Rohati, Keikhlasannya Bangkit dari Tragedi dan Membantu Sesama

Mimpi Disuapi Almarhumah Ibu, Diberangkatkan Umrah oleh Kapolres

TIDAK MENYANGKA: AKBP Alfian Nurrizal, Kapolres Jember, saat bertemu dengan Rohati, 47, warga Dusun Krajan 2, Desa Adongrejo, Tempurejo. Berkat keikhlasannya, Rohati akan diberangkatkan umrah oleh Alfian.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa pun yang berdomisili di Dusun Krajan 2, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, pasti mengenal Rohati, atau biasa dipanggil Ibu Wati. Meski mengalami keterbatasan fisik akibat kecelakaan dan cacat seumur hidup, dia selalu ikhlas dan tak pernah pamrih memberikan kebaikan kepada sesamanya.

Cuaca di Pos Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Andongrejo, Desa Andongrejo, Tempurejo, hari itu sangat panas. Meski demikian, petugas berwenang masih tetap berjaga di sekitar kawasan TNMB. Hal ini menyusul peristiwa penembakan yang menewaskan Aries Samba, pekan lalu.

Jika didekati, di pos tersebut rupanya tak hanya terdapat petugas. Sepasang suami istri ikut meramaikan suasana. Sosok mereka yang ramah membuat suasana pos semakin gayeng. Mereka adalah Rohati, 47, bersama Idris, 50, suaminya, yang tengah duduk di bangku kayu ditemani anggota Polsek Tempurejo yang berjaga.

Rohati yang mengenakan celana training pendek warna cokelat muda dan kaus warna krem tidak datang sekali itu saja. Hampir setiap hari dirinya datang ke pos penjagaan yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Tidak dengan tangan kosong, wanita tersebut selalu membawa sejumlah makanan untuk petugas. Mulai dari nasi bungkus, sampai hasil panen dari ladang miliknya.

Kisah Rohati tidak bisa dibilang sehalus dan selembut benang sutera. Di balik tulus ikhlasnya, dia pernah mengalami kecelakaan mengerikan. Kala bekerja sebagai pedagang di Bali setahun lalu, bagian wajah hingga dada Rohati tercebur ke minyak panas yang beratnya mencapai lima kilogram.

Sehari-harinya di Bali, Rohati mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan berjualan gorengan di Pantai Serangan, Bali. Sementara itu, Idris, suaminya, tetap tinggal di Jember untuk bekerja. Setiap harinya sebelum kecelakaan, Rohati harus bangun pukul 00.00 dan bersiap untuk berdagang hingga pukul 05.00.

Tetapi pada pekerjaan terakhir, yakni menggoreng pisang dan ketela, tiba-tiba Rohati merasa pusing. “Kepala dan bagian leher saya masuk ke wajan tempat penggorengan pisang dan ketela,” kenangnya. Akibatnya, dia mengalami luka bakar hingga harus dilakukan operasi besar.

Meski sudah dilakukan operasi face off, Rohati tetap mengalami cacat seumur hidup. Dia harus merelakan wajah dan mata kanannya yang rusak parah. Hingga kini, Rohati harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit di Sanglah, Bali, seusai operasi besar yang dia jalani. Walau begitu, tak pernah ada keluhan keluar dari bibir Rohati. Dia bangkit dari keterpurukannya dan makin menghargai hidup lewat ketulusannya membantu sesama. Termasuk memberikan makanan serta buah-buahan kepada petugas jaga di pos TNMB.
Kedatangannya hari itu mendapat sambutan spesial. Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal ikut datang ke pos penjagaan, didampingi Kapolsek Tempurejo AKP Suhartanto, dan Kepala TNMB Jember Maman Suharman. Ya, kedatangan Alfian secara khusus untuk menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Rohati atas kepeduliannya kepada anggota yang berjaga di pos TNMB pasca terjadinya penembakan.

Kepada Alfian, Rohati curhat, ia sempat merasa tidak enak kepada para tetangganya. Dia khawatir muncul stigma negatif di mata warga sekitar. Apalagi, kondisi lingkungan tersebut sempat memanas saat warga mengepung pos penjagaan.

“Saya sampai nggak enak, dikira pro petugas,” kata wanita berusia 47 tahun tersebut.

Padahal, Rohati melakukan hal tersebut karena ingin berbagi dengan para petugas dan penjaga pos TNMB.

“Saya nggak ada pamrih membawa makanan ke pos taman nasional,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Rohati juga tulus memberikan doa dan puji-pujian kepada orang-orang di sekelilingnya agar diberi kesehatan dan bisa menjalani ibadah haji. Bahkan, secara khusus mendoakan Alfian agar bisa menjadi Kapolri atau Presiden, dan langsung diamini oleh rombongan.

Tiba-tiba, Alfian memberikan sebuah pertanyaan yang tak pernah diduga Rohati sebelumnya.

“Bu Rohati sudah pernah ke tanah suci?” tanya Alfian, dan langsung dijawab kata “belum” oleh Rohati. “Kalau saya berangkatkan umrah, Bu Rohati mau?” tanya Alfian lagi.

Tawaran itu sungguh menggetarkan hati Rohati dan suaminya. Ini adalah mimpinya. Mendengar pertanyaan Alfian, Rohati langsung memeluk Alfian sembari mengucapkan terima kasih dengan penuh keharuan.

“Terima kasih, Ya Allah, Engkau telah menurunkan rezeki kepada saya,” ujarnya berulang-ulang sembari memeluk sosok Alfian di sampingnya.

Rohati mengaku mendapat firasat dari mimpi yang dia alami, beberapa hari lalu. Dalam mimpi itu, dia disuapi oleh almarhumah ibunya dengan nasi dan ayam. “Tetapi semua ini hanya Allah yang tahu. Rezeki, hidup mati, dan lainnya itu semua Allah yang tahu,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti