BEKERJA DENGAN HATI: Edy di belakang kemudi bus yang menjadi mata pencahariannya. (Edi Susilo/Jawa Pos)

Ingin tampil beda dan dikenal penumpang, Edy Bambang Pamungkas alias Edy Dugem menambah pelayanan di bus yang dia kemudikan. Dia memberikan hiburan kepada para penumpangnya.

EDI SUSILO, Surabaya

HARI masih pagi. Roda bus yang dikendarai Edy Dugem sudah menggelinding meninggalkan riuh Terminal Purabaya. Hari itu, Sabtu (12/10), bus berangkat setengah jam lebih awal daripada jadwal. Penumpang sudah penuh.

Memasuki jalur tol, Edy memasang mikrofon yang dicantolkan di telinga kirinya. Dengan alat itulah, Edy mulai memberi tahu penumpang. ”Selamat pagi penumpang yang terhormat. Selamat datang di bus kami. Rute perjalanan hari ini adalah Surabaya–Ponogoro. Ditempuh dalam waktu tiga jam,” ucapnya. ”Sebelum berangkat, mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing agar perjalanan ini selamat sampai tujuan,” lanjutnya. Hening sekitar satu menit, Edy meneruskan celotehnya.

”Di dalam bus ini juga tersedia charger untuk mengecas HP. Tapi, tidak boleh dibuat untuk mengecas power bank, magic jar, apalagi kulkas,” ucapnya disambut senyum beberapa penumpang.

Banyolan Edy masih bertambah. ”Toilet kami dalam perbaikan. Jadi tidak bisa buat buang air kecil, apalagi buang kenangan bersama mantan Jadi, tolong bilang ke kru kami jika ingin kencing agar kami carikan rest area terdekat,” tuturnya.

Sekilas, melalui pengeras suara itu, suasana naik bus yang dikemudikan Edy mirip pesawat. Bedanya, pengumuman yang disampaikan tidak serius seperti pilot menerbangkan pesawat. Edy masih menyelipkan guyonan saat memberikan informasi kepada penumpang.

Sudah setahun Edy menduplikat suasana pesawat ke dalam bus yang dikemudikannya. Dia mengeluarkan modal sendiri. Membeli beberapa peralatan mikrofon untuk disambungkan dengan delapan sound system di dalam bus. ”Saya modal beli alat habis Rp 700 ribu,” ucapnya kepada Jawa Pos.

Edy memang ingin tampil beda dengan bus yang dirinya kendarai. Lelaki kelahiran 21 Agustus 1978 itu ingin penumpangnya merasakan suasana beda. Mula-mula penumpang memang merasa heran dengan tingkahnya. Namun, humor yang Edy selipkan saat memberi tahu kondisi bus membuat penumpang tertawa dan betah. Pelanggan setia busnya pun bertambah.

”Dulu sebelum pakai gaya begini, sepi. Paling penumpang belasan. Tapi, sekarang paling sepi 25 orang. Sering juga penuh,” tutur lelaki kelahiran Nganjuk itu. Banyak penumpang, kata Edy, yang kini rela menunggu keberangkatan ”Boeing” 7091. Sebutan familier untuk bus yang dikendarai Edy.

Selama perjalanan, sarjana akuntansi tersebut memang terus berusaha informatif kepada para penumpang. Setiap akan memasuki terminal, dari mikrofon yang ujungnya mirip korek kuping itu, dia memberi tahu penumpang. Juga jika ada penumpang yang ingin transit untuk naik bus lain. Selain itu, dia terkadang menggoda penumpang yang akan turun. Misalnya, saat salah seorang penumpang meminta turun di sebuah pasar jalur Madiun–Ponorogo, dengan enteng Edy menolak.

”Maaf, bus tidak bisa turun pasar,” ucap Edy. Wajah penumpang yang sudah berdiri dan siap-siap turun tersebut sempat tegang. Untung, dengan senyum lebarnya, Edy segera menjelaskan. ”Kalau turun di depan pasar bisa, bus tidak bisa masuk pasar. Gak cukup,” ujarnya. Giliran si penumpang yang nyengir karena tahu bahwa dirinya digoda.

Keramahan kepada penumpang itu memang terus menjadi pegangan Edy selama menyusuri jalan antarkota. Edy juga sering berpesan kepada kru agar selalu ramah. ”Karena di sini (bus, Red) adalah persaingan bisnis,” ucapnya.

Soal keramahan, Edy menceritakan, dirinya pernah meminta perusahaan mengganti kru yang tidak ramah kepada penumpang. Kru bersikap ketus saat menarik ongkos. Saat itu kru juga menolak permintaan penumpang yang ingin memakai fasilitas smoking area di kursi bagian belakang. Besoknya, kru ketus itu tidak narik lagi bersama Edy.

Semua kesungguhannya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada penumpang bus itu tidak terlepas dari kesenangan Edy dalam menjalankan pekerjaannya sebagai sopir. Pemilik nama lengkap Edy Bambang Pamungkas itu memang tertarik mengemudi setir bundar sejak kelas 2 SMP.

Saat itu Edy sudah bisa mengumpulkan uang dari hasil jasa antar pasir. Aktivitas mengemudi itu sempat berhenti beberapa tahun setelah dia diterima menjadi anggota TNI-AD. Sempat bertugas di Aceh dan Papua, Edy memutuskan untuk keluar dari TNI. Alasannya, dia memang tidak cocok menjadi prajurit.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia

IKLAN