Suasana bendung Gerak Babat yang mengering di aliran Sungai Bengawan Solo, Kamis (10/10). Musim kemarau yang berkepanjangan membuat aliran sungai tersebut mengering (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Di hadapan debit air yang jauh menyusut, padi gagal ditanam, ikan menghilang, tukang perahu tumbang, dan tanggul longsor. Padahal, hujan diperkirakan baru ’’cair’’ Desember kelak.

TOMMY ZANUARLamongan, Jawa Pos

WANTO hanya bisa mengangkat bahu. Sembari menjawab pelan, ’’Kalau nanti nggak ada air, ya mandek (berhenti).’’

Gurat kecemasan jelas tergambar di wajahnya. Pertanyaan Jawa Pos pada Kamis siang pekan lalu (10/10) itu memang terkait langsung dengan kondisi Bengawan Solo sisi Lamongan, Jawa Timur. Tempat Wanto mencari nafkah sebagai tukang perahu.

Perahu Wanto membantu mempersingkat perjalanan warga dari Desa Pangean, Kecamatan Maduran, ke Desa Bulutigo, Laren, dan sebaliknya. Kalau tidak, penduduk dari kedua sisi kecamatan yang ada di Lamongan itu harus memutar sejauh 7 kilometer dengan melewati Jembatan Laren.

Masalahnya, dari lebar sungai sekitar 50 meter, saat ini air hanya menggenangi bagian tengah sungai selebar 5 meter saja. Artinya, perahu Wanto sekarang tak harus berjalan jauh untuk menyeberangkan penumpang.

Tinggal memutar sedikit, perahunya sudah menyentuh daratan. Bahkan, beberapa hari lalu dia tak perlu menyalakan mesin dieselnya. Perahu cukup dibujurkan dan digeser, sudah sampai di daratan. ’’Itu terjadi pas pintu air Bendung Gerak Babat belum dibuka,’’ ujarnya sembari membantu penumpangnya naik ke getek.

Bendung Gerak Babat itu berada di perbatasan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Tuban. Dari sana pula Jawa Pos memulai penelusuran keringnya Bengawan Solo sisi Lamongan dan dampak yang ditimbulkan.

Bendungan di Desa Kendal, Kecamatan Sekaran, Lamongan, itu berfungsi mengatur distribusi air dari hulu ke hilir. Khususnya untuk wilayah Lamongan.

Meski berada di dasar sungai yang sama, kondisi antara hulu di selatan dan hilir di utara bendungan tersebut jauh berbeda. Kawasan sisi Lamongan kering kerontang. Tanahnya pun mulai mekar. Sedangkan di area selatan palang pintu air yang bisa tembus ke Tuban dan Bojonegoro tersebut, ketinggian airnya masih 2,77 meter.

Itu terjadi karena dari delapan pintu air di sana, hanya satu yang dibuka. Itu pun, seperti yang terpantau pada Kamis siang lalu, debitnya cuma sekitar 1,09 meter kubik per detik.

’’Ini kekeringan paling parah dibandingkan sebelum-sebelumnya,’’ ucap Husaima, warga Desa Duri Kulon, Kecamatan Laren.

Dan, memang demikianlah. Sepanjang penelusuran kami siang itu, tak ada pemandangan yang menyejukkan mata selain es campur dan siwalan yang dijual pedagang di tepi sawah. Sebab, semua tumbuhan gersang dan layu akibat tidak ada hujan sejak lima bulan terakhir.

Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa itu, sudah dari dulu menjadi sumber hajat hidup banyak orang. Sejak dari hulunya di Wonogiri, Jawa Tengah, hingga hilirnya di Gresik, Jawa Timur.

Seniman Gesang menggambarkan pentingnya sungai tersebut bagi urat nadi perekonomian di sepanjang jalur yang dilaluinya lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya:

Itu perahu

Riwayatnya dulu

Kaum pedagang selalu…

Naik itu perahu

Jadi, tak mengherankan kalau minimnya debit air bengawan di sisi Lamongan memicu dampak yang panjang. Mulai ancaman gagal tanam padi, ikan-ikan yang hilang, sampai tanggul yang rawan longsor.

Jawa Pos mendengar keluhan tentang penghasilan yang menurun itu hampir di sepanjang penelusuran. Dari desa Duri Kulon yang berada di barat bengawan, kami bergeser berganti menyusuri sisi timur tanggul. Dengan melewati Jembatan Bendung Gerak Babat.

Sekitar 45 menit bermobil, kami sampai di Desa Pangean. Dan, mendapati aliran air yang hanya menggenangi sebagian bengawan. Sisanya bisa dipakai untuk bermain bola.

’’Dulu sebelum dibuka (pintu bendungan Babat Gerak, Red) malah daratan semua di sini,’’ ucap Goni, salah seorang warga sekitar.

Satu per satu pula tukang perahu harus berhenti beroperasi. Dari semula ada di enam titik penyeberangan antara Desa Pangean ke Desa Bulugito dan sebaliknya, kini hanya tersisa perahu milik Wanto.

Zainudin, warga Dusun Kuryo, Bulutigo, juga mengaku harus menunda menanam padi, bahkan terancam tak bisa melakukannya. Musim tanam kedua biasanya dimulai sekitar September.

’’Kami pilih menunda karena takut tak kebagian air. Otomatis pula kami bisa kehilangan kesempatan panen kedua kelak,’’ katanya.

Di Kecamatan Laren dan Karenggeneng, total 14 rumah juga rata dengan tanah akibat tanah tanggul longsor. ’’Saya sempat dengar suara gemuruh sebelum dua rumah longsor. Untungnya pemiliknya sedang tidak di rumah,’’ ungkap Maskana, warga Desa Plangwot, Laren.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lamongan Jannata Shiratama Mulyo Purwanto membenarkan bahwa longsor tersebut merupakan imbas kekeringan. Dia menambahkan, kekeringan yang sama membuat banyak warga di Glagah dan Karenggeneng menemukan benda kuno. Salah satunya uang logam dan perahu kuno yang kini belum dievakuasi.

’’Berdasar keterangan warga, di perahu yang ditengarai peninggalan Belanda itu terdapat lubang yang diduga bekas tembakan,’’ kata Jannata.

Selain itu, beberapa warga di Glagah kini melihat beberapa ekor buaya yang naik ke permukaan. ’’Warga sudah diminta waspada. Namun, juga tidak boleh mengganggu keberadaan reptil tersebut,’’ tambahnya.

Ali Efendi, penduduk Desa Centini, Laren, mengungkapkan, beberapa warga sempat protes agar pintu air di Bendung Gerak Babat dibuka semua. Banyak yang menduga, pintu bendungan tersebut tidak dibuka lantaran airnya digunakan untuk mencukupi pasokan air daerah maupun industri.

Tapi, Kepala Sub-Divisi Jasa Air dan Sumber Air III-3 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Anang Hariyanta menegaskan bahwa tidak ada penutupan pintu air di Bendung Gerak Babat. Hanya, memang debit air yang dikeluarkan kecil.

’’Ini untuk menghemat kebutuhan air dalam jangka panjang,’’ katanya.

Anang menjelaskan, kapasitas air di Bendung Gerak Babat per Kamis pekan lalu tinggal 14 juta meter kubik. Padahal, dalam kondisi normal mencapai 25 juta meter kubik.

Berdasar simulasi yang dibuatnya, dalam sehari rata-rata terjadi penurunan elevasi hingga 3–5 sentimeter. Karena itu, dari pengamatan dan hasil simulasi tersebut, pada 24 Oktober kelak, air di Bendung Gerak Babat diperkirakan turun sekitar 2 meter.

Padahal, berdasar prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan baru turun pada awal Desember nanti. ’’Jadi, harus ada pengaturan di Bendung Gerak agar tidak terjadi penurunan air yang signifikan,’’ ungkapnya.

Banyak faktor lain yang mengakibatkan dasar Sungai Bengawan Solo mengering. Di antaranya, menurut Anang, jumlah debit air tak sesuai dengan kebutuhan warga ataupun industri.

Penyebabnya, 14 anak sungai yang menjadi pemasok kini sudah mengering. Salah satunya yang terdapat di Madiun, Jawa Timur. Kalaupun dari Wonogiri debit airnya masih 200 meter kubik per detik, angka tersebut tak bisa memenuhi kebutuhan semua masyarakat.

’’Itu karena panjang Bengawan Solo mencapai 300 kilometer,’’ ujarnya.

Pada masa ketika lagu Bengawan Solo ditulis Gesang, tiap kemarau debit sungai legendaris itu memang otomatis turun. Tapi, belum separah sekarang.

Gesang menyebut dalam liriknya ’’tak seberapa airmu’’. Sedangkan di musim hujan ’’meluap sampai jauh’’.

Tapi, hujan belum akan mampir ke Desa Pangean dan Bulugito dalam waktu dekat. Untuk sementara waktu, Wanto memang menangguk untung karena menjadi satu-satunya tukang perahu penyeberangan yang bertahan di sana.

Hanya, pertanyaannya, ketika air bengawan kian menyusut dari hari ke hari, sampai kapan dia bisa bertahan?

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ttg

IKLAN