Tiga Mahasiswa Undip Raih Penghargaan Best Paper Award dari University Brunei Darussalam

Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) memperoleh penghargaan Best Paper Award dalam ajang perlombaan ilmiah yang diselenggarakan di University Brunei Darussalam. Mereka mengusung makalah ilmiah tentang perbankan syariah di Kota Semarang. 

oleh HARIYANTO

TIGA mahasiswa Undip tersebut adalah Muhammad Rizal Hidayat, Rizky Tri Utomo dan Khoirun Nisa. Dalam lomba ilmiah bertajuk Call For Paper Competition Internasional Conference on Business Economic and Finance itu, ketiganya mengusung materi tentang Analysis of the impact of gold credit product prohibition on the society interest in using islamic banking products.

“Maksud call for paper competition itu lomba presentasi makalah ilmiah dalam agenda konferensi internasional. Materi ini mengulas soal penelitian terapan atas produk bank syariah sebagai masalah klasik dalam ekonomi syariah,” jelas Muhammad Rizal Hidayat saat ditemui di rumahnya Jalan Bukit Anggrek, Sendang Mulyo, Kecamatan Tembalang.

Rizal membeberkan, mengikuti lomba tersebut setelah mendapat informasi dari rekannya. Selang setengah bulan, langsung memasukkan proposal dan abstraksi atau sinopsis ke panitia lomba melalui email yang kemudian dilakukan seleksi. Tidak disangka, abstraksi tersebut diterima, kemudian diundang untuk mempresentasikan penelitian mereka di gedung senator di University Brunei Darussalam.

“Alasan memilih materi itu karena ekonomi syariah pernah menjadi bahan materi dalam debat pilpres 2019. Inspirasinya masih soal ekonomi syariah sebagai bahan debat pilpres 2019. Intinya dimaksudkan buat menghasilkan penelitian sederhana, namun aplikatif soal masalah klasik dalam ekonomi syariah,” bebernya.

Menurut Rizal, tidak mudah untuk mengumpulkan data karya ilmiah yang harus diperoleh dari sebuah perbankan syariah. Ia bersama dua rekannya harus keluar masuk perbankan kurang lebih 2,5 bulan untuk melakukan penelitian, menyusun abstraksi hingga disatukan dengan naskah penuh makalah dengan bahasa Inggris yang akan dipresentasikan di Brunei Darussalam.

“Kendalanya,  tim saya nggak mungkin pakai data dari nasabah yang minta langsung. Tidak memungkinkan, karena kode etik dari pihak bank untuk menjamin data nasabah. Tim saya mencoba mencatat sampel 50 koresponden secara acak dengan wilayah masih di Kota Semarang untuk memudahkan penyajian hasil analisis dengan model kuantitatif yang jadi rohnya penelitian ini,” terangnya.

Beruntungnya, materi yang dibutuhkan dapat terpenuhi hingga akhirnya berhasil berangkat ke Brunei Darussalam untuk mengikuti ajang tingkat intenasional tersebut. Menurut Rizal, sebelumnya ketika pengumuman lulus abstraksi, pihak panitia hanya menerima 80 penelitian dari 19 negara berbeda.

Sedangkan saat lomba, Rizal mengatakan terdapat 16 sesi paralel yang berbeda yang digelar dalam dua hari. Timnya mendapat jadwal di hari pertama, tepat pembukaan dalam presentasi hingga sampai hari kedua.

“Dari 16 sesi paralel itu sudah dipresentasikan, itu sudah final, ada peserta dari Paskistan, Nigeria, dan Amerika Serikat. Presentasinya memakai bahasa Inggris, bahasa resmi dari lomba itu. Tidak mengalami kendala sedikit sama sekali,” jelasnya.

Putra kedua Abdul Kholik ini juga mengatakan semua tim hanya diwajibkan satu orang yang melakukan presentasi. Kebetulan yang maju ke depan untuk melakukan presentasi adalah Rizal lantaran lebih menguasai materi dan yang mengusulkan gagasan.

“Presentasinya 20 menit pakai bahasa Inggris. Terget khusunya itu kurang dari 20 menit atau 15 menit. Tapi kita hanya menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Dan juri mempersilakan saya untuk memperpanjang paling tidak 5 menit. Kalau lainnya ada yang sampai 20 menit lebih,” bebernya.

Pada perlombaan tersebut, Rizal membeberkan pesaingnya juga dari kalangan yang sudah bertitel doktor. Bahkan, ada dari Indonesia yang di luar timnya, dari perseorangan bergelar doktor yang merupakan dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB). Selain itu juga ada yang dari kalangan S2 dan S3, termasuk profesor.

“Yang meraih juara umum bergelar doktor. Tapi kita mendapatkan penghargaan best paper award, ada catatannya. Dan itu khusus untuk sesi paralel keuangan dan syariah. Ini untuk kalangan program sarjana. Biar di kesempatan yang akan datang presenter bisa termotivasi bersaing dengan mereka yang bergelar doktor,” katanya.

Apakah karya ilmiah yang digagas bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Mahasiswa semester 5 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Jurusan Ekonomi Islam Undip ini menyampaikan, kebetulan tajuk materi yang dibahas untuk bank syariah. Alasannya, karena bank syariah ini bisa berkembang lebih jauh lagi untuk mencoba menandingi poros kekuatan bank konvensional.

“Terlepas dari hal umum yang kita ketahui dari bank syariah kan antiriba. Hanya itu umumnya orang memandang. Tapi kita coba  mengulas lebih jauh bahwa bank syariah itu tidak hanya sekadar dari bebas riba. Tapi ada yang lebih menarik dari situ,” beber pria kelahiran Semarang, 18 Februari 1999 ini. (*/aro/ap)

IKLAN