Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril yang dibaca, difahami, diamalkan dan dijadikan pedoman hidup (way of life) bagi seluruh umat Islam untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Al Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia karena di dalamnya terkandung ajaran agama Islam yang mengantar segala aspek kehidupan dan keselamatan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Itulah sebabnya wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari, memahami dan merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajaran Al Qur’an hendaknya dilakukan sejak dini, tepatnya pada masa anak-anak. Masa ini merupakan awal perkembangan kepribadian manusia yang akan menentukan periode sesudahnya. Sebagaimana dijelaskan teori Psikososial Erikson (1902-1994) bahwa kehidupan manusia terbagi dalam tingkatan-tingkatan berhubungan dengan semua bidang kehidupan. Artinya jika setiap tingkatan itu tertangani dengan baik, maka individu akan merasa pandai. Sebaliknya jika tingkatan-tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, akan muncul perasaan tidak selaras pada orang tersebut.

Demikian pula dengan pengajaran Al Qur’an. Apabila seorang anak sejak dini telah dibiasakan untuk mengenali Al Qur’an dan menjadikannya sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari, maka ia akan tetap mempertahankan kebiasaan itu hingga dewasa. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk mendidik anak-anak tentang membaca Al Qur’an yang baik.

Saat ini sudah banyak metode yang digunakan dalam belajar membaca Al Qur’an. Namun, metode yang digunakan dalam pelajaran Al Qur’an itu terkadang kurang relevan. Nah, dalam hal ini penulis menawarkan sebuah metode yang dirancang sendiri dengan nama “Metode Membaca Al Qur’an Mahabbati”

Mahabbati adalah salah satu metode membaca Al Qur’an, yang didasari dari sebuah penelitian dalam kegiatan pembelajaran membaca Al Qur’an di TPQ Nurul Muttaqin, Kunir, Lumajang Jawa Timur. Mahabbati memiliki makna kekasihku, berasal dari fi’il madhi dalam bahasa Arab Habba, yang mempunyai arti cinta, atau kasih. Dengan memberi nama tersebut diharapkan metode ini bisa dicintai dan disayangi karena kemudahannya dalam belajar membaca Al Qur’an.

Metode Mahabbati di kemas dalam 6 jilid dengan menggunakan khat umum sehingga praktis dan bisa disesuaikan dengan kemampuan anak. Pada Mahabbati 1 pengulangan huruf selalu ada pada setiap halaman, mengikuti urutan susunan huruf hijaiyah. Selain itu di lengkapi alat peraga dalam bentuk kartu huruf Hijaiyah, dan angka Arab. Hal ini bertujuan untuk memancing memori/ingatan siswa. Mahabbati 2 mulai mempelajari perubahan harokat, menyambung huruf dan tanwin. Pada mahabbati 3 mulai diperkenalkan tanda sukun, dan mad (panjang pendek). Adapun pada Mahabbati 4 siswa sudah mulai mempelajari tasydid, dan di kenalkan ilmu tajwid. Selanjutnya pada mahabbati 5 pembahasan masih ditekankan pada ilmu tajwid lengkap beserta contohnya. Sekaligus pada Mahabbati 5 siswa diperkenalkan perubahan huruf akhir lafad jika di waqof (berhenti). Pada Mahabbati 6, siswa diperkenalkan tanda-tanda waqof. Pada jilid terakhir ini juga berisi surat-surat pendek, sebagai sarana untuk memperkenalkan Al Qur’an, sebab begitu tamat Mahabbati 6 siswa langsung berpindah untuk membaca Al Qur’an.

Dengan dikemas menjadi enam jilid ini, Mahabbati menjadi sangat mudah untuk dipelajari oleh anak-anak, sebab mereka bisa belajar membaca Al Qur’an secara berangsur-angsur. Selain itu, Mahabbati juga memiliki beberapa kelebihan, diantaranya: (1) menarik karena Mahabbati menggunakan dengan bahasa yang jelas dan singkat; (2) Tidak membingungkan siswa, sebab semua huruf dan lafad dalam Mahabbati dicetak dengan sangat jelas; (3) Memudahkan anak untuk lebih cepat bisa membaca, sebab menggunakan metode pengulangan huruf/lafadz; (4) Melatih anak menjadi aktif, sebab dalam proses pembelajaran, siswa tidak saja membaca, melainkan juga dituntut untuk aktif menulis halaman yang telah di baca; dan (5) Menggunakan bahasa yang berhubungan dengan bahasa sehari-hari dengan memaksimalkan perubahan harokat dari fathah ke kasroh atau dummah.

Meski demikian tidak bisa dipungkiri terdapat kelemahan dari metode Mahabbati. Salah satunya, metode ini sulit di terapkan pada lembaga pendidikan formal. Sebab pada pembelajaran di lembaga formal, kelas pada Mahabbati tidak bisa disamakan karena belum tentu anak kelas 3 SD/MI mampu membaca Mahabbati 3 atau sebaliknya. Oleh karena itu, perlu di tes untuk menentukan kelas Mahabbati.

Kegiatan pembelajaran dengan metode Mahabbati dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, pembelajaran secara individual. Cara ini dilakukan pada Mahabbati satu, karena pada Mahabbati satu ini pada umumnya usia 3-5 tahun sehingga perlu pembelajaran yang intensif dalam pengenalan huruf- huruf hijaiyah. Pada awal pembelajaran guru membacakan Mahabbati kepada murid satu persatu dan membenarkan mahorijul hurufnya, kemudian murid menulis apa yang dibaca. Jika murid belum bisa menulis, maka guru menuliskan huruf hijaiyah dengan memberi titik-titik, kemudian murid diminta menebalinya. Selanjutnya, guru menilai tulisan dengan nilai seratus. Jika murid bisa membaca dengan baik dan benar, maka pada halaman tersebut diberi tulisan “SIP” sebagai tanda siswa bisa melanjutkan ke halaman berikutnya pada besoknya.

Kedua, pembelajaran secara klasikal. Metode secara klasikal ini bisa di lakukan di kelas. Kegiatan pembelajaran diawali pembacaan halaman Mahabbati oleh guru sebanyak 3 kali, dengan membenarkan makhorijul hurufnya dan diikuti oleh semua siswa. Selanjutnya siswa maju membaca dan diikuti oleh teman yang lain, dan seterusnya sampai semua teman membaca di depan. Selanjutnya siswa menulis halaman tersebut. Jika guru merasa setiap murid telah menguasai materi, tes di berikan pada hari berikutnya.

Perlu diketahui, metode Mahabbati merupakan salah satu metode membaca Al-Qur’an yang sudah terbukti baik dan mudah diterapkan pada pendidikan formal seperti TK/ RA, SD/MI maupun pendidikan non formal seperti TPA, TPQ atau Diniyah. Visi metode ini adalah membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai Ilmu Tajwid. Sedangkan misinya adalah membiasakan pembelajaran membaca dan menulis Al Qur’an yang baik dan benar mulai usia dini. Dan, dalam melaksanakan metode ini, perlu dicatat bahwa “keberhasilan seorang guru dalam mengajar bukan hanya karena kepandaiannya tapi juga keistiqomahan, ketekunan, kesabaran serta keiklasannya”. (*)

* Muhammad Muslih, adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jember. Metode ini sudah pernah dipresentasikan pada Seminar Internasional di Darul Quran Singapura, Kamis 19 September 2019.

IKLAN