RAMAH LINGKUNGAN: M Rasyid menunjukkan kopi buatannya yang diolah dengan memanfaatkan PLTMH di sungai Pekalen. (Mukhamad Rosyidi/Radar Bromo)

Sejak akhir 2018, M. Rasyid, warga Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, memproduksi kopi ramah lingkungan. Kopi ini dibuat dengan memanfaatkan aliran air dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di sungai Pekalen.

MUKHAMAD ROSYIDI, Tiris, Radar Bromo

Tanaman kopi menjadi salah satu komoditas unggulan di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Tanaman ini bahkan mendominasi tanaman lainnya yang dibudidayakan warga. Tidak hanya di perkebunan, kopi juga ditanam di kanan dan kiri jalan desa setempat.

Robusta menjadi jenis kopi yang banyak ditanam warga setempat. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, warga juga mulai membudidayakan kopi jenis arabika.

Tanaman kopi memiliki masa produktif hingga 35 tahun.

Kopi robusta dipanen tiap tahun. Yakni, mulai bulan Juli. Dalam masa panen itu, warga setempat memanen biji kopi itu sekitar 2 bulan atau hingga bulan September.

Selama ini, hasil panen kopi warga Desa Andungbiru itu dijual kepada pengepul besar. Harganya berkisar Rp 22 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram, tergantung kualitas kopi.

Namun, sejak akhir 2018, Moh. Rasyid berinisiatif mengolah kopi, sehingga bernilai jual tinggi. Dia mengolah sendiri kopi hasil kebun. Baru kemudian menjual hasil olahannya. Kopi ini diberi nama Kopi Lang-Baling yang berasal dari kata baling-baling.

Sejauh ini ada enam jenis metode pengolahan kopi yang dikembangkannya. Yakni, natural, honey, semi washfull wash, kopi lanang, dan metode olahan wine. Perbedaan metode pengolahan ini memengaruhi karakter rasa dan harga jual kopi. Mayoritas kopi itu diolah dari kopi jenis robusta dan sebagian kecil berasal dari kopi arabika.

Ditemui di rumahnya, di Dusun Sumberkapung, Desa Andungbiru, Rasyid tampak sibuk melakukan proses roasting atau pemanggangan (sangrai) dengan menggunakan mesin roasting. Mesin ini digerakkan dengan memanfaatkan energi baru terbarukan. Yakni, pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Roasting ini juga untuk memunculkan karakter rasa kopi. Ada yang light roastmedium roast, dan dark roast. Yang terakhir ini di sangrai hingga gelap, rasa kopinya agak pahit.

“Tergantung pesanan atau selera penikmat kopi,” ujar pria kelahiran 1969 itu.

Menurutnya, kopi yang diproduksinya itu memiliki harga bervariasi. Harga paling tinggi adalah kopi yang diolah dengan metode wine. Sebab, membutuhkan sekitar 1 bulan untuk tahapan pengolahannya.

“Kopi tersebut saya jual per kilogram dengan harga Rp 200 ribu. Itu berupa biji yang sudah di-roasting,” katanya.

Sementara kopi yang paling murah adalah kopi dengan metode pengolahan natural. Kopi tersebut ia jual per kilogram dengan harga Rp 80 ribu – Rp 90 ribu. Kemudian kopi dengan metode semi wash dan honey dijual dengan harga masing-masing Rp 100 ribu per kilogram.

“Kopi yang diolah dengan full wash dan kopi lanang saya jual dengan harga Rp 150 ribu. Ini prosesnya sekitar 10 hari. Semuanya diproses dari biji petik merah atau benar-benar kopi berkualitas,” katanya.

Rasyid mengatakan, sejumlah proses yang dilaluinya itu dilakukan setelah kopi panen dari kebun. Proses awal adalah memecah kulit dalam kondisi basah dengan menggunakan mesin pulper, dilanjutkan dengan mesin washer untuk menyuci biji. Kemudian dimasukkan pada mesin huller untuk memisahkan kulit dan biji dalam kondisi kering.

Setelah melalui proses huller, biji tersebut jadi green been atau biji hijau. “Setelah itu, saya sortasi untuk memilah biji. Terakhir saya roasting. Jika ada yang minta bubuk, biji yang sudah roasting itu saya blender. Saya belajar proses pengolahan ini dari orang-orang kafe yang main ke sini,” urainya.

Menurutnya, semua proses itu ia lakukan dengan menggunakan mesin. Seperti halnya pada proses roasting. Energi yang digunakan juga berasal dari PLTMH.

Karena itulah, kopi yang ia produksi diberi nama Kopi Lang-Baling. Pemberian nama ini erat kaitannya dengan sejarah PLTMH. Menurutnya, warga sekitar tidak tahu PLTMH.

“Mereka menyebut PLTMH dengan istilah lang-baling. Akhirnya, nama itu saya pakai untuk nama kopi saya,” ungkapnya.

Meski masih baru, produksi Kopi Lang-Baling mulai banyak dikenal kalangan pecinta kopi. Salah satunya pemilik usaha kafe. Mulai kafe lokal, Kraksaan, hingga pemilik kafe di Kota Probolinggo. Rata-rata tiap bulan, kopi yang dibeli pemilik kafe itu berkisar 25-30 kilogram.

Bahkan, beberapa waktu lalu ada master kopi berkunjung ke tempat Rasyid. Salah satunya warga Jepang. Menurut mereka, kopi Lang-Baling layak dijual di Jepang.

“Mereka juga siap membeli kopi Lang-Baling untuk dijual di Jepang. Katanya, rasanya masuk semua dan layak,” ungkapnya.

Rasyid menambahkan, semua proses itu tidak terlepas dari adanya PLTMH yang ada di desanya. Sebab, kini PLTMH tidak hanya digunakan untuk penerangan. Melainkan untuk pengembangan ekonomi dan potensi desa setempat. Selain untuk memproses kopi, warga juga menggunakan energi ini untuk mesin las hingga peralatan pertukangan.

Sejauh ini PLTMH itu memiliki 3 turbin pembangkit. Masing-masing turbin memiliki daya 40 kilowatt (kw) atau total sebesar 120 kw. Turbin pertama adalah turbin hasil swadaya warga setempat. Kemudian turbin kedua berasal dari PT PGN yang bekerja sama dengan Universitas Brawijaya Malang.

Pada tahun 2016 , PT PJB UP Paiton mulai melakukan pendampingan, termasuk mengganti pipa. Tahun 2018 PJB membangun satu turbin baru dengan daya 40 kw.

“PLTMH ini dikelola kelompok Tirta Pijar Sumber Makmur, anggota semua penerima manfaat listrik,” katanya.

PLTMH Ini, menerangi 300 KK di Dusun Sumberkapung, Desa Andungbiru. Juga menerangi sejumlah rumah warga dari Dusun Tunggangan, Desa Tiris dan Desa Roto. Termasuk, sebagian warga Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil. Jika ditotal, ada sekitar 600 KK yang bergantung pada PLTMH itu.

“Saya jual murah, per kWh-nya hanya Rp 500,” kata pria yang juga ketua kelompok Tirta Pijar Sumber Makmur itu.

Uniknya, pembayaran tagihan listrik itu tidak menggunakan uang. Juga tidak harus dibayar tiap bulan. Ada warga yang membayar tahunan, hingga musiman. Bagi warga yang tidak punya uang, ia memberi kemudahan membayar dengan barter hasil peternakan atau hasil bumi.

Intinya, tagihan listrik dibayar fleksibel. Sehingga, tidak memberatkan masyarakat. Ada yang bayar pakai ayam, bebek, pisang, hingga beras.

“PLTMH itu juga saya gratiskan bagi 40 KK yang berada di bawah garis kemiskinan. Jadi, yang benar-benar tidak mampu,” ungkapnya.

Rasyid juga menggratiskan aliran listrik dari PLTMH itu bagi sejumlah lembaga pendidikan, masjid, dan musala. Di antaranya untuk 14 masjid, 60 musala, 2 sekolah dasar (SD), hingga 4 lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Karena pada prinsipnya, menurut Rasyid, membangun PLTMH ini untuk membantu sesama. Hasil iuran atau pembayaran listrik kemudian digunakan untuk biaya operasional, beli suku cadang dan tabungan untuk keperluan PLTMH.

PLTMH sendiri sangat bergantung pada debit air. Oleh karena itu, warga setempat juga terus menjaga dan melestarikan sumber mata air agar PLTMH terus memproduksi listrik.

Salah satunya melakukan konservasi atau pelestarian alam di hulu dan daerah aliran sungai. Misalnya, pada hari air sedunia pada Maret lalu, warga bersama PT PJB UP Paiton menanam pohon di Desa Andungbiru.

Warga juga diminta menanam pohon selain sengon. Tujuannya, agar usia pohon lebih lama. Sehingga, bisa memberikan manfaat bagi manusia, termasuk untuk menjaga ketersedian air. Sebab, Jika hutan gundul, dampaknya juga kepada manusia. (hn)

IKLAN