PROSES PEWARNAAN: Seorang pekerja sedang mewarnai batik di rumah batik Mbah Kulsum, Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi, kemarin. (Ramada Kusuma/RaBa)

JawaPos.com – Batik sudah menjadi bagian dari budaya bangsa yang wajib dipelihara dan diwariskan secara turun-temurun. Apalagi, Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (Unesco) telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi.

Pemkab Banyuwangi terus menyempurnakan format kebijakan pengembangan batik. Industri batik terus didorong agar tumbuh dan berkembang sebagai salah satu warisan budaya bernilai ekonomis bagi generasi sekarang dan mendatang.

Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi Sih Wahyudi mengatakan, perkembangan industri batik di kabupaten ujung timur Pulau Jawa terus menggeliat dan berkembang. Tahun 2010, jumlah industri batik di Banyuwangi hanyalah empat unit Industri Kecil Menengah (IKM).

Setelah digelontor berbagai kebijakan oleh pemkab, kini jumlah perajin dan industri batik terus bertambah. Dari data Disperindag, hingga di penghujung tahun 2019 jumlah IKM batik di Banyuwangi sudah menyentuh angka 59 unit.  ”Peningkatannya sangat signifikan. Sebarannya juga merata hampir di setiap kecamatan,” ungkapnya.

Hebatnya, perajin IKM Batik di Banyuwangi telah memiliki pangsa pasar yang berbeda-beda. Mereka telah memiliki pelanggan bukan hanya di Banyuwangi saja. Para perajin kerap mendapat order secara rutin ke luar daerah, termasuk luar Jawa. ”Itu menandakan kalau IKM batik di Banyuwangi sudah mulai mendapat kepercayaan dari pasar,” kata Sih Wahyudi.

Soal harga, batik Banyuwangi dinilai sangat pas di kantong. Harga batik masih bisa disesuaikan dengan kualitas bahan, motif, dan tingkat kesulitan.  ”Paling murah ada yang di bawah Rp 100 ribu. Paling mahal harganya bisa jutaan rupiah,” terangnya.

Banyuwangi, lanjut Sih Wahyudi, merupakan salah satu daerah yang memiliki kerajinan batik dengan motif khas beraneka ragam. Tidak hanya sebagai perwujudan nilai estetika ragam hias, motif-motif batik tersebut memiliki nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Banyuwangi.

Sebut saja motif batik Sekar Jagad Blambangan. Selain Sekar Jagad Blambangan, masih ada 21 motif batik khas lainnya. Batik Sekar Jagad Blambangan mempunyai sejarah panjang dan telah menjalani metamorfosis sejak abad ke-18, sejak masa pendudukan Mataram di Bumi Blambangan tahun 1633.

Orang-orang Mataram diyakini yang mengenalkan pertama kali batik Sekar Jagad ke Bumi Blambangan. Kala itu, batik motif Sekar Jagad hanya dipakai oleh putri-putri kalangan bangsawan kerajaan di Bumi Blambangan. Keluarga kerajaan mengenakan batik motif ini pada hari-hari tertentu  dan upacara di lingkungan kerajaan.

Motif batik Sekar Jagad merupakan aura kewibawaan para pembesar tempo dulu dan para revolusioner dengan menyimpan pesan kearifan lokal masyarakat tertentu. Sebagai warisan luhur, batik Sekar Jagad harus dilestarikan oleh generasi penerus. Makna dan filosofi motif batik Sekar Jagad adalah keindahan dan keragaman budaya di seluruh dunia.

Dalam perkembangannya, batik-batik motif Sekar Jagad dirangkai dengan motif khas Banyuwangi lainnya seperti motif Gajah Uling, Klabangan, Moto Pitik, Blarak Sempal, Paras   Gempal, Kopi Pecah, dan Kangkung Setingkes. ”Hampir semua jenis motif batik khas Banyuwangi memiliki makna filosofi yang merupakan perwujudan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Banyuwangi,” tandas Sih Wahyudi.

(bw/ddy/als/JPR)

IKLAN