Asman, Mantan Penderita TB yang Hampir Putus Asa

Selesai Minum Obat, Perut Saya Mual, Batuk, dan Sesak Napas

SEHAT: Asman mantan penderita TB MDR yang sehat kembali lantaran mendapat dukungan penuh dari keluarganya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit multidrug resistant tuberculosis (TB MDR ) yang diderita oleh Asman sempat membuatnya putus asa. Sebab, dia tak bisa makan dan minum. Namun, dia menjadi salah satu orang yang berhasil melawan penyakit itu.

NUR HARIRI, Jember Kidul , Radar Jember .

Terik matahari begitu menyengat, siang kemarin (29/9). Asman, mantan penderita multidrug resistant tuberculosis (TB MDR ) sudah tak takut lagi terpapar hawa panas. Sebab, dia sudah sembuh dari penyakit yang mematikan tersebut.

Dulu, Asman begitu takut keluar rumah, karena mudah sesak napas. Tetapi, setelah sembuh, dia pun kembali hidup normal seperti banyak orang.

Pria yang kini berusia 73 tahun itu tinggal di RT 1 RW 18, Lingkungan Ledok Kebon Lor, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Asman menceritakan penyakit TB yang dideritanya.

TB yang dideritanya berawal dari menyepelekan gejalanya. Dia tak menghiraukan tanda-tanda penyakit tersebut. Padahal, sudah mengalami sakit batuk sejak bekerja di saluran instalasi listrik.

Setelah itu, dia bekerja di gudang tembakau untuk melanjutkan perjuangannya sebagai kepala rumah tangga. “Begitu berhenti di instalasi, saya sempat bekerja di gudang tembakau. Nah, sakit saya mulai bertambah saat bekerja di gudang. Akhirnya, saya putuskan berhenti,” jelasnya.

Sayangnya, sakit TB yang dideritanya bertambah parah. Asman kerap batuk-batuk. Bukan hanya itu, pernapasannya juga terganggu karena diduga sakit pada bagian paru-parunya. Pria empat anak itu akhirnya mendatangi salah satu rumah sakit yang ada di Jember.
Ternyata, diketahui bahwa dia menderita sakit TB. Kondisi itu terjadi karena gejala TB tak dihiraukan. “Setelah opname dua minggu, saya pulang ke rumah. Saat itu sempat sembuh,” ucapnya.

Tak disangka, sakit yang dideritanya kambuh. Kali ini, bukan hanya batuk-batu dan sesak napas. Akan tetapi, perutnya mual-mual. “Saya kira kambuh biasa. Tetapi, malah tambah parah,” jelasnya.

Lantaran jatuh sakit kembali, Asman kemudian dirawat lagi di rumah sakit. Jika sebelumnya swasta, kali ini dirinya dirawat di Rumah Sakit Paru Jember. Sakit kambuh yang dideritanya justru semakin akut. Asman menyebut, selain batuk dan sesak napas, perutnya selalu mual sekitar tiga bulan lamanya.

Dari kurun waktu tiga bulan tersebut, setidaknya sekitar dua bulan dirinya mual dan muntah berkali-kali. “Apalagi setelah minum obat. Sakitnya itu di sini,” kata Asman sambil memegang bagian perut dan dadanya.

Pada puncak sakit sekitar dua bulan tersebut, Asman mengaku dirinya nyaris putus asa. Asman sempat menolak dan tidak mau minum obat resep dokter. Akan tetapi, Pendamping Sosial Masyarakat (PSM) Kabupaten Jember bersama keluarganya terus memberi motivasi agar resep dokter terus dikonsumsi.

“Saya hampir putus asa. Karena saat selesai minum obat, perut saya mual. Batuk dan napas sesak. Persendian saya juga sakit karena tubuh sudah sangat lemah. Tetapi, berkat dukungan keluarga dan banyak pihak, saya semangat lagi,” paparnya

Berangkat dari dukungan itulah, Asman tetap mengonsumsi obat seperti yang dianjurkan tim medis. Dia merasakan manfaat apa yang dijalani saat memaksa diri meminum obat.

“Obatnya kan banyak. Ada yang 12 macam. Kemudian ada yang tujuh macam. Karena didukung keluarga, saya pun mengikuti saja anjuran dokter,” ulasnya.

Suami dari Jasmi, 64, ini mengaku, perjalanan panjang pengobatan medis dijalaninya dengan sabar. Setelah puncak sakit sekitar dua bulan berlalu, Asman merasakan manfaatnya. Sakit batuk, sesak napas, serta mual-mual yang sempat akut mulai berkurang. Dia pun yakin jika dirinya bisa sembuh.

“Tanpa ada dukungan keluarga, saya rasa akan sulit melewatinya. Untuk itu, keluarga siapa saja di Jember jangan meninggalkan keluarganya yang sedang sakit TB. Bantulah dia agar bisa semangat. Saya saja selama dua bulan itu seperti tidak bisa makan. Hanya imfus. Jadi, dukungan keluarga sangat penting,” pesan Asman.

Begitu kondisinya mulai berangsur pulih, Asman yang selalu dianjurkan makan akhirnya memaksakan dirinya untuk makan. Saat itu, kondisi tubuhnya sangat kurus. Pendengarannya terganggu akibat TB MDR yang akut. Bahkan, kulit Asman sebagian ada yang menghitam.

“Setelah sakit parah dua bulan, setelah itu saya makan empat kali sehari. Saya sadar saya perlu makan. Tubuh sudah kurus. Dari empat kali makan itu ada yang muntah lagi. Tetapi, saya tetap semangat agar tubuh saya ada gizinya,” tambahnya.

TB MDR yang dideritanya tidak sampai menular kepada keluarganya. Asman yang sembuh sekitar enam bulan lalu mengaku sangat senang. “Kata dokter, saya sudah sembuh. Saya hanya berpesan kepada semua warga yang sakit TB agar semangat. Jangan malas minum obat, dan kalau bisa tetap makan walau ada yang keluar lagi,” pungkasnya.

Ketua Pendamping Sosial Masyarakat (PSM) Jember Imam Hariyadi membenarkan, kunci agar bisa sembuh dari TB MDR harus ada semangat dari penderita itu sendiri. Artinya, dia bersemangat untuk melalui proses pengobatan yang mungkin membosankan.

“Dukungan keluarga juga sangat penting untuk membangkitkan semangat pasien,” tegas pria yang setiap harinya bekerja mendampingi pasien yang menemui kendala dalam proses pengobatan di rumah-rumah sakit tersebut.

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi