DARI BAMBU: Sumarlin memperlihatkan sebagian kerajinan dari bambu yang dihasilkannya. Saat ini dia memasarkan kerajinan itu secara online. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Menjadi karyawan pabrik tidak lantas membuat Sumarlin hanya fokus pada pekerjaannya saja. Tergerak melihat potensi bambu yang melimpah di desanya, Sumarlin memanfaatkan bambu untuk membuat handycraft atau kerajian berbahan dasar bambu. Meski masih baru, setidaknya itu bisa mengenalkan salah satu potensi desanya.

DUSUN Tondowulan, Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, dikenal sebagai daerah penghasil mangga. Selain itu, juga banyak pohon bambu di sana. Namun, jarang yang memanfaatkan pohon bambu itu.

Sumarlin, 42, warga setempat akhirnya tergerak dengan potensi bambu di desanya. Muncul dalam pikirannya untuk memanfaatkan bambu menjadi barang yang punya nilai jual. Sehingga, bermanfaat secara ekonomi.

Sejak saat itu, bapak dua anak itu belajar membuat sejumlah kerajinan atau handycraft dengan bahan dasar bambu. Secara otodidak, dia belajar tentang beragam jenis kerajinan.

Di antaranya, membuat tempat pensil dan bunga dari bambu. Tidak lupa, bagian luarnya dicat dengan berbagai motif agar menarik dan enak dilihat.

“Saya membuat kerajinan ini sudah setahun terakhir. Belajar otodidak dengan memanfaatkan banyaknya bambu di kampung, utamanya di tegal. Daripada tidak dimanfaatkan, mendingan untuk kerajinan,” imbuhnya.

Namun, Sumarlin tidak membuatnya tiap hari. Dia membuat kerajinan itu hanya saat libur kerja di pabrik, tepatnya Sabtu dan Minggu. Semuanya dikerjakan di rumahnya.

Biasanya, Sumarlin mengambil bambu di tegalan. Bambu kemudian dipotong-potong sesuai kebutuhan, baru kemudian dibawa ke rumah. Selanjutnya, bambu dibuat tempat pensil dan pot bunga. Semuanya dikerjakan sendiri oleh Sumarlin.

CANTIK: Kerajinan tangan dari bambu buatan Sumarlin. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

 

 

 

 

 

 

Sebelum dicat motif pada kulit luarnya, bambu yang sudah dipotong itu dicor bagian dalamnya sedikit. Tujuannya, sebagai pemberat agar bambu tidak mudah goyah saat ditaruh.

“Lalu, kulit dalam dan luar, sama-sama digosok dengan amplas halus. Sehingga, permukaannya bisa halus,” ucap suami dari Sunarti.

Dalam sehari, biasanya Sumarlin bisa membuat 3-4 tempat pensil atau pot bunga. Dengan catatan, sebelumnya semua bahan sudah ada, tinggal diolah.

Memang belum sebanyak pekerja profesional. Sebab, tujuan Sumarlin sendiri memanfaatkan dan mengenalkan sumber daya alam yang ada. Belum menjadi pekerjaan utamanya.

Meski demikian, Sumarlin memasarkan karyanya secara luas melalui online. Tempat pensil per item dijual dengan harga Rp 25 ribu – Rp 35 ribu. Sedangkan pot atau tempat bunga harganya Rp 35 ribu – Rp 40 ribu. Tergantung motif dan ukuran.

Sejauh ini, pemasaran atau pembelinya masih di sekitaran Kabupaten Pasuruan. Beberapa di antaranya juga terjual ke Surabaya, Sidoarjo, dan Malang.

“Ini tetap fokus saya tekuni, garapnya saat libur kerja dan waktu luang. Bisa menyalurkan hobi, juga memanfaatkan sumber daya di desa,” tuturnya. (zal/fun)

IKLAN