Pentaskan Teater, Mahasiswa FIB Unej Ajak Penonton Lebih Peka Masalah Sosial

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya sebagai penyalur hobi atau tuntutan di bidang akademik, banyak nilai yang terkandung dalam pertunjukan teater. Seperti yang dilakukan komunitas teater mahasiswa Universitas Jember yang akrab dengan sebutan grup Teras (Teater Rayon Sastra), yang sukses menampilkan teater dari naskah WS Rendra dengan judul Kisah Perjuangan Suku Naga, Minggu malam (5/10) d LPM Unej.

Kisah perjuangan suku naga bercerita tentang kerajaan Astinam. Kerajaan Astinam merupakan negeri yang berisi seorang penguasa, ada rakyat, dan ada keculasan. Ratu dan Perdana Menterinya melakukan kejahatan korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan menghambur-hamburkan uang rakyat.

Di Kerajaan Astinam pembangunan adalah agama baru. Demi kemajuan apapun dilakukan, sekalipun itu menyengsarakan rakyatnya. Dan siapa yang menghalangi niat ini akan berhadapan dengan kekuatan yang teroganisir dengan baik.Kemajuan tersebut berarti menghancurkan alam, menebang hutan sumber kehidupan masyarakat, menggusur masyarakat adat.

Menjadi tidak mudah bagi penguasa di Astinam ketika mereka berhadapan dengan Kampung Suku Naga. Kampung Suku Naga mempunyai hasil alam yang melimpah. Tapi perencanaan menjarah kekayaan tersebut sudah direncanakan. Tentu perencanaan tersebut bersembunyi di balik undang-undang dan ilusi kesejahteraan rakyat.

Singkatnya, dalam naskah menggambarkan adanya pemusatan kekuasaan dan ekonomi yang dilakukan seorang penguasa meskipun hal tersebut menyebabkan terpinggirkannya kaum minoritas dan masyarakat adat, ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan hancurnya kearifan lokal.

“Berteater bukan sekedar hasrat, pemuasan estetika, atau intelektual saja tapi juga seni sebagai advokasi. Dari pementasan ini diharap penonton atau para yg terlibat didalamnya bisa lebih peka terkait isu sosial disekitar kita,” tegas sutradara pementasan teater, M. Dhorivan Nabil.

Sebelum menuju pementasan puncak, selain dialog yang berisi kritikan, pementasan digarap begitu ciamik dengan menampilkan hal-hal yg bersifat komedi saat memperagakan.

Konflik politik yang kuat juga terjadi dalam naskah ini antara pesuruh sang ratu dengan rakyat Suku Naga dan beberapa adegan dalam naskah ini juga turut menggambarkan peristiwa yang sedang terjadi diantara keduanya.

“Selesai pementasan penonton dan semua pihak diharapkan bisa peka terhadap masalah sosial bukan selesai berarti selesai tapi pemaknaan dari pementasan bisa terus terbawa dan bisa membawa perubahan darinya,” ujarnya.

Pertunjukan dimulai sekitar pukul 8 malam dengan penjualan tiket hampir mencapai 300 lembar.

IKLAN

Reporter : Nurul Azizah

Fotografer : Istimewa

Editor :