Mohamad Arifin, dari Tukang Sampah Terpilih Menjadi Kades Kemiren

TUGAS RUTIN: Mohamad Arifin mengambil sampah di sejumlah titik Desa Kemiren sebelum terpilih sebagai kepala desa. (Fredy Rizki/RaBa)

JawaPos.com – Pemilihan Kepala Desa Kemiren sudah usai. Mohamad Arifin muncul sebagai kades terpilih. Banyak yang tak menyangka Arifin bakal memimpin Desa Kemiren. Selama ini dia dikenal sebagai petugas kebersihan desa. Tugasnya  mengambil sampah dari rumah ke rumah penduduk.

FREDY RIZKIGlagah

FOTO besar wajah Mohamad Arifin, 36, masih terpampang di depan rumahnya. Foto tersebut adalah sisa dari perhelatan pilkades yang berlangsung pekan lalu. Foto tersebut mirip dengan pose di kertas suara beserta simbol untuk mencoblos.

Di dalam rumah sederhana khas pedesaan itu tampak berjajar beberapa toples berisi jajanan khas lebaran. Tanda jika rumah itu melayani banyak tamu yang berkunjung ke sana. Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) kebetulan datang di saat kondisi rumah sedang sepi. Begitu datang, dengan ramah Arifin langsung mempersilakan JP-RaBa duduk.

Tak lama, Siti Karomah, 28, istri Arifin datang membawakan secangkir kopi Jaran Goyang yang menjadi salah satu produk andalan Desa Kemiren. ”Monggo diunjuk, mumpung masih panas,” ucap aromah ramah.

Sembari menikmati seruputan kopi, Arifin yang paham dengan kedatangan JP-RaBa  langsung membuka obrolan sambil malu-malu. Dia mengaku masih tak percaya menjadi pemilik suara terbanyak di Pilkades Kemiren 9 Oktober lalu. Apalagi jika dibanding dua calon lainya, Arifin mengaku tidak memiliki banyak pengalaman.

Maka, jika ada orang yang mengatakan jika Pilkades Kemiren dimenangi tukang sampah, Arifin tak mengelak. Diakui, tiga tahun terakhir dirinya bekerja sebagai petani yang juga bertugas sebagai Tim Kebersihan Desa (TKD). Tugasnya berkeliling dari satu tempat sampah ke tempat sampah di Desa Kemiren.

“Setiap hari saya dua kali bertugas. pagi sama sore. Berkeliling dengan motor roda tiga di 70 titik tempat sampah. Ssetelah itu sampah dibawa ke TPA.” jelas Arifin.

Alumni SMKN 1 Glagah itu menambahkan, pekerjaanya sebagai tukang sampah dimulai tahun 2016. Kala itu, dengan semakin meningkatnya arus wisatawan ke Kemiren berdampak kepada produksi sampah. Pemerintah desa kala itu berusaha menggalakan pengelolaan sampah. Salah satunya dengan pengambilan rutin sampah setiap hari.

Nah, di saat pemilihan petugas untuk mengangkut sampah, tidak ada satu pun ornag yang bersedia. Arifin  saat itu sudah menjabat sebagai ketua Bumdes.Karena khawatir program tidak berjalan, Arifin akhirnya bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan sampah.

Setiap hari, 400 kilogram sampah warga diangkut menuju tempat pembuangan sampah. “Kalau bersih kan wisatawan senang. Mungkin yang lain saat itu gengsi, apalagi masih banyak anak muda. yang jelas ini panggilan hati nurani,” kata Arifin sambil tersenyum.

Melihat pekerjaannya itu, Arifin tak pernah kepikiran untuk turun di Pilkades Kemarin. Gagasan untuk turun di pilkades muncul setelah dirinya banyak ngopi bersama beberapa pemuda. Para pemuda tersebut mendorong Arifin maju di pilkades. Semula dorongan itu hanya dianggap gurauan saja lantaran Arifin paham siapa dirinya.

Tapi keesokan harinya, beberapa orang warga datang ke rumahnya dan memintaArifin untuk bersedia ikut kontestasi pilkades. Lambat laun, jumlah orang yang bertamu ke rumahnya semakin banyak. Keinginan mereka semua sama, ingin Arifin maju dalam pilkades. “Saya sempat tanya istri dulu. Kata istri disuruh mencoba saja, supaya tetangga yang mendorong tidak ngersulo” kenangnya.

Berbekal dorongan dari tetangga dan warga Kemiren lainya, Arifin pun maju sebagai cakades. Sebulan sebelum pemilihan, Arifin mengundurkan diri sebagai petugas sampah. Dengan pertimbangan, khawatir masuk pelanggaran kampanye. Meski demikian, Arifin tetap tidak berharap banyak.

Dia mengaku benar-benar pasrah. Sejak  awal tak pernah kepikiran untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Bahkan, ketika dirinya diumumkan sebagai peraih suara terbanyak, Arifin saat itu tengah ngarit (mencari rumput) untuk kambing-kambingnya.

Bapak satu anak itu baru ngeh jika dirinya menang setelah ada warga yang bertemu dengan dia di warung dan mengatakan jika Arifin menjadi pemenang di pilkades. “Saya kaget sampai gemetar waktu itu. Siapa yang percaya, dibanding yang lain saya ini tidak punya latar belakang yang paham masalah politik dan birokrasi,” tuturnya. Setelah diumumkan sebagai pemenang, beberapa pendukungnya saat itu sudah bersiap-siap untuk mengarak keliling desa. tetapi lagi-lagi Arifin menolaknya. Baginya, tak elok merayakan kemenangan di saat kondisi pemilihan masih belum benar-benar dingin dengan cara berlebihan. Dia khawatir hal itu bisa memantik perpecahan antara dirinya dan kedua cakades lainya. ”Alhamdulillah kedua calon lainya baik hubunganya dengan saya. Bahkan mereka datang ke rumah sebelum saya sempat ke sana,” terang Arifin.

Karena basic-nya sebagai petugas sampah, Arifin berniat memasukan program ini sebagai salah satu yang akan dimaksimalkan saat memimpin desa nanti. Program HIPPA untuk mengelola air di Kemiren juga menjadi prioritasnya. ”Kalau bebas dari sampah, wisatawan juga senang. Selain itu sampah juga bisa membuka lapangan pekerjaan,” tukasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :