Ajang WHRCF, PBB Beri Apresiasi Khusus Bupati Faida

PENUHI HAK RAKYAT: Bupati Jember dr Hj Faida MMR saat memaparkan pemikirannya dalam ajang The World Human Right Cities Forum (WHRCF) di Quwangju, Korea Selatan (18/9).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Komisioner United Nations High Commissioner for Human Rights (UN OHCHR) Michelle Bachelet, memberikan apresiasi khusus terhadap perjuangan Bupati Jember dr Hj Faida MMR atas komitmen dan perjuangannya dalam memenuhi prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satunya dalam memberikan hak yang sama kepada perempuan dalam berkarya.

“Jember telah memberikan akses yang sama bagi perempuan untuk kesempatan bekerja,” ujar Michelle Bachelet. Hal ini disampaikan Michelle Bachelet dalam tayangan video di hadapan ratusan peserta dari 40 negara dalam ajang The 9th World Human Right Forum (WHRF) di Quwangju, Korea Selatan (18/9).

Menurut Michelle Bachelet, saat ini banyak pemerintah daerah yang memberikan dukungan, sekaligus memperjuangkan hak-hak perempuan. Dijelaskan, ajang WHRCF telah menginspirasi banyak pemerintah daerah dalam pemenuhan hak asasi manusia.

Hal senada diungkapkan Beka Ulung Hapsara, Komisioner Komnas HAM RI yang juga hadir dalam ajang WHRCF di Korea. Dikatakan, selaku Komisoner Komnas HAM, pihaknya cukup bangga, ternyata pelaksanaan HAM di Jember dapat pujian dari komisioner PBB yang memang menaruh atensi khusus pada pelaksanaan kota HAM di Jember. “Saya kira, itu merupakan langkah maju, bukan hanya untuk Jember tapi juga untuk daerah lainnya,” ujarnya

Ditambahkan, pujian PBB terhadap komitmen Bupati Faida ini bukannya tanpa alasan. Dikatakan, PBB menilai, Jember dianggap sebagai salah satu inovator pelaksanaan kota HAM di Indonesia yang bisa menjadi contoh kota-kota lain di Indonesia dan negara lain.

“Dampak-dampaknya terukur. Terpenting bisa menjadi inspirasi kota-kota lain di berbagai negara,” ujarnya. Apalagi Jember sudah punya nama dan tidak lama lagi pada bulan November akan ada Festival HAM di Jember yang juga akan dihadiri peserta dari berbagai negara.

Tidak heran dengan berbagai pujian dari berbagai pihak ini, dalam ajang WHRCF di Korea, Bupati Jember dr Hj Faida MMR dipercaya menjadi salah satu nara sumber utama. Bupati Faida diminta berbagi pengalaman dengan peserta WHRCF dari kota-kota Indonesia dan negara lain. Tidak hanya itu, Bupati Faida juga diminta memaparkan pemikirannya dalam ajang-ajang diskusi lainnya. Setidaknya, ada tiga ajang diskusi dalam rangkaian kegiatan WHRCF yang meminta Bupati Faida sebagai nara sumber.

Terkait pujian khusus dari PBB terhadap Jember, Bupati Jember dr Hj Faida MMR menjelaskan, pujian itu menjadi penyemangat bagi Jember agar lebih baik lagi. Sebab, masih banyak yang harus dibenahi agar hak-hak warga bisa terpenuhi.

Menurut Faida, perempuan tidak harus mampu melakukan segala hal dan tidak pula harus menguasai segala bidang untuk dapat menginspirasi orang lain.

“Perempuan harus mengenali potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Terpenting, perempuan mempunyai kesetaraan kesempatan berkarya. Kunci utamanya, kata dia, kembali pada sosok perempuan dalam membangun motivasi diri.

“Maupun memupuk kompetensi pribadi,” ujar bupati peraih penghargaan Satya Lencana dari Presiden ini.

Ditambahkan, dalam berkarya, semua mempunyai kesempatan sama. Pria memang pemimpin dalam keluarga. Namun dalam dunia kerja, semuanya haruslah mengacu pada ketentuan dan aturan organisasi (institusi) berada, dimana ada kesamaan kesetaraan kesempatan dalam berkarir, baik itu perempuan maupun laki-laki. Semuanya didasarkan pada pertimbangan kompetensi.

“Saya telah berjanji kepada masyarakat saat maju sebagai calon Bupati Jember akan mewujudkan 22 Janji Kerja. Dari 22 Janji Kerja tersebuat antara lain memberikan kesempatan yang sama dalam hak dasar mendapatkan pendidikan dan kesehatan. Termasuk kesempatan yang sama dalam berkarya, baik laki-laki maupun perempuan,” tegasnya. Salah satunya ada program Satu Desa Satu Ambulans dan Pemberian beasiswa hingga jenjang pendidikan perguruan tinggi.

“Saya bersyukur, semua desa kini sudah memiliki ambulans desa dan mendapatkan layanan gratis ambulan desa,” ujarnya. Kini, masyarakat Jember juga bisa mengenyam pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi, karena sudah disediakan beasiswa gratis. Tercatat, sudah ada 10.000 beasiswa yang diberikan Pemkab Jember baik untuk biaya hidup maupun biaya kuliah.

Penerima beasiswa juga dari berbagai kalangan, terutama untuk warga miskin, disabilitas, hingga yang berprestasi. “Semua punya hak sama dalam mendapatkan pendidikan layak. Baik yang kaya maupun yang miskin. Membangun Jember Sejatinya Membangun Sumber Daya Manusia,” tambahnya.

Faida melihat, Forum Kota Dunia Hak Asasi Manusia tahun ini di Gwangju bisa menginspirasi banyak orang untuk menyamakan persepsi dan langkah dalam mewujudkan pemenuhan hak-hak warga. Terutama, pemenuhan hak dasar akan kebutuhan pendidikan, kesehatan, serta kesamaan hak dalam berkarya. Baik untuk laki-laki maupun perempuan, baik yang kaya maupun yang miskin. Termasuk mendapatkan akses yang sama dalam pemenuhan fasilitas ruang publik untuk para disabilitas, ibu-ibu, dan anak-anak.

”Pemkab Jember juga membuat kebijakan melalui Peraturan Bupati (Perbup) yang mengharuskan bagi perusahaan untuk mempekerjakan 1 persen formasi untuk kalangan penyandang disabilitas. Sekaligus mensyaratkan pembangunan gedung baru harus bisa diakses penyandang disabilitas dan semua fasilitas layanan publik harus ramah difabel. (*/kl)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :