KHUSYU: Juru kunci makam Kiai Telingsing Munawir sedang memanjatkan do’a di makam Kiai Telingsing kemarin. (Vaga Ma'arijil Ula/Jawa Pos Radar Kudus)

JawaPos.om – Keahliannya dalam mengukir (sungging) membuat Kiai Telingsing diberi tugas oleh Sunan Kudus untuk membuatkan cendera mata untuk diberikan ke raja-raja. Saat itu Sunan Kudus meminta agar Kiai Telingsing membuatkan sebuah kendi yang terdapat ukiran kaligrafi.

Kiai Telingsing menyanggupi hal itu dan dibuatlah ukiran kaligrafi pada kendi. Hanya, kaligrafi itu dibuat di dalam kendi. Merasa tidak mengikuti perintah Sunan Kudus, maka Sunan Kudus kemudian memecah kendi tersebut. Sontak Sunan Kudus kagum karena terdapat lafaz syahadat di dalam kendi tersebut. Itu merupakan bentuk kesaktian Kiai Telingsing dalam mengukir atau sungging. Sehingga di daerah Kudus itu diberi nama Desa Sunggingan.

Jawa Pos Radar Kudus mencoba menelusuri jejak perjalanan Kiai Telingsing melalui tokoh masyarakat setempat dan juru kunci makam Kiai Telingsing, Machfud. Kiai Telingsing merupakan tokoh penyebar Islam di Sunggingan.

Kiai Telingsing dan Sunan Kudus punya hubungan baik. Keduanya saling belajar satu sama lain. Soal akidah, Kiai Telingsing belajar ke Sunan Kudus. Sedangkan soal kesaktian dan kekebalan tubuh, Sunan Kudus berguru ke Kiai Telingsing.

Munawir, juru kunci makam Kiai Telingsing menambahkan, ada satu anjuran dari Kiai Telingsing yang sama seperti anjuran Sunan Kudus. Yakni, anjuran untuk tak menyembelih sapi. Sebab, sapi merupakan hewan yang dikeramatkan umat Hindu. Yang memang pada saat itu masyarakat Kudus mayoritas memeluk agama Hindu, sehingga ditakutkan dapat terjadi perpecahan antara umat Islam dan umat Hindu.

Untuk menghormati jasa Kiai Telingsing, masyarakat di Desa Sungginggan, Kecamatan Kota, Kudus rutin menggelar haul setiap tahun.

Haul Kiai Telingsing rutin dilaksanakan pada 15 Muharram. Rangkaian kegiatan haul itu bermacam-macam. Mulai dari khotmil Quran, pengajian di malam ke-15 Muharram, dan pembagian berkat berupa nasi dan daging kerbau. Setiap haul pula, biasanya banyak para peziarah yang berdatangan.

”Peziarah tidak hanya datang dari Kudus. Ada juga yang dari Jepara, Demak, Surabaya, hingga Jakarta,” ungkap Machfud.

Selain berkat, ada pula nasi bungkus dengan lauk daging kerbau yang dibagikan saat haul Kiai Telingsing. Nasi bungkus itu jumlahnya sekitar 1.000. Dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Makam Kiai Telingsing sendiri berada di satu ruangan. Dalam ruangan tersebut, ada dua makam. Ukuran kedua makam itu masing-masing sekitar 3×2 meter dengan keramik merah. Selain makam Kiai Telingsing, ada juga makam khodam dari Kiai Telingsing.

Editor : Mohamad Nur Asikin

IKLAN