KEBANGGAAN: Syarifuddin mengenakan selempang cumlaude mewakili anaknya yang meninggal.

Melihat anak mengenakan toga saat wisuda sarjana tentu menjadi sebuah kebanggaan. Tapi sebaliknya bagi Syarifuddin ini membuat dia merasa sedih. Ya, dia harus mewakili anaknya yang meninggal sebelum diwisuda. Seperti apa kisahnya?

RAGIL LISTIYO, Sukoharjo, Radar Solo

HARU sekaligus bangga. Itulah yang dirasakan Syarifuddin yang menggantikan anak sulunganya, Syahrul Mubarak, 22, saat diwisuda menjadi sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta.

Syahrul merupakan mahasiswa IAIN Surakarta jurusan hukum keluarga Islam fakultas syariah. Syahrul telah berpulang pada 30 September lalu. Dia mengalami sakit-sakitan usai kerja maraton menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) pada Pemilu 2019.

“Selama di KPPS itu dia sering lembur sampai malam. Dan terakhir sampai Subuh itu. Setelah itu mulai sakit-sakitan sampai meninggal. Mungkin karena kecapekan,” kata warga Krendowahono, Gondangrejo, Karanganyar.

Syahrul terlibat dalam kegiatan pemilu setelah ditawari Syarifuddin menjadi KPPS Pemilu 2019. Saat itu Syahrul sering lembur hingga larut malam, bahkan sampai pagi. “Sejak itulah Syahrul mulai mengeluhkan sakit, lalu muncul benjolan di bagian leher bagian kanan,” kata Syarifuddin.

Sejak itu, pria kelahiran 30 Januari 1997 ini beberapa kali harus keluar masuk rumah sakit dan sempat menjalani operasi getah bening pada Juli lalu. Meski setelah operasi kondisi Syahrul sempat membaik, namun, selang tiga hari kondisinya kembali drop.

“Sempat bolak-balik rumah sakit dan operasi. Dan meninggal 30 September lalu. Saya tidak menyangka ribuan orang melayat, dari dosen sampai teman-temannya,” katanya.

Sebelum meninggal, Syahrul telah menyelesaikan sidang skripsi. Masuk kuliah sejak 2015 lalu, Syahrul memang dikenal aktif mengikuti kegiatan di luar kampus. Syahrul juga dikenal sering mengikuti salawatan di berbagai daerah.

Pasca meninggalnya Syahrul, Syarifuddin tidak menaruh harap anaknya bisa mengikuti wisuda. Hingga beberapa hari sebelum wisuda, pihak kampus menghubunginya dan mendapatkan surat kelulusan anaknya dan undangan wisuda.

“Saya bersama istri Sri Nuryati Jamil mewakili wisuda Syahrul. Alhamdulillah, nilainya termasuk yang tertinggi di jurusannya. IPK-nya 3,70 dan berhasil selesai tepat waktu,” katanya yang terdengar getir.

Dengan masih mengenakan selempang cumlaude, Syarifuddin mengaku bangga dengan anaknya. Setidaknya setelah empat tahun mengantar anaknya ke bangku kuliah, dia bisa datang di wisuda anaknya.

“Kami bangga meski Syahrul sudah berpulang duluan. Semoga Syahrul husnul khatimah. Anaknya memang aktif. Suka keluar malam dan ikut salawatan. Semoga ibadahnya diterima disisi-Nya,” imbuhnya.

Suasana haru juga menyelimuti suasana wisuda ke 42 IAIN Surakarta ketika Syarifuddin naik ke atas panggung mewakili anaknya. Hingga Rektor IAIN Surakarta Mudhofir turut meneteskan air mata.

“Saya sempat menangis tadi karena kemarin tidak ikut gladi bersih. Dan ternyata sekarang ada salah satu wisudawan yang tidak bisa diwisuda karena telah dipanggil oleh Allah SWT,” kata Mudhofir ketika memberikan sambutan. (*/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

IKLAN