Kentrung Djos, Kesenian yang Tetap Bertahan di Era Milenial

MASIH EKSIS: Penampilan Kentrung Djos di Festival Pertunjukan Rakyat Jawa Timur di Magetan, bahkan grub kesenian tradisional itu mampu mengukir prestasi sebagai juara satu penyaji terbaik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesenian tradisional seperti Kentrung di era milenial mampu bertahan, bahkan kesenian tersebut masih diminati dan tidak pernah sepi penonton dalam setiap penampilannya.

Ilham Zoebazary, personil Kentrung Djiwa Orang Sastra (Djos) Jember, mengatakan bahwa grup Kentrung yang didirikan tahun 1982 itu tercatat telah naik panggung sebanyak 250 kali. “Kentrung Djos ini beranggotakan mahasiswa Fakultas Sastra yang sekarang menjadi Fakultas ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, saat ini memasuki usia 37 tahun dan tetap eksis dan diundang di berbagai tempat untuk tampil,” ungkap Ilham.

Supartu, salah seorang personil Kentrung Djos juga menyampaikan bahwa kunci sukses Kentrung Djos bisa menapaki usia lebih dari tiga puluh lima tahun, karena mampu mengikuti perkembangan jaman. “Meski Kentrung ini termasuk kesenian jadul, namun mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi sekarang,”kata Supartu.

Pencipta lagu Pandalungan itu menambahkan, lakon pertunjukan Kentrung Djos tidak berkutat pada cerita rakyat, namun meramu persoalan kontemporer saat ini dan sedang naik daun di masyarakat. Kiat itu pun membuahkan hasil, di awal bulan Oktober 2019, kesenian itu berhasil tampil apik dan jos di Festival Pertunjukan Rakyat Jawa Timur di Magetan serta mampu meraih juara satu penyaji terbaik.

IKLAN

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Istimewa

Editor :