BERSEJARAH: Wakapolsek Gambiran Iptu Karyadi, anggota Bayangkari, siswa TK Bhayangkari 38 Gambiran dan wali murid tabur bunga di Monumen Pancasila Sakti di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, Selasa (1/10). (Bagus Rio/RaBa)

JawaPos.com – Para siswa TK Bhayangkari 38 Gambiran punya cara menarik dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kemarin (1/10). Mereka menggelar tabur bunga di lubang buaya Monumen Pancasila Jaya Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, Selasa (1/10).

Dalam acara itu juga ikut anggota Polsek Gambiran, anggota Bhayangkari Gambiran, dan wali murid. Di lokasi itu, para siswa TK Bhayangkari 38 Gambiran diperkenalkan dengan Pancasila, dan aksi kejam PKI yang telah membunuh 62 kader GP Ansor. “Ini untuk mengenang sejarah, dan menghormati para pahlawan yang sudah mendahului kita,” ujar Kapolsek Gambiran, AKP Sumaryata.

Dalam acara yang digelar sederhana itu, diawali upacara bendera dengan peserta siswa TK Bhayangkari 38 Gambiran, anggota Bayangkari Gambiran, dan anggota Polsek Gambiran, dan diakhiri tabur bunga di lubang buaya tersebut. “Tabur bunga itu simbol penghormatan kami kepada para pahlawan yang membela Pancasila,” katanya.

Menurut kapolsek, acara yang digelar dengan mengajak siswa TK Bhayangkari 38 Gambiran itu, untuk mengenalkan sejarah kepada anak sejak usia dini. Terutama memberikan pelajaran bagi mereka bahwa peristiwa G.30.S/PKI tidak boleh terulang. “Kita kenalkan kepada generasi muda untuk menjaga monumen Pancasila, dan selalu mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur,” ungkapnya.

Juru kunci lubang buaya Cemetuk Supringi mengatakan, di tahun 1965 ada 62 orang dibantai habis oleh PKI. Mayat para syuhada yang tercecer, dikuburkan di tiga lubang yang ada di Dusun Cemetuk, Desa Cluring ini. Ketiga lubang yang berada di belakang patung burung Garuda itu, berukuran tiga meter kali tiga meter, tiga meter kali empat meter, dan tiga meter kali 5,5 meter. “Bisa dibayangkan puluhan orang dikubur bersama,” ujarnya.

Para korban yang dikubur di lubang buaya itu, lanjut dia, tidak semua dibantai atau dibunuh di lokasi itu. Sebagian besar, dibawa ke lubang buaya setelah meninggal atau tidak berdaya. Aksi pembantaian dan pemakaman masal oleh PKI ini, tidak dilakukan pada 30 September 1965 seperti yang terjadi di Jakarta, tapi pada 18 Oktober 1965. “Puluhan orang yang dikuburkan di lubang tersebut, tidak ada yang tahu berapa orang setiap lubangnya,” terangnya.

(bw/rio/als/JPR)

IKLAN