Selama bulan September 2019, kami diundang sebagai narasumber sejumlah workshop dan seminar tentang Pendidikan Agama Islam (PAI), mulai lvel kabupaten, propinsi sampai nasional, seperti: di Jember dengan komunitas Guru PAI, di Bondowoso dengan Guru-guru PAI, di Surabaya dengan seribu lebih yang sebagian besar Mahasiswa S2 PAI se Jawa Timur, juga di Jember dengan Guru-guru PAI yang sedang mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Bahkan kami juga nemani mahasiswa S2 yang sedang presentasi karya ilmiah di beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan Singapura.

Secara profesional, kami paling semangat jika diajak membincang tentang PAI, karena sejak Indonesia merdeka, pendidikan agama termasuk salah satu topik yang sering diperdebatkan. Perdebatan terjadi di sepanjang sejarah orde lama, orde baru dan reformasi. Oleh karena itu, menjadi penting untuk dikaji tentang peran Guru PAI dan bagaimana Guru PAI menyikapi perubahan.

Guru PAI adalah pendidik yang mengajarkan kepada peserta didik bidang studi pendidikan agama Islam. Dalam Undang-undang Republik Indnesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 6 dinyatakan bahwa: “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”. Selanjutnya, pendidik secara khusus tercantum pada bab XI pasal 39, pada butir (2) yang dinyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada msyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi, dan butir (3) yang dinyatakan bahwa pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasatr dan menengah disebut guru dan pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen.

Dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa seorang pendidik haruslah profesional melaksanakan tugasnya yakni memiliki kemampuan untuk mengajar, mendidik, membimbing, melatih dan menilai peserta didik. Agar pendidik dinyatakan profesional, maka pendidik wajib memenuhi indikator-indikator yang dinyatakan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2004 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasiional. Dalam hal kompetensi, seorang pendidik secara umum harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial, dan bagi Guru PAI harus memiliki kompetensi leadership dan kompetensi spiritual.

Salah satu aspek penting mengenai peranan, fungsi dan tanggung jawab Guru PAI, adalah bahwa dalam melaksanakan profesinya dituntut dan berkewajiban mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan “meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur dan berdasarkann Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia”.  Dalam kalimat ini sangat jelas, bahwa setiap pendidik, apapun bidang studi yang diajarkan, baik berstatus sebagai guru negeri maupun guru swasta, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia ini mempunyai peranan, fungsi dan kedudukan yang salam dan posisi yang sangat strategis dalam mewujudkan pembangunan nasional, sehingga mereka layak untuk memperoleh perhatian dan penghargaan, karena profesinya yang sangat mulia dan bermartabat.

Khusus Guru PAI, fungsi penting terhadap tercapainya tujuan pendidikan nasional adalah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, pasal 12 poin (1) adalah untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia serta mampu menjaga kedamaian dan kerukunan inter dan antar umat beragama. Fungsi ini dapat terlaksana apabila Guru PAI secara khusus mampu melaksanakan tugasnya untuk mencapai tujuan dari pendidikan agama. Dalam PP No 55 tahun 2007 pasal 12 poin (2) dijelaskan bahwa tujuan dari pendidikan agama adalah untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Tujuan PAI ini mengisyaratkan bahwa PAI yang diajarkan oleh Guru PAI pada peserta didik hendaknya bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan seni.

Banyak penilaian, langsung maupun tidak langsung, yang dikemukakan oleh pengamat terhadap kinerja Guru PAI, baik positif maupun negatif. Sebagian menilai, bahwa kinerja Guru PAI semakin  membaik, terutama jika dilihat dari berbagai fenomena aktivitas keagamaan dan simbol-simbol keagamaan yang berkembang di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain ada yang menilai, bahwa masih banyak kinerja Guru PAI yang belum optimal, kalau tidak dikatakan gagal, indikator umum yang sering dikemukakan adalah karena masih banyaknya patologi sosial dan alumni satuan pendidikan yang berperilaku dan berkarakter menyimpang dari ajaran agama. Tentu banyak faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan kinerja Guru PAI, selain karena faktor internal Guru PAI juga karena faktor eksternal, termasuk political will, iklim satuan pendidikan, iklim keluarga, dan faktor lainnya.

Ada pertanyaan yang harus disikapi secara pro-aktif, kenapa PAI  termasuk bidang kajian yang dinamis?. Banyak argumen yang bisa dikemukakan, salah satunya, karena PAI bersentuhan dengan umat beragama, khususnya Umat Islam, dengan jumlah melebihi dua ratus juta jiwa. Tentu, warna-warni pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pandangan hidup dan nilai-nilai yang dianut dalam konteks kehidupan yang terus berubah ini. Ada tiga rasional yang harus dipahami guru, yakni perubahan zaman, perubahan kebijakan, dan perubahan expektasi masyarakat yang berpengaruh yang harus memperoleh apresiasi Guru PAI.

Dalam konteks perubahan zaman, tumbuh kembang PAI, tidak bisa terlepas dari peran Walisongo. Aktivitas PAI yang digagas para Walisongo, pada awalnya dilakukan dengan cara merintis pesantren  di wilayah masing-masing. Sunan Ampel dengan Pesantren Ampelnya, Sunan Bonang dengan Pesantrennya di Bonang Tuban, Sunan Drajat dengan pesantrennya di Drajat Lamongan, Sunan Giri dengan Pesantren Giri di Gresik, Raden Patah dengan Pesantren Demaknya dan sebagainya. Karenanya dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman tetapi sekaligus makna keaslian Indonesia. Namun harus dipahami, bahwa perubahan akhirnya tidak bisa dihindari, “continuity and change”, perubahan terus terjadi. Para Pengasuh dan aktivis pesantren kemudian berupaya mengembangkan nilai-nilai agama di sekolah. Kenapa?, karena ini adalah bagian dari missi keislaman yang harus dikembangkan melalui berbagai satuan pendidikan  dalam sistem pendidikan nasional.

Dalam konteks perubahan kebijakan, bahwa setiap kebijakan pasti berefect. Efek perubahan terhadap PAI dirasakan sejak amandemen IV UUD 1945 pasal 31, sebagai rujukan tertinggi dalam struktur perundang-undangan, semua aturan dibawahnya (undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri) tidak boleh bertentangan. Dalam perspektif PAI, setelah amandemen IV UUD 1945 pasal 31, diperkuat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, lalu terbit Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama dan Bahasa Arab di Madrasa, dengan PMA ini jelas memunculkan harapan baru bagi penguatan PAI di Indonesia.

Kedepan, research and development harus diperkuat, agar PAI mampu memberikan layanan yang lebih baik, karena, selama memasuki abad ke-21, kita menyaksikan berbagai patologi sosial terjadi di masyarakat dengan skala yang mengkhawatirkan. Guru PAI harus terus mengupayakan agar hal serupa tidak terjadi, minimal berkurang. Yang sangat membahagiakan, karena semangat Guru PAI dalam meningkatkan kompetensi dan misi PAI penting diapresiasi. Akhir-akhir ini, mahasiswa S2 di berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam dan bahkan Mahasiswa S3 memperoleh respons sangat positif. Mungkin, ini sebagai salah satu cara yang harus diikhtiarkan bersama karena dengan meningkatnya pengalaman, pendidikan dan pelatihan akan menjadikan Guru PAI lebih mampu menjalin sinergi, mengembangkan tradisi akademik dn berbagai exercise yang memberi jalan bagi anak-anak kita berprestasi secara spiritual, intelektual dan sosial. Ketika Guru PAI semangat belajar, insyaAllah menuarkan semangat belajarnya, dan akan menjadikan generasi mendatang lebih profesional, sekaligus lebih religius. Wallâhu a’lam…!

Prof. Dr. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Pengasuh PP Shofa Marwa, Direktur/Guru Besar Pendidikan Islam IAIN Jember daan Ketu Umum MUI Jember.

IKLAN