SUDAH TERBIASA: Sebagian santriwati Pesantren Asy-Syahadah Surabaya melafalkan hafalan Alquran ketika istirahat pada Selasa (8/10). (Kartika Sari/Jawa Pos)

Menghafalkan Alquran sering terasa berat. Namun, itu tidak berlaku bagi santriwati Pesantren Asy-Syahadah Surabaya. Sebab, selain sudah jatuh cinta pada Alquran, mereka mempunyai cara unik untuk menghafalkannya.

KARTIKA SARI, Surabaya

PARA santriwati Pesantren Asy-Syahadah Surabaya di Tambak Wedi Lebar, Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, selesai makan saat Jawa Pos datang. Mereka bergiliran mencuci alat-alat makan di wastafel. Setelah bersih-bersih sebentar, mereka pun istirahat.

Waktu istirahat mereka isi dengan menghafalkan Alquran. Seketika, ruang tengah pesantren itu penuh dengan geremeng santriwati yang berusaha menghafalkan ayat-ayat suci. Mereka tampak begitu serius menghafalkan Alquran. Sampai-sampai ada yang memejamkan mata. Maklum, sore nanti mereka harus menyetor hafalan tersebut kepada Ullya Ardhia Cahyani Ahmad atau sering dipanggil Ustadah Ullya. Dia adalah pembina di pesantren yang merupakan mitra Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jogoronto Jombang itu.

Setiap anak memiliki metode untuk menghafal Alquran. Sebab, tak ada metode yang kaku untuk menghafalkan ayat-ayat suci tersebut. Misalnya, Nadia Amalia Hidayat. Dia lebih suka memulai hafalannya dengan membaca terjemahan Alquran. Dia memaknainya sambil mencocokkan dengan tulisan Arab-nya. Lalu, dia membacanya lagi sambil mengingat setiap detail tulisan ”Jadi, saya tidak hanya menghafal Alquran, tetapi juga berusaha mengingat makhrajnya ketika menghafal,” tuturnya. Ada juga santriwati lain yang menghafalkan Alquran dengan membagi setiap halaman jadi tiga bagian.

Mereka memiliki waktu tiga kali sehari untuk menyetor hafalan kepada ustadah. Yakni, pukul 10.00, 16.00, dan 20.30. Mereka berlomba-lomba memberikan penampilan terbaik saat menyetor hafalan.

Untuk metode menghafal, para santriwati memang diberi kebebasan. Tetapi, untuk urusan membangun kecintaan dan membiasakan membaca Alquran, santriwati harus melaksanakan sesuai aturan pondok pesantren. Dalam sehari, mereka memiliki banyak sesi yang berhubungan dengan Alquran. Mulai mendengarkan kaset murotal, mendengarkan imam membacakan setengah juz Alquran saat salat Lail, hingga membaca bersama atau muroqobah.

Dari semuanya, yang paling unik adalah membaca Alquran saat salat Lail. Saat salat, imam membacakan setengah juz Alquran. Makmumnya tak hanya mendengarkan, tetapi juga menyimak sambil membawa Alquran. Kalau bacaan imam salah, makmum akan mengoreksinya. Jempol kanan para santriwati sudah terbiasa menyibakkan halaman Alquran. Jadi, tak heran jika Alquran mereka lusuh karena sering dibuka dengan satu jari.

Bagaimana kalau sedang melakukan gerakan rukuk? Mereka akan mengempit Alquran di ketiak kiri, lalu tinggal mengikuti gerakan salat selanjutnya. Saat gerakan berdiri, Alquran diambil dengan tangan kanan lagi. Mereka kemudian menyimak imam lagi. Begitu seterusnya.

Salat sambil membawa Alquran tentu saja jarang dilakukan orang-orang. Namun, ternyata itulah rahasia mereka untuk menghafal Alquran dan membangun kecintaan terhadap kitab suci. ”Salat sambil memegang Alquran masih tetap sah kok. Karena gerakannya tidak terlalu banyak. Yang tidak sah meletakkan Alquran di depan tempat salat karena itu di luar gerakan salat,” ucap Auliatul Irvi Lestari, 19, salah seorang santriwati.

Pengasuh pesantren tersebut, Sahid H.M., mengatakan bahwa pesantren memiliki sistem sendiri dalam menghafal Alquran. Yakni, dengan mengulang-ulang membaca dan mendengarkan ayat-ayat. Dengan begitu, mereka bisa terbiasa dan hafal dengan sendirinya. Itu sesuai dengan sistem menghafal Alquran secara habituasi. ”Setiap salat mereka akan membaca Alquran satu juz,” ungkapnya. Total, dalam sehari semalam, mereka bisa membaca sepuluh juz. ”Kalau tiga hari, berarti mereka sudah khatam Alquran,” ucapnya.

Sahid menuturkan, rasa bosan sering menjadi penghalang para santriwati untuk menghafal Alquran. Namun, itu hal yang wajar. ”Nanti, ketika mereka sudah enjoy, tidak ada rasa bosan. Malah terasa tidak enak kalau tidak membaca atau menghafal Alquran,” katanya.

Target menghafalkan Alquran cukup satu tahun. Itu termasuk waktu yang singkat untuk menghafalkan Alquran. Hal tersebut yang diharapkan Sahid. Dengan begitu, ketika sudah hafal Alquran, mereka bisa belajar ilmu-ilmu lain. Karena itu, mayoritas santriwati tersebut sudah lulus SD, SMP, maupun SMA. ”Setelah lulus, mereka tidak langsung melanjutkan sekolah, tetapi menghafalkan Alquran dulu. Hafal Alquran akan membuat mereka lebih mudah mempelajari ilmu lain,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c20/tia

IKLAN