Gawai (Gadged) memiliki pesona luar biasa. Setiap waktu gawai selalu disanding dan di-elus-elus.  Fenomena spesial, dan ini menjadi ciri khas  era revolusi 4.0, dimana jaringan yang digunakan berbasis www (word wide web). Berbeda dengan zaman old, sekarang, kita duduk saja bisa menjelajah dunia, jari tinggal klik semua beres. Mau makan ada go food, mau pergi ada go grab, dan sejumlah aplikasi tersaji dengan baik. Kita menjadi ibarat raja, dimanjakan oleh gawai, dan jika kantong tebal dunia sudah berada dalam genggaman.  Masalahnya, bagaimana implikasinya pada pendidikan dan internalisasi niai-nilai karakter religius?

Jika kita kaji lebih intens, fenomena seperti ini telah menjadi fenomena kehidupan manusia tak terkecuali kehidupan peserta didik. Duri yang pedihnya tak terperikan mulai dirasakan semua kalangan, dan tanpa disadari pula bahwa revolusi 4.0 telah melahirkan generasi “socio-idiot”. Yakni generasi yang tidak memiliki kemampuan untuk mandiri, geneasi yang tidak peka dan generasi yang kehilangan solidaritas sosial, dan asyik dengan dunianya sendiri, seolah-olah duniaku selalu lebih hebat dari orang lain.

Informasi hoaks sering dicari yang penting banyak follower saja langsung viral. Tidak peduli benar ataukah salah, sehingga semuanya menjadi semu. Sejumlah aplikasi kemudahan tersaji dengan apik, maka peran pendidikan menjadi penting untuk mendeteksi dan mengontrol kecanduan sebagai implikasi munculnya era baru yang disebut era 4.0, dimana sosial media menjadi pemicu utama.

Fenomena ini penting dikemukakan, karena kecanduan gawai sudah terjadi secara berjamaah, konsumsi ringan yang sering kita sebut social media (sosmed) atau media sosial (medsos) sering diklaim sebagai  hiburan ampuh dan sebagai sarana rekreasi ringan, tapi jarang yang menyadari bahwa itu beresiko besar. Perkembangan facebook, twitter, whatsapp, instagram, youtube, tik tok dan lain-lain, semua tidak mempersyaratkan usia, dan jenis kelamin, bahkan “dedek bayi” yang baru lahir sudah dikenalkan menjadi member dari aplikasi tersebut. Akibatnya mainset bangsa berubah, nilai-nilai kebenaran terus dipertanyakan. Guru yang sebelumnya menjadi sumber utama yang menjadi rujukan peserta didik, kini, guru telah diposisikan hanya salah satu sumber, bahkan kehadiran guru menjadi kurang bermakna jika guru berhenti belajar dan update informasi.

Hasil survei liputan6.com (13 September 2019) terhadap 1.500 remaja dan dewasa muda menunjukkan bahwa instagram adalah medsos terburuk untuk kesehatan mental dan kesejahteraan. Platform ini  juga terkait dengan tingkat kecemasan, depresi, bullying, dan Pleasure of Missing Out (POMO). Ketakutan bahwa orang lain sedang mengalami kejadian menyenangkan, sedang ia merasa tidak terlibat. Hasil survei tersebut sekaligus mengindikasikan perlunya mempersiapkan peserta didik berhasil menyikapi sosial media. Sangat diperlukan relevansi implementasi tujuan pendidikan nasional dengan tujuan pendidikan di sekolah, karena tujuan pendidikan nasional menciptakan kekuatan pendidikan karakter, sehingga pengelola satuan pendidikan perlu mempersiapkan nilai-nilai penopang kekuatan pendidikan karakter dimaksud.

Ketika eranya berubah, maka menjadi tidak mungkin kita menggunakan cara lama, strategi lama dan manajemen masa lalu. Munculnya design pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang membimbing peserta didik di era 4.0. Menurut J. Sumardianta & Wahyu Kris AW (2018), ada lima (5) ketrampilan yang harus diajarkan di sekolah, yakni: (1) kreativitas, (2) kecerdasan emosional, (3) kolaborasi, (4) penyelesaian masalah kompleks, dan (5) fleksibilitas kognitif. Generasi era revolusi 4.0 lebih mudah mengakses informasi dari gawai dan kemudahan teknologi. Tentunya kecerdasan emosional menjadi salah satu ketrampilan yang harus dimiliki agar terhindar dari informasi hoaks, pertikaian, adu domba, dan kerusakan mental lainnya.

Secara teoritis, menurut Ridwan Abdullah Sani (Pembelajaran Berbasis HOTS, 2019) kerangka kompetensi abad ke-21 bahwa menyajikan pelajaran pokok (core subject) saja tidak cukup, ada tiga pelengkap yang sangat diperlukan, yakni: (1) kemampuan keatif, (2) berkarakter kuat (bertanggung jawab, sosial, toleransi, produktif, adaptif, dan sebagainya, (3) kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi. Menurut Thmas Lickona (Educating For Character, 2012) karakter seseorang dapat diamati dari tiga aspek, yaitu: mengetahi kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good),m dan melakukan kebaikan (doing the good).

Penerapan pendidikan karakter religius akhir-akhir ini semakin penting dikaji dan diterapkan, bukan hanya di sekolah, tetapi di lingkugan keluarga dan lingkungan sosial lainnya. Bukan hanya untuk anak-anak dan remaja, tetapi juga untuk kalangan pemuda dan orang tua, agar keberlanjutan generasi dan bangsa ini lebih baik dari waktu ke waktu. Karena karakter religius merupakan karakter yang melekat pada diri seorang sebagai identitas diri, ciri, kepatuhan, dan lain-lain. Performance karakter religius akan menjadikan orang lain merasa penting mencontoh, sehingga akan muncul komunitas yang baik. Religiusitas karakter akan memancarkan sinar keteladanan. Dan, tokoh teladan terpentingnya adalah Nabi Muhammad Saw.

Religiusitas yang sudah membentuk kepribadian seseorang sebagai berkarakter religius. Karakter religius akan terekspresikan pada pengetahuan, sikap dan perilakunya. Pengetahuan orang berkarakter religius adalah pengetahuan yang akan berorientasi kemashlahatan, akan bertutur kata yang baik, jujur, dan menghhindari hoaks. Sikap orang berkarakter religius akan mencerminkan sikap yang santun, selalu senyum secara proporsional, selalu mendahuui salam ketika berjumpa, selalu menjalin hubungan silaturrahim. Demikian pula, perilaku orang berkarakter religius akan mendahulukan salam, kedamaian, kebersamaan, anti pecah belah dan provokasi.

Model pendidikan karakter religius peserta didik harus lebih di intensifkan agar peserta ddik memiliki ketahanan sekaligus bisa mengantisipasi potensi negatif era 4.0. Salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah pengembangan kemampuan mengabdikan diri kepada Tuhan yang menciptakannya, kemampuan menjadi diri sendiri, kemampuan untuk bisa hidup secara harmonis dengan sesama manusia dan alam sekitar dan kemampuan menjadkan dunia ini sebagai wahana menggapai kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Dan, yang bersangkutan akan sadar bahhwa dunia memang tercipta untuk manusia, tetapi manusia dicipta bukan untuk dunia, melainkan untuk mengabdi dan mewujudkan kemashlahatan.

    Perlunya membangun nilai karakter religius bagi peserta didik di era revolusi industri 4.0 menjadi salah satu solusi dalam menyiapkan generasi masa depan yang memiliki kekuatan karakter, khususnya karakter religius. Era ini sungguh menawarkan banyak peluang, akan tetapi sekaligus menghadirkan banyak tantangan bagi dunia pendidikan. Lembaga pendidikan yang beragam dengan berbagai strata perlu selalu menginternalisasikan nilai-nilai karakter religius. Karena, karakter religius bersumber dari kebenaran mutlak, kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah Swt menegaskan “Yaa ayyual ladziyna amanut taqullah, wal tandlur nafsun maa qaddamat lighadz,/ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Al-Hasyr, 18)”

Oleh karena itu, ibarat anak panah, ujung anak panah pendidikan karakter religius adalah nilai-nilai karakter religius itu sendiri, berupa nilai keimanan, nilai ketaqwaan, niai kemashlahatan, nilai masa depan, dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut secara empirik akan mewarnai karakter lainnya dalam menghadapi peluang dan tantangan masa kini dan masa depan (DK).

IKLAN