Ilustrasi marketplace (Unsplash)

JawaPos.com – Kehadiran marketplace di era digital mampu membuat transaksi ekonomi lebih cepat dan mudah. Bahkan nilainya cukup prestisius.

Sebagai contoh Tokopedia. Diperkirakan platform tersebut mampu mencatatkan nilai transaksi gross merchandise value (GMV) e-commerce untuk sepanjang 2019 mencapai pada angka Rp 222 triliun. Nilai tersebut setara dengan 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) selama satu tahun.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM) FEB UI dalam risetnya menyatakan kontribusi Tokopedia secara langsung terhadap ekonomi Indonesia pada 2019 mencapai Rp 170 triliun. “Naik dari 2018 Rp 58 triliun,” kata Wakil Direktur LPEM FEB UI Kiki Verico di Jakarta, Kamis (10/10) malam.

Selain itu, kontribusi e-commerce Tokopedia tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, juga menggerakkan ekonomi daerah. Tercatat Sulawesi Utara Rp 160 miliar, Aceh (Rp 262 miliar), Kalimantan Timur (Rp 933 miliar), Sumatera Utara (Rp 2,79 triliun), dan Bali (Rp 822 miliar).

Skala lebih kecil, Tokopedia menambah pendapatan rumah tangga Rp 19,02 triliun atau setara peningkatan pendapatan Rp 441 ribu untuk setiap angkatan kerja di Indonesia.

“Saat ini pengguna aktif Tokopedia sebanyak 90 juta atau 1 dari 3 orang Indonesia sudah bisa mengakses ke Tokopedia. Ini angka riil, karena 1 orang hanya boleh punya 1 akun,” pungkas dia.

Co-Founder Tokopedia William Tanuwijaya menegaskan, ke depan Tokopedia bakal lebih agresif go local. Hal itu mengakselerasi pemerataan melalui ekonomi digital di tanah air.

“Bagi kami, Surakarta lebih menarik dibandingkan Singapura. Boyolali lebih seksi dari Bangkok, serta Semarang itu lebih potensial dari Washington DC,” tegas William.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Abdul Rozak

IKLAN