Mengenal Tiga Wisudawati Polije Terbaik

Ada yang Suka Pinjam Uang Kas, hingga Ingin Student Exchange

BEST POLIJE: Dari kiri, Feny Puspitasari, Richa Erlita Oktaviana, dan Mila Fitria Irawan. Ketiganya adalah lulusan terbaik Polije yang diwisuda hari ini di Gedung Juang Polije.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Punya indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,9 bukan hal yang mustahil bagi ketiga wisudawati terbaik Politeknik Negeri Jember (Polije) yang diwisuda hari ini. Mereka adalah Feny Puspitasari, Richa Erlita Oktaviana, dan Mila Fitria Irawan. Masing-masing punya kisah tersendiri. Ada yang balas dendam, tak punya uang saku, hingga terinspirasi dari sang ibu.

Pipi perempuan berkerudung itu langsung mengembang kala memasuki ruang Humas Polije. Senyum manis Richa Erlita Oktaviana ini berkat prestasinya mendapatkan IPK 3,93. Capaian nilai dalam menempuh pendidikan tinggi tersebut dipersembahkan untuk ibu dan ayahnya yang baru saja tiada. “Ayah saya September kemarin baru meninggal,” papar perempuan yang mengambil program studi produksi ternak tersebut.

Walau ayahnya baru saja tutup usia, tapi yang menghidupi keluarganya adalah ibu. Sebab, sejak ia kelas III SD, mata sang ayah sudah mulai rabun akibat diabetes dan tak bisa bekerja seperti biasanya. Ibunya, Sri Sumarni, langsung mengambil alih usaha keluarga di bidang pertanian. Semangat ibunya itulah yang juga membuat Richa tak mau menyepelekan soal pendidikan. “Kata ibu, mewarisi uang itu bisa habis, tapi kalau ilmu itu sampai mati,” tambahnya.

Richa kuliah di Jurusan Peternakan Polije. Saat memilih jurusan itu, dia sempat ditentang oleh orang tua dan keluarganya. Rata-rata keluarganya kuliah di bidang kesehatan. “Jadi, banyak yang nggak setuju,” ucap perempuan asal Banyuwangi ini.

Keyakinan dia memilih peternakan karena dinilai punya masa depan yang bagus. Selain itu, juga ada keinginan ikut program student exchange atau pertukaran mahasiswa. Richa adalah salah satu mahasiswa Polije yang pernah mencicipi kuliah di Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational Collage, Tiongkok. “Saya ingin ikut pertukaran mahasiswa, akhirnya kesampaian juga,” jelasnya.

Tak hanya Richa yang punya IPK tinggi, Fenny Puspitasari, mahasiswa D-4 Manajemen Agribisnis juga punya IPK sama dengannya, yakni 3,93. Perempuan asli Situbondo ini justru mendapatkan rintangan berat pada semester pertama kuliahnya. Uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp 4 juta per semester menjadi beban tersendiri bagi keluarga Fenny. “Uang saku saja per bulan Rp 250-200 ribu,” tambahnya.

Itu karena pekerjaan orang tuanya hanya sebagai sopir panggilan, sehingga penghasilannya tak menentu. Sementara itu, ibunya hanya membantu lewat orderan menjahit. Beruntunglah, semester kedua, Fenny mendapatkan beasiswa penurunan UKT dan hanya membayar Rp 500 ribu per semester.

Beda lagi dengan yang dialami Mila Fitria Irawan, peraih IPK tertinggi lainnya. Mahasiswa alih jenjang dari D3 Agribisnis ke D4 Manajemen Agribisnis ini juga meraih IPK 3,91. Perempuan asal Situbondo pada awal kuliah di jenjang D3, bukan peraih IPK tertinggi. Bahkan, pada semester awal dirinya pernah dicemooh dengan prestasi akademiknya tersebut. “Awal kali masuk kuliah IP saya sudah bagus, tapi sempat dicemooh dan diremehkan teman-teman. Bilangnya kebetulan, dan nanti pasti nilainya turun,” ungkapnya.

Dia mengaku, karena diremehkan itu motivasinya terus tumbuh. Dia kemudian konsisten belajar dan bertekad mendapatkan nilai sempurna. Karena, selain ingin balas dendam, dia juga ingin membuktikan kepada orang-orang yang mencemoohnya itu, bahwa mereka salah. “Saya dulu bukan IPK terbaik dan tertinggi. Makanya kuliah alih jenjang ini harus jadi yang terbaik,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih