BELUM MAKSIMAL: Seorang petani garam di Bangil saat memanen garamnya, beberapa waktu lalu. Sampai September, produksi garam masih 57 persen dari target. (Foto: Zubaidillah/Radar Bromo)

BANGILRadar Bromo – Sampai akhir September, jumlah produksi garam di Kabupaten Pasuruan baru tercapai 9 ribu ton. Jumlah tersebut masih 57 persen dari target yang ditetapkan sebesar 15.555 ton selama setahun.

Slamet Nurhandoyo, kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan mengatakan, sampai akhir September lalu memang masih belum mencapai puncak panen garam.

“Untuk pendataan sampai September lalu adalah hasil produksi sejak awal persiapan bulan Juni dan hasil panen dalam 3-4 bulan,” terang Slamet.

Puncak musim garam sendiri diprediksi terjadi pada Oktober sampai awal November ini. Dan proses panen garam masih bisa terjadi pada bulan Desember jika cuaca masih mendukung atau curah hujan masih minim.

Kendati realisasi saat ini masih 57 persen, Dinas Perikanan sendiri optimistis masih bisa memenuhi target setahun. Hal itu melihat dengan kondisi cuaca yang kurang lebih sama dengan tahun lalu. Pada 2018 lalu, realisasi produksi garam bisa mencapai 22.604 ton.

Kendalanya, harga garam untuk tahun ini cenderung turun bila dibanding tahun lalu. Harga garam tahun ini mencapai Rp 300-400 per kilogramnya. “Harga ini memang cukup jauh turun dibandingkan tahun 2018 lalu yang rata-rata masih di atas Rp 1.000 per kilogramnya,” aku Slamet.

Menurut Slamet, harga garam saat panen ini memang sangat dipengaruhi dari pasokan garam dan permintaan pasar. Masa panen garam yang bersamaan di berbagai daerah disebut membuat harga garam cenderung turun.

“Harapan kami, dengan turunnya harga garam tak membuat petambak garam down. Dan tetap memproduksi garam sampai sisa musim kemarau ini,” harapnya. (eka/mie)

IKLAN