Kepulan asap di wilayah timur laut Syria setelah Turki mulai membombardir wilayah tersebut (DELIL SOULEIMAN / AFP)

JawaPos.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan kabar mengerikan Rabu sore (9/10). Menutup telinga terhadap kritik dunia, dia mengumumkan dimulainya serangan Turki di wilayah timur laut Syria. Serangan tersebut bisa menyebabkan Syria kembali berdarah.

Melalui akun Twitter pribadinya, Erdogan mengatakan bahwa pasukannya sudah menyeberangi perbatasan Turki–Syria untuk memulai operasi Peace Spring. Mereka datang bersama 18 ribu anggota pasukan Free Syrian Army (FSA), kelompok militan dari barat laut Syria yang didanai Turki. Target mereka dua, kelompok ISIS dan YPG.

”Target kami adalah menetralkan ancaman terorisme di perbatasan dan memulangkan para pengungsi,” ungkapnya seperti dilansir CNN.

Pernyataan tersebut menakutkan. Tapi, tak mengagetkan. Sejak pekan lalu, Turki ngotot untuk melaksanakan operasi militer di wilayah yang kini diduduki Syrian Democratic Force (SDF). Dalam pikiran mereka, Syria tak akan pernah damai jika YPG, pasukan utama SDF, belum disapu bersih.

Sejak lama, pemerintah Turki menganggap YPG yang didominasi kaum Kurdi itu sebagai kepanjangan Kurdistan Workers’ Party (PKK). PKK merupakan partai separatis yang ingin memerdekakan diri dari kekuasaan Ankara. Mereka sudah berjibaku dengan angkatan bersenjata Turki selama beberapa dekade.

”Pilihan mereka (pasukan YPG) hanya dua. Entah membelot atau kami tindak supaya tak mengganggu upaya perlawanan terhadap ISIS,” ujar Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Fahrettin Altun.

Sejak Trump mengumumkan bahwa AS bakal mundur dari wilayah perbatasan, sudah banyak yang angkat bicara. Kantor perdana menteri Inggris sudah menyatakan kekhawatiran terhadap rencana Turki. Mereka percaya bahwa hal yang harus dihindari Syria saat ini adalah konflik senjata.

Presiden Prancis Emmanuel Macron berpendapat sama. Senin lalu (7/10) dia memanggil petinggi Kurdi Ilham Ahmed di Istana Elysee. ”Kami ingin menunjukkan dukungan terhadap SDF. Merekalah kawan yang membantu melawan ISIS,” ungkap pejabat istana kepada Agence France-Presse.

Perang besar untuk menekuk ISIS baru saja berakhir Maret lalu. Itu pun ISIS belum musnah. Pengamat mengatakan bahwa ISIS masih menyimpan sel tidur di berbagai penjuru dunia, termasuk Syria.

Pendapat itu terbukti kemarin (9/10). Associated Press merilis bahwa simpatisan ISIS baru saja melakukan serangan bom bunuh diri di tiga lokasi berbeda Kota Raqqa. Semua targetnya adalah markas petarung Kurdi.

”Mereka melakukan serangan besar-besaran saat kami sedang sibuk menghadapi ancaman Turki,” ujar Jubir SDF Mustafa Bali.

Beberapa jam setelahnya, Bali mengatakan bahwa pesawat tempur dari Turki mulai mengebom wilayah mereka. Mereka sudah meminta agar AS menetapkan larangan terbang di wilayah mereka. Menurut dia, serangan udara bakal ikut merenggut nyawa warga sipil di wilayah perbatasan.

”Saat ini, semua masyarakat panik karena pesawat tempur mulai menyerang daerah sipil,” kata Bali.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump, sosok yang memulai keributan, sibuk membela diri. Dia mengatakan bahwa publik seharusnya melihat gambaran luas dari kebijakannya. ”Pergi ke Timur Tengah adalah keputusan terburuk selama sejarah AS. Perang yang bodoh dan panjang ini sudah berakhir bagi kami.”

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c6/dos)

IKLAN