orang saya sudah mati. Karena begitu digigit, saya jatuh. Dan Alhamdulillah, saya bisa bangkit dan hidup sampai sekarang,” ujarnya.

Meski begitu, ia tak pernah kapok. Buktinya, ia tetap memelihara ular meski pernah membahayakannya. Termasuk king kobra yang pernah menggigitnya.

“Saya sudah terlanjur cinta dengan ular dan reptil,” pungkasnya. (one/hn/fun)

IKLAN