Nasir Resmikan Akademi Komunitas Kopi

SEJUK DAN SANTUN: Pengasuh Pesantren Al-Hasan, Desa Kemiri, Panti, KH Muzammil Hasba, bersama Menteri Ristek Dikti Prof Muhammad Nasir, Kamis (10/10) lalu .

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Yayasan Pondok Pesantren Al-Hasan di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, menjadi lembaga yang peduli dengan potensi daerahnya. Yakni dengan mendirikan akademi komunitas kopi. Lembaga tersebut diresmikan langsung oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi Prof Muammad Nasir, Kamis (10/10).

Peresmian ini dihadiri oleh Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Agung Wahyu Susilo, perwakilan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Puji Astuti, dan Rektor Universitas Jember (Unej) Mohammad Hasan. Selain itu, ada Rektor Universitas Islam Jember (UIJ) Abdul Hadi, Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije) Saiful Anwar, KPwBI Jember, hingga Dewa Kopi Indonesia Jawa Timur.

Pesantren Al-Hasan merupakan pesantren yang memiliki pengolahan kopi. Bahkan, menjadi satu-satunya lembaga  mengolah kopi jenis arabika dan robusta. Pihak pesantren memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengelola potensi desanya. Yakni dengan membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju Mapan Desa Kemiri.

Ketua panitia acara, KH Misbachul Khoiri Ali mengatakan, potensi kopi di desanya cukup besar. Hal itulah yang menggerakkan pesantren untuk memberdayakan kopi masyarakat. “Masyarakat sini mayoritas petani kopi. Kita ingin mereka bisa sejahtera melalui hasil panen kopinya,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Gus Misbah itu menjelaskan, potensi jenis kopi yang dikembangkan bermula dari kopi robusta. Namun, setelah berkembang, ternyata ada lahan yang bisa dikembangkan untuk kopi arabika.

“Pernah mengajukan permintaan penelitian ke Puslitkoka, disetujui dan diteliti, apakah tanah masyarakat bisa ditanami arabika. Karena lebih 800 Mdpl, kita dianjurkan oleh Puslitkoa untuk menanam kopi arabika,” terangnya.

Potensi jenis kopi dan arabika menjadi semangat baru bagi pesantren untuk maju melalui komoditas kopi. Gapoktan yang dibentuk menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, kita sudah bisa menjual. Masyarakat sudah mulai memasarkan. Bahkan, di daerah Jalan Mastrip, Sumbersari, ada kedai kami yang khusus menjual olahan kopi kami, santri yang menggerakkan,” paparnya. Pemasarannya sudah ke beberapa kedai hingga kafe di Jember kota.

Dia mengatakan, melalui akademi komunitas kopi tersebut, diharapkan potensi kopi bisa terus berkembang menjadi lebih baik. “Mudah-mudahan bisa lebih baik dan membawa kebaikan untuk masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Ristek Dikti Mohammad Nasir mengatakan, negara baju bukan ditentukan oleh jumlah penduduknya.  Namun, ditentukan dari seberapa kuat penguasaan teknologi dan inovasinya. Begitu juga dengan pesantren, kemajuannya bukan ditentukan dari banyaknya santri, namun seberapa besar penguasaan teknologi dan inovasinya.

“Ada sekitar  500 pesantren yang memiliki akademi komunitas seperti ini. Nanti, berlanjut muncul politeknik kopi.  Bagi Pesantren Al-Hasan, itu bukan perkara yang mustahil,” terangnya.

Dia menambahkan, agar pesantren dan masyarakat tidak canggung dalam bersaing. Dia meyakinkan, jika ada kemauan, pasti ada jalan. Bahkan, bila punya kemauan kuat untuk terus berinovasi bisa bersaing dengan Starbucks yang sudah mendunia.

“Catatannya satu hal, kita wajib pintar, bukan untuk minteri orang. Tapi harus bermanfaat  bagi sesama. Mudah-mudahan ini bisa berjalan dengan baik dan terus berkembang,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Bagus Supriadi